Jumat, 25 Januari 2013

Goresan 12

kembali kutelusuri kelamnya alam
embun selimut diri
diremang cahaya surya
diantara segar mewangi mawar merona
menatap lazuardi jingga
terasa sinisnya alam dan burungpun seolah riuh menghina kala gontai langkah mulai hilang arah
bersiur bayu menerpa pecah diwajah
tersekat ku dalam labirin pekat tebalnya kabut
menghitung jauh jarak yang tiada lagi terukur
lewati hari
menanti sesuatu yang pasti kan terjadi

kini...
dalam bimbang diantara keresahan
bak ombak lautan menerjang ganas
runtuhkan keangkuhan tegar karang tiada henti
disini...
berlindung dalam gubuk tua
tinggalkan sgala kamus rumus dan angka
berbekal lapar dahaga
bertorehkan nestapa
coba hapus duka lara
mencari arti kendali diri
menembus belukar dalam bias remang diufuk mega
sebelum malam habisi rapuhnya raga
serpihan debu yang kecewa
menghiba pada hampa
berbekal lapar dahaga
bersandar pada tangisan jiwa
mencoba berkata namun lisan tercekat disarang laba-laba
kalimat berhamburan tak tentu arah makna
bertebaran entah kemana
terangkai aksara pada tirta
seolah..
pekik sorak raib dalam gemuruh halilintar
tenggelam dalam lautan
terseret arus ganasnya kehidupan

dalam keremangan senja
coba merangkai aksara pada angkasa
tancapkan rindu dilangit jingga
berlindung dibawah kusamnya peradaban yang makin menggila

serpihan debu singgahi bola mata
hadirkan perih pedih urai airmata
panas dingin peluh terasa
tergopoh menghambur basuh wajah
coba lepaskan perih kepedihan benamkan wajah
nikmati aroma busuk anyirnya telaga

terlena dilembah masa tak bertuan
tergilas zaman maju dalam kemunduran peradaban
sesaat
ku tertawa terbahak
saksikan wajah berkubang lelehan nanah
tercekat mual diterpa busuknya aroma anyir nanah dan darah pada telaga

perlahan..
raga seolah terlempar
sukma bagai terkapar
samar terdengar jeritan di qalbu
perlahan
menghimpit rona
hadirkan pilu resah kan kerinduan kerlip cahaya dikegelapan masa
terjerembab
tak kuasa lagi kaki menopang raga
rebah tersujud
tersadar
tumpukan dosa yang tlah menggunung
teringat maut bagai serpihan debu yang tengah hampiri pelupuk mata

kini..
coba lepaskan pasungan jiwa
walau letih gelayuti diri
tiadakan henti meniti tali
takkan jeda walau tertatih menembus belukar nista dalam nanar menggapai bias cahaya nun disana
sebelum usai kisah dalam fana

Disini...
Terlontar tantangan pada badai yang datang olengkan sampan yang kutompang
terucap satu kepastian walau bimbang meradang
ditengah lautan dikelilingi badai yang tiada berperasaan
sungguh...!
telah terlontar tantangan
tiada kan terucap sepatahpun kata kekalahan

hai badai... !!!
pertarungan belumlah usai
dashyat mu tiadakan surutkan asacita dijiwaraga
pertarungan tiada kan selesai
hingga biduk hancur berkeping
diri tenggelam dalam ganasnya ombak lautan
atau... berlabuh ditepian dalam mulia



Sabtu, 19 Januari 2013

Mutiara Sastra Sufi


Mutiara Tiga Kata

Ibnu Hajar Al-Asqalani 
Suatu hari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam mengunjungi para sahabat radhiyallaahu 'anhu,

Beliau bertanya: Bagaimana keadaan kalian?
Para sahabat menjawab: Kami beriman kepada Allah

Rasul shallallaahu 'alaihi wasallam: Apa bukti iman kalian?
Sahabat: Kami bersabar atas cobaan
Kami bersyukur atas limpahan kehidupan
Dan kami rela apa pun anugerah Tuhan
Rasul: Demi Dzat Yang menguasai Ka’bah
Sungguh kalian mukmin sejati
hambakan diri kepada Allah
Dengan ikhlas dan sepenuh hati Jika kalian belum mampu rela
Jalankanlah dengan lapang dada
Sebab sesuatu yang kalian cela
Bisa jadi banyak kebaikannya
Allah berfirman kepada para Nabi:
Barangsiapa berjumpa dengan-Ku
Sedang la mencintai-Ku
Akan kumasukkan ia ke taman surga-Ku
Barangsiapa berjumpa dengan-Ku
Sedang ia takut akan siksa-Ku
Akan Kujauhkan ia dari api neraka-Ku
Dan barangsiapa berjumpa dengan-Ku
Dengan malu-malu
Akan kubuat lupa malaikat-Ku, untuk menyiksanya
Ibnu Mas’ud mengatakan:
Taatilah sepenuhnya perintah Allah
Sungguh engkau insan yang paling berbakti
Jauhilah semua larangan Allah
Sungguh engkau insan zuhud nan suci
Dan terimalah dengan rela pemberian Allah
Sungguh engkau insan kaya di bumi
Ketika Shaleh al-Marqadi melewati
sebuah perkampungan sunyi
la bertanya: wahai puing-puing desa
Di manakah pendudukmu, di manakah generasimu
Dan di manakah penghunimu dahulu
Terdengarlah suara menjawab:
Mereka telah binasa, jasadnya musnah ditelan bumi
Sedang tanggung jawab mereka belum jua terlunasi


Ali radhiyallaahu 'anhu mengatakan:
Berilah hadiah sesukamu pada siapa saja
Niscaya engkau menjadi rajanya
Minta-mintalah jika engkau mau pada siapa saja
Niscaya engkau menjadi budaknya
Dan mandirilah dari ketergantungan pada siapa saja
Niscaya engkau sederajat dengannya
Yahya bin Mu’adz berkata:
Memilih duniawi akan lupa ukhrawi
Cinta duniawi akan benci ukhrawi
Dan benci duniawi akan cinta ukhrawi
Ibrahim bin Adham pernah ditanya:
Mengapa engkau tinggalkan hartamu
Padahal engkau kaya raya?
la menjawab :
Aku melihat alam kubur,
Betapa la menggelisahkan
Sedangkan aku tak punya pelipur
Aku memandang arah perjalanan, betapa jauh nian
Sedang aku tak punya cukup perbekalan
Dan aku dapati Dzat Maha Memaksa
Begitu mudahnya putuskan perkara
Sedang aku tak punya cara, untuk
menangkal putusannya
Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya:
Mengapa engkau tenang di sisi Allah?
la menjawab: Janganlah engkau merasa aman
Dengan wajahmu yang tampan
Dengan suaramu yang indah
Serta lisanmu yang fasih
Ibnu Abbas berkata:
Kata “zuhud” terdiri dari tiga huruf.- Za ; Ha’ dan Dal
Za’: Zadun lil Ma’ad (bekal menuju hari kembali)
Ha’: Hudan lid-Din (petunjuk menuju jalan Ilahi)
Dal: Dawamun ‘ala Tha’ah (selalu taat dan berbakti)
Pada kesempatan yang lain Ibnu Abbas mengatakan:
Za’: Tarkuz-Zinah (meninggalkan menghias raga)
Ha’: Tarkul-Hawa (meninggalkan kesenangan jiwa)
Dal: Tarkud-Dunya (meninggalkan harta benda)
Hamid al-Laqqaf berkata kepada seseorang
yang mendatanginya:
Bungkuslah agamamu
Seperti halnya engkau bungkus mushafmu
Dengan menjalani tiga perilaku
Bicaralah seperlunya
Milikilah harta secukupnya
Dan bergaullah sekadarnya
Kemudian ketahuilah
Sumber sikap zuhud adalah:
Menjauhi segala larangan
Menjalani semua kewajiban
Dan meninggalkan paham kebendaan
Luqman al-Hakim bertutur pada anaknya:
Anakku,
Diri manusia dibagi menjadi tiga
Sepertiga pertama untuk Allah, ialah alat kelaminnya
Sepertiga kedua untuk dirinya, ialah amal perbuatannya
Dan sepertiga berikutnya untuk cacing tanah,
Ialah jasad raganya
Ali radhiyallaahu 'anhu berkata:
Tiga amalan dapat mempermudah hafalan
Dan menghilangkan dahak di tenggorokan
Ialah siwak, puasa dan membaca al-Qur’an


Seorang filosuf berkata:
Tiga elemen istana Allah
Sakit, fakir dan sabar
Ibnu Abbas pernah ditanya:
Hari, bulan dan perbuatan apa yang terbaik
menurut Anda?
la menjawab: Hari Jum’at, bulan Ramadhan
Dan shalat lima waktu tepat pada waktunya
Ibnu Abbas meninggal pada hari Jum’at.
Tiga hari berikutnya Sayyidina Ali
mendengar kabar bahwa Ibnu
Abbas pernah ditanya tentang hari,
bulan dan perbuatan apa yang terbaik
beserta jawabannya di atas.
Kemudian Ali radhiyallaahu 'anhu mengatakan:
Andai saja seluruh ulama dari dunia
Timur hingga belahan dunia Barat ditanya persoalan tadi,
tentu jawaban mereka akan sama dengan Ibnu Abbas;
hanya saja aku akan menjawab lain:
Sebaik-balk amal ialah
Amal yang diterima oleh Allah
Sebaik-baik bulan ialah
Bulan dimana engkau bertobat kepada Allah
Dan sebaik-balk hari ialah
Hari dimana engkau mati,
dengan tetap iman kepada Allah
Seorang penyair mengatakan:
Tidakkah engkau melihat
Bagaimana siang dan malam menggodaku
Sedang aku selalu bermain dalam kesendirianku
Dan bersama orang-orang di sekitarku
Wahai
Jangan pernah engkau tergiur keelokan dunia
Sebab la bukanlah tempat tinggal yang sesungguhnya
Berbuatlah untuk dirimu sendiri
Sebelum engkau dijemput mati
Dan jangan pernah engkau tertipu
Lantaran banyak teman mengitarimu
Sebuah maqalah mengatakan:
Apabila Allah menghendaki kebaikan
Atas seseorang hamba-Nya yang beriman
Maka dipintarkannyalah tentang agama
Dia zuhudkan terhadap harta benda
Dan Dia sadarkan akan aibnya
Dalam sebuah pertemuan, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
Kucintai tiga perkara dari dunia ini
Parfum, perempuan dan shalat
Kemudian Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu berkata:
Begitupun aku mencintai tiga hal dari dunia
Memandang wajah Rasulullah
Mendermakan harta kepada Rasulullah
Dan putriku (Aisyah) di bawah naungan Rasulullah
Umar radhiyallaahu 'anhu menyela:
Engkau benar wahai Abu Bakar
Aku pun cinta tiga perkara dari dunia
Amar ma’ruf, nahi munkar,
Dan memakai pakaian rakyat jelata

Mutiara Empat Kata

Rasul shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abu Dzar al-Ghifari:
Abu Dzar,
Benahilah bahtera,
Sebab samudera hidup teramat dalam airnya
Siapkanlah bekal sebanyak-banyaknya

Sebab perjalanan diri masih teramat lama
Ringankanlah beban di pundakmu
Sebab jalan yang engkau tempuh terjal berliku
Dan sucikanlah perbuatanmu
Sebab penyelidik selalu saja mamantaumu

Seorang penyair berkata:
Adalah wajib bagi manusia,
Untuk bertobat dari dosa
Namun ada yang lebih wajib baginya,
Ialah meninggalkan dosa-dosa
Adalah berat bagi setiap insan
Untuk bertabah atas cobaan
Namun jauh lebih memberatkan
Jika ia tak punya pahala di sisi Tuhan
Adalah menakjubkan
Jika seorang hamba berbakti sepanjang hari
Namun lebih menakjubkan
Bila ada seorang abdi lupa diri
Adalah teramat dekat
Sesuatu yang akan terjadi
Namun jauh lebih dekat
Ajal datangnya mati

Seorang filosuf berkata:
Dari empat hal kebaikan
Muncul darinya empat hal yang lebih baik
Rasa malu bagi laki-laki adalah baik
Namun bagi perempuan, itu lebih baik
Bersikap adil bagi setiap orang adalah baik
Namun bagi penguasa, jauh lebih baik
Tobat oleh orang tua adalah balk
Namun oleh anak muda, jauh lebih baik
Murah hati bagi orang kaya adalah baik
Namun bagi orang miskin tentu lebih baik

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
Bintang-gemintang adalah pengaman,
Bagi penduduk di atas awan
Apabila la terpendar murai
Sungguh aku tak tahu apa yang akan terjadi
Ahli baitku adalah penjaga,
bagi seluruh ummat yang ada
Apabila mereka telah tiada, maka hukum Ilahi yang berbicara
Aku adalah pelindung, bagi sahabat-sahabatku kini
Jika nanti aku mait, di situlah hukum
Tuhan menggariskan
Gunung-gunung adalah pengukuh
Bagi penghuni bumi secara utuh
Jika pun nanti ia tercerai-berai
Terserah amar Allah akan menyikapi
Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu berkata:
Empat hal akan sempurna
Dengan hadirnya empat perkara
Kesempurnaan shalat dengan sujud sahwi
Kesempurnaan puasa dengan zakati diri
Kesempurnaan haji dengan membayar fidyah
Dan kesempurnaan iman dengan jihad fi sabilillah
Abdullah bin Mubarak berkata;
Hak-hak shalat telah terpenuhi
Apabila seseorang telah menjalani
Dua belas rakaat sunnah dalam sehari
Hak-hak puasa telah terselesaikan
Apabila seseorang telah melaksanakan
tiga hari puasa sunnah dalam sebulan
Hak-hak baca telah terlunasi
Jika seseorang telah mengaji
seratus ayat al-Qur’an dalam sehari
Dan hak-hak sedekah telah tersalurkan
Apabila seseorang telah mendermakan
satu dirham hartanya dalam sepekan

Umar radhiyallaahu 'anhu berkata:
Ada empat macam lautan
Lautan dosa adalah hawa
Lautan syahwat adalah nafsu
Lautan usia adalah kematian
Dan lautan penyesalan adalah kuburan
Utsman radhiyallaahu 'anhu berkata:
Aku dapati manusia berbakti
pada empat intisari berbakti
Menjalani perintah Ilahi
Menjauhi larangan Tuhan Yang Mahatinggi
Amar ma’ruf dan mengharap pahala
Serta nahi munkar dan menghindari murka

Empat keutamaan mengandung kewajiban
Bergaul orang saleh itu utama
Mengikuti jejaknya adalah kewajiban
Membaca al-Qur’an itu mulia
Mengaplikasikannya adalah sebuah keharusan
Ziarah kubur itu utama
Bersiap diri menuju ke sana adalah kewajiban
Menengok orang sakit itu mulia
Sedang meminta wasiat adalah keharusan

Apabila seseorang merindukan surga
la akan berlari menuju kebaikan
Apabila seseorang takut neraka
Ia tinggalkan segala keinginan
Jika seseorang yakin akan kematian
Musnahlah darinya rasa kenikmatan
Dan jika seseorang kenal betul akan dunia
Musibah baginya bukanlah suatu persoalan

Rasul shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
Shalat adalah tiang agama
Amal sedekah padamkan murka
Puasa membuat selamat dari neraka
Dan jihad merupakan geraham agama

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman kepada seorang Nabi:
Diammu dari kebatilan
adalah puasa bagi-Ku
Menjaga anggota tubuhmu dari larangan
adalah shalat bagi-Ku
Kau pangkas tamakmu dari sesama insan
adalah sedekah bagi-Ku
Dan kau sirnakan bahaya dari manusia
adalah Jihad bagi-Ku

Abdullah bin Mas`ud radhiyallaahu 'anhu berkata:
Penyebab hati menjadi mati
Adalah terlalu banyak makan
Berteman dengan orang zalim dan ikut haluannya
Melupakan dosa-doa yang pernah dilakukan
Dan menumpuk tinggi angan-angan
Sedang penerang hati
Adalah makan sekadarnya
Berteman dengan orang-orang saleh dan mengikutinya
Ingat dosa yang pernah dilakukannya
Dan membangun harapan sesuai kemampuan

Hatim al-Asham berkata:
Adalah dusta
Orang yang mengaku cinta Allah
Tapi tak pernah peduli akan larangan-Nya
Orang yang mengaku cinta Rasul
Taip menelantarkan fakir miskin di sekitarnya
Orang yang mengaku takut neraka
Namun tak indahkan dosa-dosa
Dan orang yang mengaku cinta surga
Namun tak mau mendermakan hartanya

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
Tanda-tanda orang celaka adalah
Lupa dosa masa lampau
Padahal Allah mencatatnya
Ingat kebaikannya yang telah lalu
Padahal belum tentu diterima
Dalam hal duniawi
Memandang orang yang setingkat di atasnya
Dan dalam hal ukhrawi
Memandang orang yang sederajat di bawahnya
Sedangkan tanda-tanda orang bahagia
Adalah ingat kesalahan yang dilakukan
Tidak mengagungkan kebaikan yang diamalkan
Dalam hal duniawi
Melihat betapa banyak orang yang di bawahnya
Dalam hal ukhrawi
Melihat betapa amal baktinya belum seberapa

Seorang filosuf berkata:
Empat panji-panji iman adalah
Takwa, rasa malu, syukur dan sabar

Mutiara Lima Kata

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
Orang yang memandang rendah lima Manusia ia merugi akan lima hal
memandang rendah Ulama, rugi tentang agama
memandang rendah Penguasa, rugi tentang dunia
memandang rendah Tetangga, rugi akan bantuannya
memandang rendah Saudara, rugi akan darmanya
dan memandang rendah Keluarga, rugi akan harmonisnya

Rasulullah  shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
Akan datang suatu masa dimana ummatku mencinta lima hingga mereka lupakan lima
cinta dunia, lupa alam baka
cinta tanah subur, lupa alam kubur
cinta harta benda, lupa hisab amalnya
cinta anak istri, lupa bidadari dan
cinta diri sendiri, lupa pada Ilahi

Rasulullah  shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
Allah berikan lima upaya dan disediakan-Nya imbalan lima
Allah ajari insan bersyukur dan Dia berikan tambahan makmur
Allah ajari insan berdoa dan Dia jamin akan ijabahnya
Allah ajari insan bertobat dan Dia jamin diterima tobatnya
Allah ajari insan istighfar dan Dia sediakan pengampunannya
Allah ajari insan berderma dan Dia bersedia membalas dermanya

Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu berkata:
Ada lima kegelapan dan lima penerangnya
Kegelapan pertama cinta harta, penerangnya dengan bertakwa
Kegelapan kedua laku maksiat, penerangnya dengan bertobat
Kegelapan ketiga di alam kubur, penerangnya dengan berdzikir
Kegelapan keempat alam akhirat, penerangnya dengan bertaat
Kegelapan kelima jembatan shirath penerangnya dengan i'tiqad

Umar radhiyallaahu 'anhu  berkata:
Ada lima golongan penghuni surga
Orang fakir yang menanggung hidup keluarga
Istri yang disayang oleh suaminya
Anak yang diridhai kedua orangtuanya
Calon istri yang mendermakan mahar kepada suaminya
dan orang mukmin yang selalu bertobat pada Tuhannya

Utsman radhiyallaahu 'anhu berkata:
Tanda-tanda orang bertakwa,
ialah suka berteman insan beriman
mampu mengendalikan farji dan lisan
memandang kesukseksan sebagai suatu cobaan
memandang cobaan sebagai sebuah keberuntungan
dan mampu menjaga diri dari berlebih-lebihan

Ali radhiyallaahu 'anhu  berkata:
Seluruh manusia akan menjadi saleh jika saja tak ada lima masalah
Tak ada kerelaan atas kebodohan
Tak ada keserakahan atas kekayaan
Tak ada rasa bakhil atas hartawan
Tak ada sifat riya’ bagi insan beriman dan
Tak ada ilmuwan yang mendewakan karya pemikiran

Jumhur ulama menyatakan:
Allah muliakan Nabi akhir zaman dengan lima macam keutamaan tentang penyebutan, tentang anggota badan tentang pemberian, tentang kekeliruan dan tentang kerelaan
Perihal pertama, Allah tidak memanggilnya berdasar nama
perihal kedua, Allah Sendiri Yang ijabahi pintanya
perihal ketiga, Allah memberinya tanpa ia meminta
perihal keempat, Allah telah mengampuninya sebelum ia berbuat dosa
perihal kelima, Allah selalu menerima apa pun pemberiannya

Mutiara Berserak Mutiara Sepuluh Kata

Kucari sepuluh tabiat pada sepuluh alamat 
Namun kesemuanya justru kutemukan di lain tempat

Kucari kehormatan pada kesombongan
Namun justru kutemukan pada rendah diri 

Kucari pengabdian dalam shalat 
Namun justru kutemukan dalam mawas diri

Kucari kesejahteraan dalam harta 
Namun kutemukan pada hidup sederhana

Kucari cahaya hati pada shalat siang hari 
Namun kutemukan pada shalat malam hari

Kucari cahaya Kiamat dalam berderma 
Namun kutemukan pada laparnya puasa

Kucari cara melewati shirath dalam kurban 
Namun kutemukan pada sedekah
Kucari selamat dari neraka dalam hal-hal yang diperbolehkan
Namun kutemukan dalam meninggalkan nafsu keinginan
Kucari cinta Allah dengan meninggalkan harta benda
Namun kutemukan dengan banyak berdzikir kepada-Nya
Kucari ketenangan lewat diskusi-diskusi
Namun kutemukan pada sikap menyendiri
Dan
Kucari pelita dalam nasihat Al-Qur’an
Namun kutemukan dalam tafakkur dan tangisan
Ketika Allah berfirman:
“Ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan perintah-perintah, maka ia pun menjalaninya”
Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini dengan mengatakan: 
Sepuluh perilaku terhitung Sunnah Lima dikepala dan lima lagi di dalam tubuh
Lima di kepala adalah:
bersiwak, berkumur, membersihkan hidung,mencukur kumis dan memotong rambut
Sedang lima di dalam tubuh adalah:
mencabuti bulu ketiak, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, berkhitan, dan bersuci dari buang hajat
Ibnu Abbas berkata:
Suatu saat Rasulullah bertanya pada iblis: Berapa kekasihmu diantara ummatku? 
Sepuluh, jawabnya
Satu, penguasa zalim dan aniaya
Dua, orang yang sombong dan keras kepala
Ketiga, orang kaya yang tak pernah perduli dari mana ia peroleh harta dan mana yang harus dizakatinya
Keempat, ilmuwan yang melegitimasi penguasa atas kedzaliman yang dilakukannya
Lima, pedagang yang curang transaksinya
Enam,  para penimbun dagangan dan bahan makanan
Tujuh, para pezina
Delapan, penikmat harta riba
Sembilan, si bakhil yang enggan berderma
Sepuluh, pemabuk yang tak jera
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bertanya:
Dan berapakah musuhmu diantara ummatku? 
Dua puluh, jawabnya
Pertama-tama adalah engkau
Kemudian ilmuwan yang memanfaatkan ilmunya
Para huffadz al-qur’an yang menerapkan kandungannya
Muadzin shalat lima waktu yang ikhlas karena Allah Pecinta fakir miskin dan anak yatim
Orang-orang yang hatinya diliputi kasih sayang
Orang-orang yang patuh akan kebenaran
Pemuda yang sibuk taat perintah Tuhan
Orang-orang yang hanya makan rezeki yang halal
Dua pemuda yang saling mencinta karena Allah
Orang-orang yang melestarikan jama’ah
Orang yang rajin shalat malam
Orang yang menjaga dirinya dari haram
Orang yang tanpa pamrih menasihati kawan
Orang yang langgeng berwudhu, dalam kesucian
Orang-orang yang suka berderma
Orang-orang yang berakhlak mulia
Orang kaya yang menunaikan zakatnya
Penyantun fakir miskin dan janda-janda tua
Dan hamba Tuhan yang bersiap diri menuju kematian
Sumber:
http://www.sufinews.com/index.php/Sastra-Sufi/mutiara-tiga-kata/All-Pages.sufi
http://www.sufinews.com/index.php/Sastra-Sufi/mutiara-empat-kata/All-Pages.sufi
http://www.sufinews.com/index.php/Sastra-Sufi/mutiara-lima-kata.sufi
http://www.sufinews.com/index.php/Sastra-Sufi/mutiara-berserak-mutiara-sepuluh-kata-4.sufi

Ikut Sertakan ALLAH dalam segala Urusan dan Masalah



بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily:

Barangsiapa memutuskan diri untuk tidak mengurus  dirinya dan melimpahkan urusannya pada Allah; memutuskan pilihannya hanya pada pilihan Allah; memutuskan pandangannya hanya memandang Allah; memutuskan kebaikannya hanya pada ilmu Allah disebabkan oleh disiplin kepatuhan dan ridhanya; kepasrahan total dan tawakalnya pada Allah; maka Allah benar-benar menganugerahkan kebaikan nurani hati, yang juga disertai dengan dzikir, tafakkur dan hal-hal lain yang sangat istimewa.

Syeikh Abul Hasan berkata pada salah satu muridnya:
"Aku melihatmu  senantiasa mengekang nafsumu dan menarik perkaramu dalam memerangi  nafsumu itu. Engkau wahai Luka’ bin Luka’, maksudku dengan itu menyatakan dua nafsu, terhadap leluhur dan pada anak-anak.
Engkau ditindih oleh ikut mengatur urusan  (yang bukan urusanmu), hingga sampai pada suapan yang engkau makan dan minuman yang engkau teguk, juga dalam ucapan yang engkau katakan atau engkau diamkan.
Lalu diamana posisimu di hadapan Yang Maha Mengatur, Maha Tahu dan Maha Mendengar lagi Melihat;  Maha Bijaksana lagi Maha Waspada, Yang Maha Agung Keagungan-Nya dan Maha Suci Asma’-asma’-Nya?
Bagaimana bisa Dia disertai oleh yang lain-Nya?
Karena itu bila engkau menghendaki sesuatu yang akan engkau lakukan atau engkau tinggalkan, maka berlarilah kepada  Allah menghindari semua itu, maka Allah pun akan menyingkirkanmu  dari neraka.
Jangan mengecualikan sedikitpun.
Tunduklah kepada Allah, kembalikan dirimu kepada Allah.
Sebab Tuhanmu mencipta apa yang dikehendaki-Nya dan memilihkan.
Hal demikian tidak akan kokoh kecuali pada orang yang benar atau seorang wali.
Orang yang benar adalah orang yang mengikuti aturan hukum.
Sedangkan wali orang yang tidak mempunyai aturan hukum.
Orang yang benar bersama hukum Allah, sedangkan wali, fana’ dari segala sesuatu bersama Allah.
Sementara para Ulama ikut  mengatur dan  memilih, menganalisa dan mengiaskan.
Mereka dengan segenap akal dan sifatnya senantiasa demikian.
Sedangkan para syuhada’ terus menerus mengendalikan dan berjuang, mereka  berperang, membunuh dan dibunuh, dan mereka hidup dan ada pula yang mati.
Mereka dihadapan Allah tetap hidup walaupun secara indera dan fisik tidak ada.
Adapun orang-orang shaleh, jasad mereka disucikan sedangkan rahasia batin mereka menggigil dan tegang. Tidak relevan untuk menjelaskan kondisi ruhani mereka kecuali  bagi orang yang benar pada awal langkahnya atau bagi wali pada akhir tahapnya.
Engkau cukup melihat apa yang tampak pada lahirnya berupa kebajikan-kebajikan mereka, dan jangan berupaya  menjelaskan kondisi batin mereka.
Kalau engkau inginkan suatu perkara yang hendak  engkau lakukan atau engkau tinggalkan, kembalilah  kepada Allah, seperti yang kukatakan kepadamu.
Mohonlah pertolongan kepada Allah dan kembalikan dirimu pada-Nya. Ucapkanlah:
“Wahai Yang Awal, wahai Yang Akhir, wahai Yang Akhir, aku memohon demi kebenaran namaku pada Asma-Mu, dan sifatku pada Sifat-Mu, dan urusanku pada Urusan-Mu, pilihanku pada Pilihan-Mu,  jadikanlah bagiku sebagaimana engkau berikan kepada wali-wali-Mu (Dan masukkan diriku) dalam berbagai hal (pada jalan masuk yang benar, dan keluarkanlah diriku tempat keluar yang benar, dan berikanlah padaku, dari sisi-Mu, kekuasaan yang menolong).
Takutlah dirimu untuk bersangka buruk kepada Allah:  “Bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”

Aku pernah melihat, seakan-akan diriku duduk dengan salah seorang muridku di hadapan guruku —semoga Allah merahmatinya—,  
lalu guruku berkata,
“Jagalah empat hal dariku. Tiga untukmu dan yang satu untuk orang yang kasihan ini:
Janganlah engkau berusaha memilih persoalanmu  sedikit  pun, pilihlah untuk tidak memilih.
Berlarilah dari semua upaya memilih itu. Penghindaran pilihanmu pada segala sesuatu,  semata untuk menuju kepada Allah.
“Dan Tuhanmu menciptakan  apa yang dikehendaki-Nya dan memilih apa yang terbaik bagi mereka.”

Setiap pilihan-pilihan syariat dan tata aturannnya, maka itulah pilihan Allah, engkau tidak memiliki kompetensi di dalamnya, dan engkau harus patuh pada-Nya, simak dan taatlah.
Itulah posisi Pemahaman Ilahi (fiqhul-Ilahy) dan Ilmu Ilhami (ilmul-ilhamy). itulah bumi ilmu hakikat yang diambil dari Allah bagi orang  yang bertindak lurus.
Fahami dan baca, serta berdoalah kepada Tuhanmu, sesungguhnya engkau berada dalam petunjuk yang lurus. Namun apabila mereka membantahmu, katakanlah, Allah Maha Tahu atas apa yang kalian  semua ketahui.
Engkau harus tetap zuhud di dunia dan bertawakal kepada Allah. Sebab zuhud itu merupakan fondasi amal, dan tawakal merupakan modal dalam berbagai tingkah laku ruhani.
Bersaksilah kepada Allah dan berpegang teguhlah dalam ucapan-ucapan, tindakan-tindakan, akhlak, dan tingkah laku ruhani.
“Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka benar-benar ia diberi petunjuk ke jalan lurus.”

Takutlah untuk bersikap ragu, syirik, tamak, dan berpaling dari Allah demi sesuatu.
Sembahlah Allah atas dasar agungnya kedekatan, engkau akan mendapatkan kecintaan dan  keistimewaan pilihan, kekhususan dan kewalian dari Allah.
“Allah adalah Wali bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Sedangkan —untuk lelaki yang perlu dikasihani ini— faktor yang menyebabkan putusnya hubungan ketaatan dengan Allah, dan hatinya yang tehijabi dari bukti-bukti ketauhidan, ada dua perkara:
Pertama ia masuk dalam pekerjaan dunianya dengan cara  ikut campur mengaturnya.
Kedua dalam amal akhiratnya dipenuhi keraguan atas anugerah-anugerah Ilahi Sang Kekasih. Sehingga Allah menyiksanya lewat hijab, dan terus menerus dalam keraguan, serta melalaikannya akan hisab kelak, lalu ia terjerumus dalam lautan tadbir dan takdir (ikut campur aturan dan takdir Allah). Lalu ia mendekati dengan kehati-hatian yang kotor.
Apakah kalian semua tidak bertobat kepada Allah dan mohon ampunan kepada-Nya, sedangkan Alllah itu maha Pengampun lagi Maha Pengasih.  
Karena itu kembalilah pada Allah berkaitan dengan prinsip-prinsip pengaturan dan takdir, engkau akan mendapatkan limpahan kemudahan, antara dirimu dengan kesulitan yang ada akan terhapuskan.
Setiap  ke-wira’i-an yang tidak membuahkan ilmu dan nur, maka kewira’ian itu sama sekali tak berpahala. Sedangkan setiap kemaksiatan yang diikuti oleh rasa takut dan berlari kepada  Allah, janganlah engkau anggap sebagai dosa.
Ambillah rizkimu menurut pilihan Allah bagimu dengan mengamalkan ilmu dan mengikuti sunnah Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam.
Engkau jangan naik ke tahap berikutnya sebelum Allah menaikkan dirimu, sebab dengan tindakanmu itu telapak kakimu bisa tergelincir.

Suatu ketika aku berhasrat pada sedikit saja dari dunia, tidak banyak, lantas aku mengurungkan dan mengkhawatirkan jika hal  itu termasuk adab yang buruk (su’ul adab).
Aku bergegas kepada Tuhanku, dan ketika tidur aku bermimpi, seakan-akan Nabi Sulaiman alaihi salam sedang duduk di atas tempat tidur, sementara di sekelilingnya banyak pasukan.
Beliau menyodorkan periuk dan piringnya.
Aku melihat suatu hal yang telah disifatkan Allah dalam firman-Nya:
“dan piring-piring yang besarnya seperti kolam dan  periuk-periuk yang tetap (di atas tungkunya).”
(Q.s. Saba’: 13).
Lalu  tiba-tiba ada yang memanggilku, “Janganlah engkau memilih sedikitpun di sisi Allah, namun jika engkau memilih sebagai ubudiyah semata bagi Allah dalam rangka mengikuti Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam ketika  bersabda: “Sebagai hamba yang bersyukur” yakni sebagai Rasul. Kalau toh pun harus memilih, pilihlah untuk tidak memilih. Dan larikanlah pilihanmu itu pada pilihan Allah.”

Aku terbangun dari tidurku, lalu kulihat ada yang berkata padaku,
“Sesungguhnya Allah telah memilihkanmu untuk berdoa:
“Ya Allah luaskanlah rizki padaku dari duniaku, dan janganlah engkau jadikan hijab dengannya (rizki dunia) itu terhadap akhiratku.
Jadikanlah tempatku di sisi-Mu selamanya  di hadapan-Mu, senantiasa memandang dari-Mu kepada-Mu. Tampakkanlah Wajah-Mu dan tampakkanlah padaku dari penglihatan dan dari segala sesuatu selain-Mu. Hapuskanlah penghalang antara diriku dengan  Diri-Mu. Wahai Dzat, yang Dia adalah Maha Awal, Maha Akhir, Maha Dzahir, Maha Batin, dan Dia adalah Maha Tahu atas segala sesuatu.”

Manusia paling celaka adalah manusia yang menghalangai diri  pada Tuhannya, dan mengambil alih urusan duniawinya, sementara ia alpa akan prinsip dan tujuan, serta amal akhiratnya.

sumber:
http://www.sufinews.com/index.php/Artikel/urusan-allah.sufi

Kembali KuMelangkah Wujudkan Asa

sekian lama ku berlari mengejar mimpi
terasa mendekat namun tetap berada dikejauhan
semakin lemah diri dalam menggapai asa yang kian meninggi
serasa mampu kuraih namun tetap tak mampu ku gapai
aarrrghhh.....
masihkah harus kuberlari mengejar mimpi?
tetapkah perlu kupacu semangat disaat raga kini bagai tiada lagi daya?
haruskah kuarungi gelap dan beku dikebisuan dalam menggapai asa yang masih saja ada diketinggian dan kian menjauh dari diri?
aaarrrghhh.....
torehan luka kian basah menganga
sakit tiada lagi mampu kuredam
lelah pun tiada mampu lagi tertahan
terkapar ku dalam pencarian ada diantara tiada
nalar tak mampu lagi bedakan cahaya rembulan matahari ataukah pelita
pandang tak kuasa lagi bedakan bias sinar dan kegelapan
benar-benar tak sadarkan diri !!!
benar-benar kehilangan mimpi bahkan diriku sendiri

hingga tersentak ku diambang pagi
ternanar
termenung
mengingat apa yang telah terjadi
tergagap ku sesaat kala sang bayu tampar wajah hamburkan embun selimuti tubuh yang kian menggigil menahan dingin
samar mulai ku dengar gemericik air mengalir
seolah sang bayu tirta mengejek sinis dan berujar:
"kemanakah arah muara lajumu?"
"dimanakah dimensi ruang hidupmu?"

hmm.....
gemericik air mengalir
hembusan angin
dan embun dingin pagi ini kembali pulihkan sadar segarkan nalar didiri ini
kucoba bangkit kembali jalani hari
namun satu hal yang pasti niat terpatri dihati ini,
"takkan lagi kuberlari mengejar mimpi"
walau mimpi itu kan selalu temani diri, hiasi lelapnya tidur dikehidupanku ini
namun takkan pernah lagi kukejar mimpi ini"
tapi...
akan kubeli mimpi ini
akan kubeli mimpi yang kukejar selama ini !!!
yah,,, akan kubeli mimpi ini...............................

Kewajiban kita Belajar dan Mempelajari serta Mengamalkan 4 (Empat) Hal


Kewajiban mempelajari 4 hal


|   
بسم الله الرحمن الرحيم
اعلم رحمك الله أنه يجب علينا تعلم أربع مسائلالأولى : العلم وهو معرفة الله ، وعرفة نبيه ، ومعرفة دين الإسلام بالأدلةالثانية : العمل بهالثالثة : الدعوة إليهالرابعة : الصبر على الأذى فيه ، والدليل قوله تعالى : بسم الله الرحمن الرحيم , والعصر, إن الإنسان لفي خسر , إلا الذين ءامنوا وعملوا الصالحات وتواصواْ بالحق وتواصواْ بالصبر
قال الشافعي رحمه الله تعالى  : لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهموقال البخاري رحمه الله تعالى ( باب )  العلم قبل القول والعمل ، والدليل قوله تعالى :  فاعلم أنه لآ إله  الله واستغفر لذنبك … فبدأ بالعلم قبل القول والعلم


بسم الله الرحمن الرحيم

Ketahuilah saudaraku,
semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepadamu
Bahwa wajib bagi kita untuk mendalami empat masalah,
yaitu:
1. Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya.
2. Amal, yaitu menerapkan ilmu ini.
3. Da'wah, yaitu mengajak orang lain kepada ilmu ini.
4. Sabar, yaitu tabah dan teguh dalam mengahadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan berdakwah kepada-Nya.

Dalilnya, firman Allah ta’ala: 
والعصر, إن الإنسان لفي خسر , إلا الذين ءامنوا وعملوا الصالحات وتواصواْ بالحق وتواصواْ بالصبر
Demi masa.
Sesungguhya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya menta'ati kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”
(Surah Al-‘Ashr: 1-3).

Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala, mengatakan:
“Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah buat makhluk-Nya, tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surat ini sebagai hujjah bagi mereka.”

Dan Imam Al-Bukhari rahimahullahu ta’ala, mengatakan:
“Bab: Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.
Dalilnya firman Allah ta’ala:
فاعلم أنه لآ إله  الله واستغفر لذنبك
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.”
(QS. Muhammad: 19).
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (berpengetahuan)…  Sebelum ucapan dan perbuatan.

Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
[Basmallah]

Penulis rahimahullah memulai kitabnya dengan basmalah untuk:
  • Mengikuti kitabullah, Al-Qur'an, karena kitabullah dimulai dengan basmalah
  • Disamping itu, Penulis mengikuti hadits: "Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah maka ia terputus" (Hadits ini diperselisihkan keshahihannya)
  • Penulis juga mencontoh perbuatan Rasul shallallaahu 'alaihi wasallam, sebab beliau shallallaahu 'alaihi wasallam mengawali tulisan-tulisan beliau dengan basmallah
Kalimat "Dengan menyebut nama Allah ini, berkaitan dengan kata yang terhapus, yaitu sebuah kata kerja yang lebih akhir, yang sesuai dengan keadaan. Penafsirannya disini, "Dengan nama Allah saya menulis atau saya menyusun kitab"

Kami menafsirkannya dengan kata kerja, karena pada dasarnya amal itu berupa perbuatan.
Dan kamimenafsirkannya sebagai kata kerja yang terletak lebih akhir, untuk 2 faedah:
  1. Mengharapkan barokah dari memulai dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta'ala 
  2. Untuk pembatasan pada nama Alloh saja, karena mendahulukan susunan kata itu menunjukkan pembatasan
Kami menafsirkannya bahwa kata kerja tersebut harus sesuai, karena hanya hanya demikianlah yang bisa lebih menjelaskan maksud.
Sebab, andaikata kita mengartikan "Dengan nama Allah kami memulai," maka, tidak diketahui apakah yang kita mulai.
Tetapi jika kita mengatakan "Dengan nama Alloh saya membaca" maka perkataan ini bisa lebih menjelaskan maksud perbuatan yang dimulai dengan nama Allah itu.

[Allah]
 Allah adalah nama untuk Sang Pencipta, Yang Maha Agung dan Yang Maha Luhur.
Allah adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama lain.
Karena itu dalam firman Allah: 
(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.  Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi.
 Dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih
(QS. Ibrahim:1-2)

Kami berpendapat bahwa lafzhul jalalah "Alloh", pada ayat di atas, bukan sifat, melainkan 'athaf' bayan (penggabungan yang berfungsi menjelaskan), agar lafal tersebut tidak menjadi tabi' sebagaimana dalam na'at dan man'ut.

[Rohmaan]
 Rohmaan adalah salah satu nama dikhususkan bagl Alloh, tidak boleh digunakan untuk menyebut selain-Nya. Rohmaan berarti “Yang memiliki sifat kasih sayang yang luas”

[Rahiim]
 Rohiim adalah nama yang bisa digunakan untuk menyebut Alloh maupun selain-Nya.
Makna Rohiim adalah 'Yang memiliki sifat kasih sayang yang terus-menerus.
Rohmaan adalah 'Yang memiliki kasih sayang yang luas', sedangkan Rohiim adalah 'Yang memiliki sifat kasih sayang kepada siapa saja diantara hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya'.
Sebagaimana firman Allah ta'ala:
Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan
(QS.Al-'Ankabuut: 21)

[Rahimakallah]
 Rohimakallah, artinya, semoga Alloh melimpahkan rohmat kepadamu, sehingga kamu mendapatkan kebutuhan yang kamu cari dan selamat dari bahaya yang kamu hindari.
Kalimat ini mengandung makna, “Semoga Alloh mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu, memberikan pertolongan kepadamu serta melindungimu dari dosa-dosa di masa mendatang, ini jika permohonan rahmat diucapkan sendiri.
Adapun jika permohonan rahmat digabung dengan permohonan maghfiroh,
maka maghfiroh artinya ampunan terhadap dosa-dosa di masa lalu, sedangkan rahmat adalah pertolongan untuk melaksanakan kebaikan dan keselamatan dari dosa-dosa di masa mendatang.

