Senin, 02 Januari 2012

Koleksi Artikel


"Shalat itu tiang agama.
Barangsiapa yang melaksanakannya, ia telah mendirikan agama.
Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun telah menghancurkan (agama) nya."
Shalat merupakan salah satu kewajiban umat Islam yang paling penting setelah seorang muslim mengikrarkan diri dengan kalimat syahadat "laa ilaaha illallah muhammad rasulullah"
 ada banyak ayat dan hadits yang menjelaskan pentingnya kewajiban shalat diantaranya:

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku' lah beserta orang-orang yang ruku'." (QS. Al-Baqarah:43)"

Dari Ibnu Umar radiallahu anh berkata,
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
`Bangunan Islam ditegakkan diatas lima tiang, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalahutusan Allah, mendirikan Shalat, membayar Zakat, melaksanakan ibadah Haji dan berpuasa dibulan Ramadhan." (HR. Imam Bukhari dan Muslim) 

Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam menggambarkan agama Islam bagaikan sebuah kemah yang disanggah oleh lima batang tiang, dimana tiang tengahnya adalah kalimat syahadat, sedangkan empat tiang lainnya (Shalat, Zakat, melaksanakan ibadah Haji dan Puasa) adalah tiang pendukung untuk menyangga kemah tersebut dikeempat sudutnya.
Tanpa tiang tengah, kemah tidak dapat berdiri tegak. Dan jika salahsatu tiang penyangga dikeempat sudut kemah itu tidak ada walau kemah tersebut masih bisa berdiri namun kondisinya menjadi miring dan tidak sempurna

."Dari Abu Hurairah radiallahu anh berkata,
" Saya mendengar Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
`Bagaimana pendapat kalian, jika didepan rumah salah seorang dari kalian terdapat sebuah sungai yang mengalir dan dia mandi didalamnya lima kali sehari, apakah masih tersisakotoran ditubuhnya?` mereka menjawab, 'Tidak akan tersisa kotoran ditubuhnya sedikitpun.' Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya." (HR. Imam Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasa'i). 

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri radiallahu anh, bahwa Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda, " Saat-saat yang ada diantara lima waktu shalat merupakan kaffarah (penghapus dosa),yaitu dosa-dosa kecil yang dilakukan diantara waktu shalat yang satu dengan shalat berikutnya akan diampuni dengan keberkahan shalat. "Seperti seseorang yang bekerja disebuah pabrik, maka debu dan kotoran mengotori badannya, tetapi diantara pabrik dan rumahnya terdapat lima buah sungai. Apabila dia kembali dari pabriknya maka dia mandi ditiap" sungai itu.
Begitulah perumpamaan shalat lima waktu."
Apabila diantara waktu shalat terjadi kesalahan, dosa dan lainnya, maka dengan sebab do'adan istghfar yang dilakukannya dalam shalat, niscaya Allah subhana wa ta'ala akan mengampuninya. 

Abdullah bin salam radiallahu anh berkata,
"Apabila suatu kesusahan menimpa keluarga Nabi saw maka beliau memerintahkan mereka untuk melaksanakan shalat dan membaca ayat
"Perintahkanlah keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah atasnya, Kami tidak meminta rezeki kepadamu, bahkan Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Thaha:132)

Secara bahasa Shalat bermakna Do'a. 
Dilihat pengartian secara umum Shalat adalah suatu Ibadah yang mengandung ucapan/bacaan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam.

Syarat" yang harus diperhatikan oleh mushalli (orang yang melaksanakan shalat) terbagi dua yaitu: Syarat Sah Shalat dan Syarat Wajib Shalat

Syarat Sah Shalat
1. Mengetahui masuknya waktu shalat 
2. Suci badan, pakaian dan tempat
3. Shalat pada waktunya
4. Menutup aurat‎
5. Menghadap kiblat
 6. Niat
7. Meninggalkan segala sesuatu yang membatalkan shalat, seperti makan, minum, berbicara diwaktu shalat

."Allah tidak menerimashalat seseorang diantara kamu apabila ia berhadas hingga ia berwudhu." (HR. Bukhari dan Muslim)
hadas besar: junub, haid, nifas dan baru melahirkan, cara bersucinya dengan mandi
 "Jika kamu junub, maka mandilah" QS.Al-Maidah:6)
"Dan bersihkanlah pakaianmu." (QS. Al-Muddassir:4)
 "Palingkanlah wajahmu kearah Masjidil Haram.
Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah wajahmu ke arahnya." (QS. Al-Baqarah:144)

"Nabi sallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada Khallad bin Rafi', Apabila engkau hendak shalat, sempurnakanlah wudhu mu, kemudian menghadaplah kekiblat." (HR. Muslim)

Syarat Wajib Shalat 
1. Islam
2. Baligh (telah dewasa) 
3. Berakal (waras/tidak gila)
4. Bersih dari hadas (nifas, junub dll) dan kotoran (haid) 

Sabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, "Yang terlepas dari hukum ada tiga macam:
(1) Kanak-kanak hingga ia dewasa
(2) orang tidur hingga ia bangun
(3) orang gila hingga ia sembuh."( HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah) 

"Suruhlah olehmu anak-anakmu itu untuk shalat apabila ia sudah berumur tujuh tahun. Apabila ia sudah berumur sepuluh tahun hendaklahkamu pukul jika ia meninggalkan shalat." (HR. Tirmizi)

Sabda Rasulullah sallallahu "Amalan hamba Allah yang pertamakali diperhitungkan dihari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baik pulalah seluruh amalannya dan jika shalatnya rusak (tidak baik) maka rusak pula seluruh amalannya." (HR. Thabrani)

Sabda Rasulullah sallallahu "Amalan hamba Allah yang pertamakali diperhitungkan dihari kiamat adalah shalat, jika shalatnya baik maka baik pulalah seluruh amalannya dan jika shalatnya rusak (tidak baik) maka rusak pula seluruh amalannya." (HR. Thabrani)

Dalam istilah fiqih, kewajiban shalat hukumnya fardhu 'ain bagi yang telah baligh, berakal dan bersih.
Artinya perintah shalat ini wajib bagi setiap muslim dan tidak bisa digantikan oleh oranglain.
Ulama fiqih sependapat bahwa orang yang mengingkari kewajiban shalat hukumnya murtad dan kafir
sbagaimana sabda Rasulullah saw, "Beda antara kita dan orang kafir adalah shalat, maka orang yang meninggalkan shalat adalah kafir." (HR.Ahmad bin Hanbali, Abu Dawud, Tirmizi, Ibnu Majah dan Buraidah)

"Dari Ibnu Abbas radiallahu anh, berkata, Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
"Barangsiapa mengumpulkan dua shalattanpa udzur, sungguh ia telah mendatangi satu pintu dari pintu-pintu dosa besar." (HR. Hakim-at Targhib)

Dari Abdullah bin Amr radiallahu anh, dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, bahwa pada suatu hari beliau bercerita mengenai shalat.
Beliau bersabda, "Barangsiapa menjaga shalatnya, maka shalat akan menjadi cahaya, pembela dan penyelamat baginya pada hari kiamat dan barangsiapa tidak menjaganya, maka tidak akan ada cahaya, pembela dan penyelamat baginya. Serta pada hari kiamat ia akan dikumpulkan bersama Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf." (HR. Ibnu Hibban dan Thabrani)

Pembagian Shalat
Shalat Wajib yang diperintahkan sebanyak lima kali dalam sehari semalam, Shubuh, Dzhuhur, Ashar, Maghrib, Isya'

Shalat Sunnah semua shalat selain shalat fadhu seperti shalat witir, dhuha, tarawih, qiyamul lail dan lain sebagainya

Shalat Nafilah shalat sunnah mu'akkadah yaitu shalat sunnah yang menyertai shalat fardhu sesuai waktu-waktunya

waktu-waktu yang dilarang untuk shalat:
1. Sesudah shalat shubuh hingga terbitnya matahari
2. Sesudah shalat ashar sampai terbenamnya matahari
3. Waktu Istiwa (tengah hari) sampai trgelincir matahari kecuali hari jum'at

"Dari Uqbah bin Amir, Rasulullah melarang shalat pada tiga saat: (1) Tatkala terbit matahari sampai tinggi (2) Tatkala hampir dzuhur sampai tergelincir matahari (3) Tatkala matahari hampir terbenam (HR. Muslim)

Rukun Shalat Merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari shalat dan merupakan bagian dari shalat itu sendiri.
Oleh karena itu meninggalkan (kekurangan) salah satu rukun membuat shalat menjadi batal.
Adanya syarat-syarat shalat yang sekaligus menjadi rukun dan ada yang terpisah, membuat adanya perbedaan pendapat diantara para ulama mazhab fiqih dalam menetapkan rukun didalam shalat.
Namun dari perbedaan pendapat antar mazhab tersebut terdapat keseragaman/kesepakatan pemahaman bahwa setidaknya rukun dalam shalat itu:
1. Takbiratul Ihram
2. Berdiri
3. Membaca Al-Fhatihah
4. Ruku'
5. Sujud
6. Duduk terakhir sambil membaca tahiyat akhir

Perbedaan rukun shalat menurut mazhab yang ada

MAZHAB HANAFI
1. Takbiratul Ihram
2. Berdiri dengan tenang
3. Membaca4. Ruku'
5. Sujud
6. Duduk tahiyat akhir

MAZHAB MALIKI
1. Niat
2. Takbiratul Ihram
3. Berdiri dengan tenang
4. Membaca Al-Fatihah bagi imam dan bagi yang shalat sendirian
‎5. Berdiri ketika membaca Al-Fatihah dalam shalat fardhu
6. Ruku'
7. I'tidal
8. Sujud
9. Duduk diantara dua sujud
10. Mengucapkan salam
11. Duduk ketika mengucapkan salam
12. Tuma'ninah dalam seluruh mengerjakan shalat
13. I'tidal setelah ruku' dan sujud
14. Mengerjakan rukun demi rukun dengan tertib

MAZHAB SYAFI'I
1. Niat
2. Takbiratul Ihram
3. Berdiri dalam shalat fardhu bagi yang mampu
4. Membaca Al-Fatihah bagi orang yang mampu membacanya
5. Ruku
'6. Sujud
7. Sujud kedua kali
8. Duduk diantara dua sujud
9. Membaca tahiyat akhir
10. Duduk ketika membaca tahiyat akhir
11. Membaca Shalawat Nabi setelah membaca tahiyat akhir dalam keadaan duduk
12. Membaca salam
13. Melakukan seluruh rukun dengan tertib/berurutan mulai dari niat sampai salam

MAZHAB HANBALI
1. Takbiratul Ihram
2. Berdiri bagi yang mampu
3. Membaca Al-Fatihah bagi Imam dan orang yang shalat sendirian
4. Ruku'
5. I'tidal
6. Sujud
7. Bangkit dari sujud
8. Duduk diantara dua sujud
9. Bersikap tenang (tuma'ninah)
10. Membaca tahiyat akhir
11. Membaca shalawat atas Nabi setelah tahiyat terakhir
12. Duduk ketika membaca tahiyat akhir dan salam
13. Membaca dua kali salam
14. Melakukan seluruh rukun dengan tertib/berurutan sejak takbiratul ihram sampai salam.

HAL MAKRUH YANG DILAKUKAN SAAT SHALAT
1. Meninggalkan salah satu dari sunnah-sunnah shalat (seperti:membaca ta'awuz, mengangkat tangan sebatas telinga bagi laki-laki dan sebatas bahu bagi perempuan saat takbiratul ihram (menurut mazhab hanafi), membaca ta'awuz, bersiwak sebelum shalat, adzan dan iqomah dll)
2. Memanjangkan bacaan rakaat kedua daripada bacaan rakaat pertama
3. Membaca surat tidak berurutan sebagaiman urutannya dalam Al-Qur'an
‎4. Menggerak-gerakkan kedua tangan tanpa tujuan, seperti memegang baju, jenggot atau kumis
5. Memejamkan mata
6. Menengadah kelangit
7. Memalingkan badan tanpa alasan penting
8. Berdiri dengan satu kaki padahal kedua kakinya masih utuh (tidak sedang sakit)
9. Menyandarkan diri kedinding tanpa suatu keperluan
10. Membaca ayat/surah pada rakaat ketiga pada shalat maghrib dan rakaat keempat pada shalat dzuhur, ashar dan isya ‎
11. Mengeraskan bacaan pada shalat Zhuhur dan Ashar atau pada rakaat ketiga pada shalat Maghrib dan rakaat ketiga dan keempat pada shalat Isya
12. Memainkan rambut
13. Shalat sambil menahan buang air besar/kecil/angin

YANG MEMBATALKAN SHALAT
Walau ada perbedaan dikalangan ulama namun dapat disimpulkan yang membatalkan shalat adalah:
1. Berbicara sekalipun hanya dua huruf
2. Makan dan minum
3. Melakukan aktivitas apa saja yang tidak ada hubungannya dengan shalat
4. Berpaling dari kiblat‎
5. Merintih-rintih
6. Menjawab bersin
7. Menjawab pertanyaan
8. Menjadi makmum yang diimami oleh orang yang tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi imam
9. Terbuka auratnya
10. Keluar hadats
11. Makmum berdiri didepan imam
12. Terkena najis yang tidak dima'afkan
13. Berpindah dari tempat shalat tanpa sebab
14. Menghentikan shalat dengan salam setelah dua rakat dalam shalat zhuhur, ashar, isya dan maghrib karena menganggap diri musafir
15. Membaca bacaan shalat dengan nada bernyanyi‎
16. Membatalkan niat saat shalat sedang berlangsung
17. Berubah niat dari satu shalat ke shalat lain
18. Meninggalkan salahsatu rukun shalat dengan sengaja
19. Menambah salahsatu ruku shalat seperti menambah ruku' atau sujud
20. Melakukan tahiyat pada rakaat pertama dan ketiga (kecuali rakaat ketiga(terakhir) pada shalat maghrib
21. Muntah dengan sengaja
22. Murtad
23. Gila
24. Berbeda niat antara makmum dengan imam

.................................................................................................................................................
.................................................................................................................................................


 Sekilas Bahasan Tasawuf
Dalam Islam sekarang ini, istilah tasawuf sangat populer bahkan terkesan tasawuf dianggap merupakan konsep dari tahapan" penerapan ajaran Islam yang sesungguhnya sehingga menimbulkan polemik perdebatan dan pertikaian diantara kalangan umat Islam.
Dalam sejarah Islam, ditiga generasi pertama yang terbaik, Sahabat Radiallahu Anh, Tabi'in dan Tabi'at Tabi'in istilah tasawuf belumlah dikenal.
Pada masa itu yang dikenal adalah istilah Muslim, Mukmin, Zahid dan Abid.
Istilah tasawuf muncul dan dikenal menjelang abad kedua Hijriah, bahkan sampai saat ini pun masih terdapat kesimpangsiuran tentang asal kata dan pengartian dari tasawuf itu sendiri.
Dalam literatur" barat, Tasawuf dikenal dengan istilah 'The Mistic of Islam' karena begitu erat hubungannya dengan dunia mistik/ghaib.
Berbagai aliran tasawuf yang berkembang, terus saja mengundang perdebatan karena disebabkan ajaran tasawuf cenderung disusupi oleh berbagai penyelewengan-penyelewengan yang berbahaya bagi umat Islam karena adanya pengaruh dari faham Falsafah Yunani, ajaran Hindu, Budha, Animis dan Mistik/Kebathinan sehingga tasawuf yang niat awalnya baik menjadi tercemar.
Riwayat panjang tasawuf yang membingungkan umat, selalu menimbulkan perdebatan dan pertikaian ini, juga disebabkan oleh sikap dan prilaku para sufi (Orang-orang yang mendalami dan mengamalkan konsep tasawuf) yang terkadang menimbulkan fenomena dan kontroversi baik dari ucapan maupun prilaku kesehariannya.

Sebagaimana kisah Husain Ibn Mansur al Hallaj, dengan faham 'Wihdatul Wujud' yang meyakini bersatunya Tuhan dengan makhluk, al Hallaj mengaku dirinya mampu menyatu dengan TUHAN.
Menurut al Hallaj, manusia mempunyai dua sifat dasar: Nasut (kemanusiaan) dan Lahut (keTuhanan), demikian juga Tuhan yang mempunyai dua sifat dasar yang sama pula.
Sehingga, ketika mengalami hulul (dalam literatur tasawuf, al hulul adalah konsep dimana Tuhan memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk bersemayam dalam tubuh manusia tersebut dengan sifat-sifat keTuhanannya setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada dalam tubuh itu dihancurkan) lisan al Hallaj mengucapkan 'ana al haqq' (akulah yang maha benar).

Sejenak, mari kita telusuri perjalanan dari konsep tasawuf yang berawal dari niat Tazkiyatun Nafs (Pembersihan Jiwa) ini sehingga terjadi inhirqf (penyimpangan) dari konsep tasawuf ini.

Tahapan pertama yang harus dijalankan oleh Zahid (calon sufi) dalam usaha Pembersihan Jiwa pada konsep tasawuf adalah Taubat.
Seorang Zahid awalnya harus bertaubat dari dosa-dosa besar, jika telah berhasil meninggalkan dosa-dosa besar, ia kemudian bertaubat dari dosa-dosa kecil.
selanjutnya taubat dari perbuatan-perbuatan makruh yang dilanjutkan dengan taubat dari perbuatan-perbuatan syubhat.
Untuk memantapkan taubat ini, ia menjauhkan diri dari dunia materi, mengasingkan diri ditempat terpencil untuk beribadah (uzlah). kalau kesenangan dunia dan kelezatan materi sudah tidak bisa menggodanya lagi ia keluar dari pengasingan dan kembali menjalani kehidupannya seperti semula dengan tetap memperbanyak berPuasa, Shalat, memBaca Al-Qur'an dan berDzikir (bersikap Zuhud)
Bila tahapan ini terlaksana, sampailah dimana ia dijauhkan dari perbuatan-perbuatan Syubhat oleh ALLAH (wara'). Kemudian ia menjalani hidup dalam kefakiran dimana kebutuhan hidupnya hanya sedikit hanya untuk menjalankan kewajibannya beribadah dan ia tidak meminta tapi tidak pula menolak pemberian ALLAH. Setelah menjalani hidup dalam kefakiran tahapan selanjutnya adalah sabar dimana kesabarannya tidak hanya dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNYA saja,
tapi juga sabar dalam menerima cobaan. Ia tidak meminta pertolongan bahkan tidak menunggu datangnya pertolongan.
Selanjutnya ia menjalani tahap tawakkal, menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak Allah. Baginya cukuplah apa yang ada hari ini saja dan ia tidak memikirkan hari esok lagi. Ia tidak menentang cobaan Allah bahkan menerimanya dengan senanghati (ridha). Pada tahapan ini tidak ada lagi perasaan benci dihatinya, yang ada dihatinya hanyalah rasa senang dan cinta yang bergelora kepada Allah.
Rasa Cinta (mahabbah) yang bergelora dihatinya kepada Allah membuatnya berpaling dari segala hal selain Allah, ia menghadapkan dirinya hanya kepada Allah. Mulai dari tahapan Taubat, Uzlah, Zuhud, Wara', Faqr, Sabar, Tawakkal, Ridha dan Mahabbah konsep dari tasawuf ini masih jernih, masih dalam koridor Al-Qur'an dan Sunnah.
Namun, saat seorang zahid menjalani tahapan berikutnya untuk menjadi sufi dan memperoleh pengalaman-pengalaman tasawuf, penyimpangan itu bermula dan mulai terjadi.
Dalam perjalanan religinya seorang zahid (calon sufi) dalam menjalin hubungan dengan Tuhannya, ia selalu diselubungi rasa ketakutan (khauf) atas dosa-dosa yang dilakukannya dan pengharapan (raja') agar ALLAH menerima taubatnya sehingga lambatlaun ia merasakan bahwa ALLAH tidak suka murka tapi sangat Menyayangi hambaNYA.
Rasa takut itu kemudian hilang dan mendatangkan rasa kecintaan yang dalam dan bergelora pada Tuhannya. Pada tahapan selanjutnya inilah penyimpangan bermula.
Pada saat menjalani tahapan MA'RIFAH penyimpangan pada konsep tasawuf ini berawal, Ma'rifah dalam konsep tasawuf mengandung arti pengetahuan, Pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan melalui kalbu (ilm ladunni) bukan lagi dari akal. dalam dunia tasawuf, Ilmu adalah Pengetahuan tentang aspek lahir dari benda yang ada dialam semesta ini sedang Ma'rifah adalah Pengetahuan tentang aspek bathin dari benda- tersebut.

Sufi yang mampu menangkap Cahaya Ma'rifah, kalbunya akan dipenuhi dengan rasa Cinta yang mendalam kepada ALLAH sehingga membuat para sufi ingin berada lebih dekat lagi kepada ALLAH, ia tidak lagi puas hanya mengenal ALLAH tapi ia pun ingin mengalami persatuan dengan ALLAH (Ittihad). Untuk mencapai Ittihad (Menyatu dengan ALLAH) ini diperlukan usaha yang benar-benar keras dan memakan waktu yang lama. Ketika sampai digerbang Ittihad inilah timbul ungkapan-ungkapan yang terkesan ganjil didengar
ucapan-ucapan yang dalam konsep tasawuf disebut Syatahat (Ucapan Teopatis) sebagaimana yang pernah diucapkan oleh Abu Yazid Bustami,
 "Manusia taubat dari dosanya, tetapi aku tidak. Aku hanya mengucapkan tiada Tuhan selain ALLAH." 
 Rabi'ah al Adawiah, "Aku mengabdi kepada TUHAN bukan karena takut neraka, bukan pula karena ingin masuk syurga, tetapi aku mengabdi karena cintaku padaNYA." 
bahkan yang paling ekstrim yang merasa mengalami menyatu dengan Tuhan adalah Husain ibn Mansur al Hallaj,
al Hallaj yang akhirnya menjalani hukuman mati berdasarkan kesepakatan ulama pada masa itu karena mengaku dirinya mampu menyatu dengan Tuhan.
 Na'udzu billah..........

Konsep tasawuf yang bila ditelusuri sebenarnya baik akhirnya menjadi tercemar dan menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya.
Memang, dibutuhkan kearifan, ketulusan hati dan harus mampu berlapang dada untuk senantiasa berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah, sebagaimana yang telah difahami dan diamalkan oleh Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dan para Sahabat Radiallahu Anhuma, karena pada hakikatnya Akhlak Mulia dan Kebersihan Hati, ajaran-ajaran tentang Zuhud, Wara', Sabar, Tawakkal, Mahabbah, Khauf, Raja', Ihsan dan lain-lainnya telah sempurna dalam Al-Qur'an dan Sunnah, sehingga kita hanya tinggal mengkaji dan menerapkannya dalam keseharian kita masing-masing.
Hanya itulah solusi dan penyelesaian dari segala perdebatan dan perselisihan yang bergejolak didalam tubuh umat Islam. Hidupkan dan Kembali pada Al-Qur'an dan Sunnah.

"Dan demikian kami Wahyukan kepadamu Wahyu (Al-Qur'an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah Iman itu, tetapi KAMI menjadikan Al-Qur'an itu Cahaya, yang KAMI tunjuki dengan Dia siapa yang KAMI kehendaki diantara hamba-hamba KAMI. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Asy-Syura:52)


"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (NYA) dan Ulil Amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah nya). Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa: 59)
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jauhilah perbuatan sangka, karena sesungguhnya persangkaan (buruk itu) adalah perkataan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan dan keburukan orang lain, janganlah kalian saling berdengki, saling berpaling dan saling marah. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara." (HR. Bukhari)
 
Semoga ALLAH Subhana wa ta'ala senantiasa melimpahkan Rahmat Hidayah dan MaghfirahNYA pada kita semua
Aamiin.....
..................................................................................................................
.................................................................................................................. 



Ibnu Mas'ud Radiallaahu 'anhu pernah berkata, "Jika kamu ingin memperoleh Ilmu, maka hendaklah kamu memikirkan dan merenungkan makna-makna Al-Qur'an, karena didalamnya mengandung Ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang sesudahnya."

Setiap kalimat yang terkandung didalam Al-Qur'anul Karim dapat dibaca dengan baik oleh semua orang, namun maksud-maksudnya baik yang tersurat maupun yang tersirat, pemahamannya berbeda-beda sesuai dengan kemampuan pembacanya.Oleh karena itu, untuk dapat memahami isi kandungan Al-Qur'an, sangatlah penting bagi kita untuk memperhatikan dan menunaikan adab-adab dan syarat-syarat penafsiran Al-Qur'an.
Jangan sesekali menyimpulkan isi kandungan Al-Qur'an bila belum memiliki keahlian didalam 15 (lima belas) ilmu, apalagi menyimpulkannya hanya berdasarkan rujukan terjemahan yang ada.
Perlu disadari, Al-Qur'anul Karim memang bisa dibaca dan dimengerti oleh semua orang.
Tapi tidak semua orang pula yang dapat memahami maksud yang tersirat didalamnya.

Para Ulama menggariskan, bahwa siapapun yang ingin mencoba menafsirkan Al-Qur'an , ia harus memiliki keahlian didalam Lima Belas Ilmu.Keterangan secara ringkas, Ilmu-ilmu tersebut adalah:
1. Ilmu Lughat (philology),
Ilmu yang mempelajari makna-makna dari setiap lafazh (kata) dari Al-Qur'an.

2. Ilmu Nahwu (syntax),
Ilmu tata bahasa yang mempelajari hubungan antara satu kata dengan kata yang lain dan "i'rab" (perubahan bunyi disetiap huruf akhir pada suatu kalimat).
Perubahan pada i'rab biasanya akan mengakibatkan perubahan pada maknanya.

3. Ilmu Sharaf (ethymology)
Merupakan cabang dari Ilmu Nahwu yang mempelajari asal-usul kata dan kata benda yang dijadikan kata kerja (konjugasi).
Maksud dari suatu kata dapat berubah artinya dengan mengikuti asal kata atau konjugasinya.
"seseorang yang tidak memiliki Ilmu Sharaf , berarti ia telah kehilangan banyak hal dari dirinya."

4. Ilmu Isytiqaq (deriuatives),
Ilmu yang mempelajari tujuan dan asal kata.
Ilmu ini perlu, karena jika satu kata datang dari dua asal kata, maka akan memiliki arti yang berlainan.

5. Ilmu Ma'ani (semantik),
Ilmu yang mempelajari tarkib (susunan kalimat) dari segi maknanya.
Ilmu ini pun sangat penting diketahui karena bentuk suatu ayat dapat dipahami dari maknanya.

6. Ilmu Bayan (speech).
Ilmu yang mempelajari cara-cara penuturan sehingga bisa diketahui makna zhahir dan maknanya yang tersembunyi, juga mempelajari perumpamaan dan kiasan.

7. Ilmu Badi' (rhetoric),
Ilmu yang mempelajari keindahan bahasa.
Ini salahsatu cabang Ilmu yang dapat mengungkap rahasia keindahan bahasa dan kesan-kesannya.

"Ilmu Ma'ani, Bayan dan Badi' merupakan cabang Ilmu Balaghah yang sangat penting bagi seorang ahli tafsir untuk menguasainya, sebab Al-Qur'anul Karim adalah Mukjizat yang sempurna dan susunan kalimatnya sangat mengagumkan.
Dan semua itu hanya dapat dipahami setelah ketiga Ilmu ini dikuasai."

8. Ilmu Qira'at,
Ilmu tentang seni penyebutan huruf,perbedaan dari segi bacaan terkadang membawa perbedaan makna dan kadang-kadang suatu kata lebih diutamakan dari kata lainnya.

9. Ilmu 'Aqaid,
Ilmu yang mempelajari dasar-dasar aqidah dan keimanan.
Ada beberapa ayat yang mutlak berhubungan dengan ALLAH, yang jika diartikan secara harfiah maka maknanya jadi tidak benar, sehingga untuk mengetahui makna yang sebenarnya perlu ditakwilkan.

10. Ilmu Usul Fiqih,
Ilmu untuk mengetahui prinsip-prinsip perundang-undangan Islam.
Dengan Ilmu ini, suatu ayat dapat dijadikan dalil dan alasan (hujjah) untuk mendukung suatu kebenaran.

11. Ilmu Asbabun Nuzul,
Ilmu untuk mengetahui sebab-sebab turunnya wahyu.
Dengan mengetahui kapan dan dalam keadaan bagaimana ayat itu diturunkan, maka maksud dari suatu ayat akan lebih dipahami.

12. Ilmu Nasikh Mansukh,
Dengan Ilmu ini akan diketahui mana Hukum-hukum (Perintah) ALLAH, Mana yang telah dihapus atau diubah dan mana yang masih berlaku.

13. Ilmu Fiqih,
Ilmu mengenai Hukum-hukum dalam Syari'at Islam.
Dengan Ilmu ini kita dapat memahami secara Sempurna Hukum-hukum didalam Islam.

14. Ilmu Hadits,
Ilmu untuk mengetahui Hadits-hadits tertentu yang menjadi penafsir dari ayat-ayat Al-Qur'an yang ringkas.

15. Ilmu Wahabi,
Suatu bakat kepemahaman yang dikaruniakan oleh ALLAH kepada orang-orang terpilih.
(note pen.; wahabi yang dimaksud disini bukanlah bentuk dari suatu golongan ataupun faham dari suatu aliran keagamaan)
Allamah Suyuti Rah.a. berkata, "Orang-orang yang mengatakan bahwa untuk memperoleh ilmu wahabi adalah diluar kemampuan manusia, pendapat itu tidak benar.Karena cara untuk mendapatkan pengetahuan langsung dari ALLAH tanpa belajar telah ditunjukkan oleh ALLAH, yaitu dengan mengamalkan Ilmu yang telah diperolehnya dan tidak mencintai keduniawian.

"Barangsiapa beramal dengan apa yang diketahuinya, maka ALLAH akan menganugerahkan kepadanya Ilmu yang belum ia ketahui."

Cabang-cabang Ilmu diatas merupakan Alat dan Syarat-syarat yang penting bagi seorang penafsir.
Penafsiran dari suatu ayat dari seseorang yang tidak benar-benar mahir dengan cabang-cabang Ilmu yang telah disebutkan diatas, terlebih jika hanya berdasarkan pendapatnya sendiri harus dicegah agar tidak terjadi perubahan/penyimpangan makna dari suatu Ayat yang mutlak kebenarannya.

Dalam kitab Kimiya Sa'adat, ada tertulis,"Tiga golongan yang tidak akan berhasil menafsirkan Al-Qur'an yaitu:
Pertama, Seseorang yang tidak mahir dalam Bahasa Arab.
Kedua, Orang yang selalu membuat dosa-dosa besar atau orang yang membuat Bid'ah, karena perbuatan ini dapat menggelapkan hatinya dan menghalanginya dari memahami Al-Qur'an.
Ketiga, Seseorang yang menggunakan alasan-alasan rasional (pikiran) semata walaupun dalam hal keimanan,ia merasa tidak suka apabila ia membaca satu ayat Al-Qur'an yang tidak sesuai dengan akal pikirannya.

Orang-orang seperti ini tidak akan mampu memahami Al-Qur'an dengan benar.


"Ya ALLAH peliharalah kami agar terhindar dari perbuatan yang demikian".

Dalam hal membaca Al-Qur'an , ada aturan yang biasa disebut dengan istilah "tartil" yang tujuannya adalah untuk dapat memahami dan meresapi isi kandungan Al-Qur'an.
Makna dasar dari tartil adalah membaca dengan baik dan benar, sedangkan menurut syar'i adalah membaca Al-Qur'an dengan mengikuti aturan-aturan tertentu.
Aturan-aturan tersebut adalah:

1. Setiap huruf hendaknya diucapkan dengan makhraj yang benar untuk memastikan asal huruf yang tepat.
2. Berhenti pada tempat yang benar, sehingga sambungan atau akhiran ayat-ayat itu tidak diletakkan pada tempat yang salah.
3. Membaca harakatnya dengan benar, (menyebutkan fathah, kasrah dan dhamah dengan perbedaan yang jelas).
4. Naikkan suara sedikit, agar ayat-ayat Al-Qur'an yang diucapkan oleh lidah terdengar oleh telinga dan bisa mempengaruhi hati.
5. Baca dengan suara yang indah dan penuh penuh perasaan sehingga menimbulkan simpati dan cepat memberi pengaruh pada hati,sebab suara yang bersimpati akan cepat mempengaruhi hati dan menguatkan rohani.
6. Menurut ahli pengobatan, jika suatu obat ingin cepat memberikan pengaruh pada hati, hendaknya obat itu dicampuri dengan wangi-wangian atau rasa yang manis, karena hati sangat sensitif terhadap wangi-wangian dan menyukai rasa manis.Oleh karena itu, seseorang yang memakai wangi-wangian ketika membaca Al-Qur'an akan memberikan kesan yang lebih kuat kepada hatinya.Setiap tasydid dan mad, hendaklah diucapkan dengan jelas karena dapat menghasilkan keagungan Al-Qur'an dan menambah kesannya.
7. Melaksanakan hak ayat-ayat Rahmat dan ayat-ayat Azab.

"jika seseorang sering membaca Al-Qur'an semasa hidupnya didunia, ia akan dapat mengingatnya diakhirat kelak., jika tidak, maka ia akan lupa kepada Al-Qur'an."
Banyak diantara kita yang menghafal Al-Qur'an semenjak kecil karena adanya dorongan orangtua, tetapi ketika dewasa, karena kelalaian dan sikap ketidak pedulian kita, hafalan tersebut banyak yang menghilang (bahkan bisa jadi ada yang benar-benar semua hafalannya menghilang) dari ingatan.
Semoga ALLAH memberikan pertolongan pada kita semua.

Dari Abu Musa Radiallaahu 'anhu, berkata, Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, "Orang Mukmin yang membaca Al-Qur'an adalah seumpama buah utrujah (limau manis) yang baunya harum dan rasanya manis,Orang Mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an adalah seumpama buah kurma yang tidak mempunyai bau harum walaupun rasanya manis,Orang Munafik yang tidak membaca Al-Qur'an seumpama buah hanzhalah yang rasanya pahit dan tidak berbau harumdan Orang Munafik yang membaca Al-Qur'an adalah seumpama bunga raihan yang berbau harum tapi rasanya pahit." (HR. Bukhari, Muslim, Nasai dan Ibnu Majah)
Dari Hadits diatas, pikiran kita bisa membedakan antara yang membaca Al-Qur'an dengan yang tidak membacanya. Walaupun buah Limau manis, Kurma, Hanzhalah dan bunga Raihan belumlah sebanding dengan keharuman dan kemanisan membaca Al-Qur'anul Karim,
namun perumpamaan tersebut menjadi bukti atas luasnya Ilmu Nubuwwah dan betapa dalamnya pemahaman Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wasallam,
salahsatunya, keistimewaan yang terkandung pada buah limau manis diantaranya, memberikan keharuman pada mulut, membersihkan perut, mempercepat proses pencernaan,
secara khusus keistimewaan dari membaca Al-Qur'an juga, keharuman mulut (terjaga lisannya dari perkataan" dusta, sia-sia dan lainnya), kesucian bathin dan kekuatan rohani,
secara kiasan, dikatakan apabila didalam rumah terdapat limau manis, maka jin tidak dapat masuk kedalam rumah tersebut, begitu juga keistimewaan khusus bagi rumah yang penghuninya menjaga dan selalu membaca Al-Qur'an.

"Dan KAMI turunkan dari Al-Qur'an suatu yang jadi Penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Isra':82)

Sebagian ulama mengatakan, bahwa terkadang ada seseorang membaca Al-Qur'anul Karim tetapi tanpa disadarinya ia tengah bersiap menerima azab laknat dari ALLAH Subhana wa ta'ala (seperti saat membaca ayat pada QS. Al-A'raf: ayat 44, QS. Hud:ayat 18, QS. Ali Imran: ayat 61).
Hal itu disebabkan karena ia membiarkan dirinya dalam kezhaliman dan perbuatan dusta, sehingga ia pun terancam ditimpa laknat ALLAH tersebut.

"wahai Syuhada kemurahanNYA untuk semua
kamu tidak akan menapikkan kemurahanNYA ini
jika kamu sepenuhnya berlaku baik."

Semoga kita semua selalu dalam Lindungan dan Limpahan Rahmat Hidayah & Maghfirah ALLAH Azza wa Jalla.




..................................................................................................
..................................................................................................

........................................

Didalam Kitab Kanzul 'Ummal karya Allamah Ali Burhan Puri yang dilengkapi keterangan para Ahli Hadits dan Ulama terangkum 40 Hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wasallam.
Hadits tersebut Insya ALLAH, adalah sebagai berikut,

Dari Salman Radhiyallahu 'anhu berkata, "saya pernah bertanya kepada Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wasallam mengenai 40 Hadits yang mana Beliau pernah menyatakan,
'Barangsiapa dari umatnya menghafal 40 Hadits tersebut, maka ia akan masuk surga.'
Saya bertanya kepada Beliau, yang manakah 40 Hadits itu wahai Rasulullah?"
Beliau bersabda,

Hendaknya engkau Beriman kepada ALLAH, baik kepada DzatNYA maupun yang berkaitan denganNYA

dan (Beriman) kepada hari Kiamat

dan (Beriman) kepada Malaikat

dan (Beriman) kepada Kitab-kitab ALLAH

dan (Beriman) kepada Para Nabi

dan (Beriman) kepada kebangkitan setelah mati

dan (Beriman) kepada takdir, yang baik ataupun yang buruk semuanya datang dari ALLAH

dan Bersaksi lah bahwa Tidak ada TUHAN yang patut disembah kecuali ALLAH dan Muhammad Sallallaahu 'alaihi wasallam adalah UtusanNYA

dan Dirikanlah Shalat dengan Wudhu yang Sempurna serta dengan tepat waktu

dan Bayarlah Zakat

dan Berpuasalah diBulan Ramadhan

dan Kerjakanlah Ibadah Haji jika engkau memiliki harta kekayaan

dan Kerjakanlah 12 rakaat Shalat sunnat Muakkad setiap hari

dan Janganlah tinggalkan Shalat Witir setiap malam

dan Janganlah menyekutukan ALLAH dengan segala sesuatu

dan Janganlah Mendurhakai kedua orangtuamu

dan Janganlah memakan harta anak yatim dengan cara yang zhalim

dan Janganlah meminum khamr (minuman keras)

dan Janganlah melakukan zina

dan Janganlah bersumpah palsu

dan Janganlah memberi kesaksian palsu

dan Janganlah memperturutkan hawa nafsu

dan Janganlah mengumpat saudaramu yang Muslim

dan Janganlah menuduh berbuat nista terhadap (wanita atau lelaki) yang suci

dan Janganlah mempunyai perasaan jahat terhadap saudaramu yang Muslim

dan Jangan habiskan waktumu dengan main-main

dan Janganlah bergaul dengan orang-orang yang menghabiskan waktunya dengan sia-sia

dan Janganlah memanggil seseorang dengan panggilan,
dengan niat untuk mempermalukan dirinya

dan Janganlah bergurau dengan menjadikan orang lain sebagai sasarannya

dan Jangan berbuat fitnah terhadap orang Islam

dan Bersyukur lah kepada ALLAH atas segala NikmatNYA

dan Bersabarlah dalam menghadapi cobaan dan musibah

dan Jangan pernah merasa aman dari Azab ALLAH

dan Jangan Putuskan tali Persaudaraan dengan kerabatmu

dan Sambungkan lah Silaturrahim dengan kerabatmu

dan Janganlah sekali-kali engkau mengutuk makhluk ALLAH

dan Hendaknya engkau selalu mengingat ALLAH dengan ucapan Tasbih, takbir dan tahlil (SUBHANNALLAAH, ALHAMDULILLAAH, LAA ILAAHA ILLALLAAH, ALLAAHU AKBAR)

dan Jangan pernah meninggalkan Shalat Jum'at dan dua Shalat 'Ied

dan Yakinilah bahwa apa saja yang baik dan buruk yang menimpamu adalah takdir yang tidak dapat dicegah
dan apa saja yang telah ditakdirkan tak mungkin dapat menghindar darinya

dan Jangan pernah tinggalkan membaca Al-Qur'an dalam keadaan apapun."

Semoga ALLAH Subhanahu wa ta'ala melimpahkan Rahmat dan HidayahNYA pada kita semua agar mampu menghafal serta mengamalkannya
dan Semoga ALLAH Subhanahu wa ta'ala mengampuni segala dosa kita dan memasukkan kita dalam golongan hamba-hambaNYA.

"dan tidak ada Taufik bagiku melainkan dengan Pertolongan ALLAH
Kepada ALLAH ku bertawakal
dan kepadaNYA aku kembali."


Selamat Berbagi dalam hal kebaikan demi kejayaan dan kebahagiaan kita bersama Sahabat"...

.........................................................
.........................................................