telah tercatat kekalahan yang lalu
kala luka duka yang menyapa
pedih nyeri pilu menyayat qalbu
saat berteduh ditengah gersangnya gurun membara
menyusun pasir membangun benteng ditengah hujan dan badai yang kian menggila
parau berteriak
letih menggapai melambai
akankah asa kan sirna ???
dulu...
tertatih langkah tersaruk tiada arah
telusuri gersang tandus gurun dalam lapar dahaga
bersiur angin terbangkan pasir menerpa wajah
pejamkan mata dalam lelap
seolah gurun menjelma bak bentangan samudera
berbau anyir berwarna merah
kelu lidah memanggil
letih tangan menggapai melambai
namun...
darah kembali tertumpah ditengah gurun peradaban brutal menggila dalam euforia
sisakan tanya yang enggan terbuka jawabnya
ketika penjagal nyawa kembali berpestapora patahkan langkah
tiada riuh lagi gelora syahid atau menang terdengar dijiwa
kini..
kuarungi kembali samuderaMU
tumpahkan airmata keluhkesah resah amarah kelaut luka duka
tinggalkan dunia gurau canda, rumus dan angka
tempa gumpalan hati yang rapuh
bak muslimah menutup aurat kenakan jilbabnya
agar nafsu tiada lagi liar dan jalang meronta
jiwa berpadu dalam qalbu
telusuri asmaMU dalam dawam dikediaman ditengah samudera
berpacu asa
terucap hasrat yang kian menyala
kembali lah memijak tanah
lanjutkan langkah menuju pintu memasuki rahasiaNYA
agar
batin tiada lagi sesat menerawang diambang senja
gelisah sirna diambang senja mencari bias sinarNYA
bergejolak meronta jiwa
kala menengadah terlihat langit jingga
hiasi angkasa bak lelehan darah dari neraka
panas dingin menerpa wajah dan raga
duhai hasrat qalbu yang menikam mata bathin
torehan luka dalam bayang-bayang masa
meronta kala dawam tiada berbilang berpadu riuh kidung kalam getarkan seluruh indera
iringi langkah dikeremangan senja telusuri belukar lalui lembah dusta
mengejar bias cahaya dimushalla tua
semoga asa tiada lagi sirna !!!
kala luka duka yang menyapa
pedih nyeri pilu menyayat qalbu
saat berteduh ditengah gersangnya gurun membara
menyusun pasir membangun benteng ditengah hujan dan badai yang kian menggila
parau berteriak
letih menggapai melambai
akankah asa kan sirna ???
dulu...
tertatih langkah tersaruk tiada arah
telusuri gersang tandus gurun dalam lapar dahaga
bersiur angin terbangkan pasir menerpa wajah
pejamkan mata dalam lelap
seolah gurun menjelma bak bentangan samudera
berbau anyir berwarna merah
kelu lidah memanggil
letih tangan menggapai melambai
namun...
darah kembali tertumpah ditengah gurun peradaban brutal menggila dalam euforia
sisakan tanya yang enggan terbuka jawabnya
ketika penjagal nyawa kembali berpestapora patahkan langkah
tiada riuh lagi gelora syahid atau menang terdengar dijiwa
kini..
kuarungi kembali samuderaMU
tumpahkan airmata keluhkesah resah amarah kelaut luka duka
tinggalkan dunia gurau canda, rumus dan angka
tempa gumpalan hati yang rapuh
bak muslimah menutup aurat kenakan jilbabnya
agar nafsu tiada lagi liar dan jalang meronta
jiwa berpadu dalam qalbu
telusuri asmaMU dalam dawam dikediaman ditengah samudera
berpacu asa
terucap hasrat yang kian menyala
kembali lah memijak tanah
lanjutkan langkah menuju pintu memasuki rahasiaNYA
agar
batin tiada lagi sesat menerawang diambang senja
gelisah sirna diambang senja mencari bias sinarNYA
bergejolak meronta jiwa
kala menengadah terlihat langit jingga
hiasi angkasa bak lelehan darah dari neraka
panas dingin menerpa wajah dan raga
duhai hasrat qalbu yang menikam mata bathin
torehan luka dalam bayang-bayang masa
meronta kala dawam tiada berbilang berpadu riuh kidung kalam getarkan seluruh indera
iringi langkah dikeremangan senja telusuri belukar lalui lembah dusta
mengejar bias cahaya dimushalla tua
semoga asa tiada lagi sirna !!!
semoga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar