السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Sahabat"...
Banyaknya jaringan sosial di dunia maya seperti facebook, yahoo messenger, dan lain-lainnya, menjadikan kita mudah berinteraksi tanpa batas.
Begitu lembut dan halusnya jebakan dunia maya,
tanpa disadari mudah menggelincirkan diri manusia ke jurang kebinasaan.
Seorang bergelar ikhwan memajang profil islami, tapi serampangan memaknai ta’aruf.
Melihat akhwat yang dinilai bagus kualitas agamanya, langsung berani mengungkapkan kata ‘ta’aruf’, tanpa perantara.
Duhai Sahabat"...
Jangan memaknai kata “ta’aruf” secara sempit !!!
Pelajari dulu serangkaian tata cara ta’aruf atau kaidah-kaidah yang dibenarkan oleh Islam.
Jika memakai kata ta’aruf untuk bebas berinteraksi dengan lawan jenis,
lantas apa bedanya yang telah mendapat hidayah dengan yang masih jahiliyah?
Islam telah memberi konsep yang jelas dalam tatacara ta’aruf.
Sahabat"...
Suatu ketika ada sebuah cerita di salah satu situs jejaring sosial,
pasangan akhwat-ikhwan mengatakan sedang mengadakan pendekatan (katanya ta'aruf),
dan untuk menjaga perasaan masing-masing, agar jalannya hubungan tidak ada yang mengganggu,
mereka status mereka berdua sebagai pasutri, sungguh memiriskan hati...
Pernah juga ada kisah ikhwan-akhwat yang saling mengumbar kegenitan di dunia maya,
berikut ini petikan obrolannya:
“Assalamualaikum ukhti,” Sapa sang ikhwan.
“‘Wa’alaikumsalam akhi,” Balas sang akhwat.
“Subhanallah ukhti, ana kagum dengan kepribadian anti, seperti Sumayyah, seperti Khaulah binti azwar, bla bla bla bla…” puji ikhwan tersebut.
Apakah berakhir sampai di sini?
Oh no…. Rupanya yang ditemui ini juga akhwat genit, maka berlanjutlah obrolan tersebut, si ikhwan bertanya apakah si akhwat sudah punya calon,
lantas si akhwat menjawab. “Alangkah beruntungnya akhwat yang mendapatkan akhi kelak.”
Sang ikhwan pun tidak mau kalah, balas memuji akhwat. “Subhanallah, sangat beruntung ikhwan yang mendapatkan bidadari dunia seperti anti.”
syaitan tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Lalu tertancaplah rasa, bermekaran di dada dua sejoli tersebut, yang belum ada ikatan pernikahan.
Dengan bangganya sang ikhwan menaburkan janji-janji manis, akan mengajak akhwat hidup di planet mars, mengunjungi benua-benua di dunia.
Hingga larutlah keduanya dalam janji-janji lebay didunia maya.
Interaksi tanpa batas yang terkadang membuat Ikhwannya membabi buta dan akhwat pun terpedaya.... , Na'udzubillah,,,
hal yang demikian bukanlah ta’aruf yang Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam ajarkan.
Wahai Sahabat"...
Jangan Permainkan Ta’aruf !!!
Muslimah itu mutiara, tidak sembarang orang boleh menyentuhnya, tidak sembarang orang boleh memandangnya.
Jika kalian punya keinginan untuk menikahinya, carilah cara yang baik yang dibenarkan Islam.
Cari tahu informasi tentang akhwat melalui pihak ketiga yang bisa dipercaya.
Jika maksud ta’arufmu untuk menggenapkan separuh agamamu, silakan saja,
tapi prosesnya jangan keluar dari koridor Islam.
Duhai Sahabat"...
Relakah jika adikmu, kakakmu bahkan saudara-saudaramu dijadikan ajang coba-coba ta’aruf oleh orang lain?
Tentu engkau keberatan bukan?
Jadi...
Jagalah izzah muslimah, mereka adalah saudaramu.
Pasanglah tabir pembatas dalam interaksi dengannya.
Pahamilah, hati wanita itu lembut dan mudah tersentuh,
akan timbul guncangan batin jika jeratan yang kalian tabur tersebut hanya sekedar main-main.
Jagalah hati mereka !!!
jangan banyak memberi harapan atau menabur simpati yang dapat melunturkan keimanan mereka.
Mereka adalah wanita-wanita pemalu yang ingin meneladani wanita mulia di awal-awal Islam,
Biarkan iman mereka bertambah dalam balutan rasa nyaman dan aman.
Duhai Akhwat...
Jaga Hijabmu!
agar tidak runtuh kewibawaanmu.
Jangan bangga karena banyaknya ikhwan yang menginginkan taaruf.
Karena ta’aruf yang tidak berdasarkan aturan syar’i, sesungguhnya sama saja si ikhwan meredahkanmu.
Jika ikhwan itu punya niat yang benar dan serius, tentu akan memakai cara yang Rasulullah ajarkan,
dan tidak langsung menembak kalian dengan caranya sendiri.
Duhai Sahabat"...
Terkadang kita harus mengoreksi cara kita berinteraksi dengan mereka,
apakah ada yang salah hingga membuat mereka tertarik dengan kita?
Terlalu lunakkah sikap kita terhadapnya?
Sadarilah,
orang-orang yang engkau kenal di dunia maya tidak semua memberikan informasi yang sebenarnya !!!
Jangan mudah percaya dengan apa yang dipresentasikan orang di dunia maya,
Luasnya ilmu yang engkau miliki tidak menjadikan engkau mulia, jika tidak kau imbangi dengan menjaga adab pergaulan dengan lawan jenis...
waspadalah, karena engkau adalah sebaik-baik wanita yang menggenggam amanah Ilahi.
Jangan mudah terpedaya oleh rayuan orang di dunia maya.
Duhai Sahabat"...
berhiaslah dengan akhlak islami,
jangan mengumbar kegenitan pada ikhwan yang bukan mahram,
biarkan apa yang ada di dirimu menjadi simpanan manis buat suamimu kelak.
ta’aruf yang sesungguhnya haruslah berdasarkan cara Islam,
bukan dengan cara mengumbar rasa sehingga terperosok melakukan zinah.
sebagaimana yang telah ALLAH peringatkan,
: “janganlah kamu mendekati zina” (QS. al-Isra’:32)
Zinanya mata adalah melihat [sesuatu],
zinanya lisan adalah mengucapkan [sesuatu],
zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [sesuatu],
sedangkan alat kelamin membenarkan atau mendustakan itu [semua]. …
(HR Bukhari & Muslim)
Sahabat yang diRahmati ALLAH.
Apabila disebut zina hati, maka pengertiannya tak boleh lari dari ilmu ‘Tasawwuf’.
Jadi, masalah zina hati ini bukanlah sesuatu yang bisa diterangkan oleh orang-orang sembarangan yang tidak memahaminya.
Berdasarkan dari beberapa sumber yang InsyaALLAH bisa dipercaya,
zina hati bisa diterjemahkan kepada tiga hal yaitu:
- Berhasrat.
- Berharap.
- Membayangkan.
Jika dilihat dari terjemahan yang lainnya ada yang mengatakan merindui dan mengingini.
Mengapa ia dinamakan zina hati ?
Lalu, mengapaapa yang diungkapkan pada hadits diatas semuanya menjurus kepada zina, hal yang dilarang dalam Islam ?
Dari sini, kita dapat kita fahami bahwa apa yg dikatakan sebagai zina hati itu ialah “perasaan dalam hati yang mendorong seseorang ke arah penzinaan”.
Sahabat"...
Islam adalah agama yang menghormati fitrah manusia.
Rasanya kita semua sudah maklum akan hal tersebut.
Perasaan minat/hasrat pada manusia juga termasuk fitrah.
Halal selagi tidak memudharatkan diri.
jika kita berminat/berhasrat pada seseorang sehingga kita terbayang-bayang padanya, ingatan selalu tertuju padanya,
Hal Inilah yang ditafsirkan oleh hadits diatas sebagai membayangkan dan termasuk dalam kategori zina.
PERASAAN SUKA DAN BERHASRAT ITU TIDAK SALAH..
TAPI YANG SALAH IALAH PERBUATAN YANG LAHIR DARIPADA PERASAAN ITU..
PERBUATAN YANG LAHIR DARIPADA PERASAAN ITU SERINGKALI MEMBUAT KITA BERSALAH DAN BERBUAT DOSA..
Membayangkan seseorang yang kita dambakan pada otak akan membawa kepada hal yang membuat kita sengsara.
Terlebih lagi jika kita membayangkan aurat si dia.
Hal itu jelas termasuk dalam zina hati.
Jadi, “sesuatu” yang hendaknya kita hindari itu adalah yang mengarah pada hubungan kelamin.
Inilah yang dimaksud dengan “sedangkan alat kelamin membenarkan atau mendustakan itu [semua]“.
Dengan demikian, melihat nonmuhrim tidak selalu merupakan zina mata.
Yang tergolong “zina mata” (berzina dengan mata) adalah melihat dengan syahwat.
Misalnya: memandangi foto porno, mengintip cewek mandi, dan sebagainya.
Secara demikian pula, menyampaikan kata-kata mesra kepada sang pacar bukanlah tergolong “zina lisan”. Yang tergolong “zina lisan” adalah yang disertai dengan nafsu birahi.
Contohnya: ucapan mesum kepada sang kekasih, “Aku ingin sekali meletakkan mulutku ke mulutmu berpagutan dalam ciuman.”
Dengan demikian pula, merindukan si dia atau pun merasakan getaran di hati ketika memikirkan si dia bukanlah tergolong “zina hati”.
Pengertian “zina hati” (berzina dalam hati) adalah mengharap dan menginginkan pemenuhan nafsu birahi.
Contohnya: berpikiran mesum, “Kapan-kapan aku akan ke tempat kostnya saat sepi tiada orang lain. Siapa tahu dia mau kuajak ‘begituan’.”
Demikian pula untuk “zina tangan”, “zina kaki”, dan berbagai aktivitas mendekati-zina lainnya.
Sahabat"...
Sesuatu yang seharusnya kita jaga sudah seharusnya dijaga.
Begitu juga perkara-perkara yang bisa membawa kita kepada yang diharamkan.
Berusahalah sekuatnya untuk menjauh daripadanya,
Perasaan suka tidak boleh dilawan kerana akan menimbulkan pertentangan didalam diri dan bisa memudharatkan diri serta orang lain.
Tapi, lindungi serta jagalah hasrat dan rasa suka tersebut.
Sesungguhnya, apa halal itu tetap halal sekiranya kita dapat melindunginya.
Tiada salahnya memendam perasaan pada seseorang.
Tetapi janganlah sampai timbul kesan yang tidak baik pada diri sendiri dan orang-orang yang mengenal kita.
Wallaahu a’lam.
Semoga bermanfaat pada kita semua