Doa yang diucapkan oleh penulis rahimahullah ini menunjukkan perhattan dan kasih sayang beliau kepada pembaca serta bahwa beliau bertujuan baik kepada pembaca


[Empat masalah]
 Masalah-masalah yang disebutkan oleh penulis rahimahullah disini meliputi seluruh ajaran agama yang selayaknya mendapatkan perhatian karena manfaatnya yang besar.

[Tingkatan pengetahuan]
 Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya, dengan seyakin-yakinnya.

Pengetahuan itu memiliki enam tingkatan :
  1. Al-'Ilmu, yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya, dengan seyakin-yakinnya'
  2. Al-Jahlul-Basith, yaitu ketidaktahuan mengenai sesuatu, sama sekali.
  3. Al-Jahlul-Murokkab, yaitu mengetahui sesuatu, berbeda dari hakikatnya.
  4. Al-Wahmu. yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan kuat mengenai kebalikannya'
  5. Asy-Syakk, pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan yang sama mengenai kebalikannya
  6. Azh-Zhan, pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan lemah mengenai kebalikannya'
Ilmu dibagi menjadi dua, yaitu ilma dhoruri dan ilmu nazhori.
Ilmu dhoruri adalah yang obyek pengetahuan di dalamnya bersifat semi pasti, tidak perlu pemikiran dan pembuktian.
Misalnya pengetahuan bahwa api itu panas.
Sedangkan ilmu nazhori adalah yang membutuhkan pemikiran dan pembuktian.
Misalnya pengetahuan mengenai kewajiban berniat dalam berwudhu'


[Mengenal Allah]
 Mengenal Alloh maksudnva mengenal Alloh subhanahu wa ta'ala dengan hati yang berakibat kepada penerimaan syari'at yang ditetapkan-Nya', ketundukan dan kepatuhan kepada-Nya, serta sikap menjadikan syari'at-Nya yang dibawa oleh Rosul-Nya sebagai penentu hukum.
Seorang hamba bisa mengenal Robbnya dengan memperhatikan  ayat-ayat syar'iyah yang terdapat dalam Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shallallaahu 'alaihi wasallam serta memperhatikan ayat-ayat kauniyah yang terdapat pada makhluk-makhluk Alloh, karena semakin seseorang itu memperhatikan maka semakin bertambahlah pcngetahuannya tentang Penciptanya dan Tuhan yang diibadahi-Nya.
Allah berfirman [yang artinya]:
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan."
(QS. Adz-Dzariyaat :21)

[Mengenal Nabi]
 Mengenal Nabi maksudnya mengenal atau mengetahui Rosulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam dengan pengetahuan yang mengakibatkan: penerimaan kepada petunjuk dan ajaran benar yang dibawa oleh beliau, membenarkan segaia hal yang dikabarkannya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, menjadikan syariatnya sebagai sumber hukum, dan rela menerima ketentuan yang ditetapkannya.
Alloh 'azza wa jalla  berfirman [artinya]
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya
(QS. An-Nisaa: 65)

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung
(QS. An-Nuur: 51)

...Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya
(QS. An-Nisaa: 59)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa 'fitnah' atau ditimpa adzab yang pedih”
(QS. An-Nuur: 63)

Imam Ahmad rahimahullah berkata,
“Tahukah kalian apakah fitnah itu? Fitnah adalah perbuatan syirik. Bila seseorang membantah sebagian firman-Nya, barangkali ada sedikit penyimpangan yang terlintas di hatinya, sehingga ia binasa”


[Makna Islam secara umum dan khusus]
 Makna Islam secara umum adalah beribadah kepada Allah dengan syariat yang telah ditetapkan-Nya, sejak Alloh mengutus para rosul hingga terjadinya hari kiamat kelak.
Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan hal ini dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa seluruh syariat yang ada pada masa dahulu, merupakan wujud dari islam (ketundukan) kepada  Allah subhanahu wa ta'ala .
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman mengenai Ibrahim
“Ya Rabb kami, jadikan kami berdua orang yang tunduk patuh (muslim) kepada Engkau dan (jadikan) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh (muslim) kepada Engkau”
(QS. Al-Baqarah: 126)

Sedangkan Islam dalam arti khusus setelah diutusnya Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam adalah syariat yang dibawa oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam.
Sebab syariat yang dibawa oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam telah menghapuskan seluruh syariat terdahulu.
  Barangsiapa mengikutinya, dia muslim, sedangkan yang menentangnya bukan muslim.
Pengikut para rasul di zaman mereka disebut sebagai muslim.
Orang-orang Yahudi adalah muslim di zaman Musa Alaihi Salam.
Orang-orang Nashrani adalah muslim di zaman 'Isa Alaihi Salam.
Adapun setelah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam diutus, lantas mereka kafir kepada Beliau, maka mereka bukan muslim

Islam inilah satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah dan yang berguna bagi penganutnya,
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman [artinya]
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam
(QS. 'Ali-'Imran:19)
Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama) itu darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi
('QS. Ali-'Imran:85)

Islam inilah yang disebut oleh Allah sebagai karunia-Nya kepada Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam dan umatnya.
Allah subhanahu wa ta'ala  berfirman [artinya]
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu”
(QS. Al-Maidah:3)

[Dalil]
 Dalil adalah sesuatu yang menunjukkan kepada yang dikehendaki.
Dalil untuk mengetahui ilmu, terdiri dari dalil sam'i dan 'aqli.
Dalil sam'i didasarkan kepada wahyu, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah, sedangkan dalil 'aqli ditegaskan melalui pemikiran dan pengamatan.
Dalil untuk mengenal Alloh, banyak terdapat dalam kitab-Nya.
Sering Alloh berfirman, 'Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya .. begini dan begini... ". Banyak punya dalil aqli yang menunjukkan kepada Alloh Ta'la Adapun mengenal Nabi dengan dalil-dalil sam'i adalah seperti dalam firman Allah  [artinya]
“Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengannya ….”
(QS. Al Fath : 29)
“Muhammad hanyalah seorang rosul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rosul ….”
(QS. Ali Imran: 144)

Adapun dengan dalil `aqli adalah dengan memikirkan dan memperhatikan mukjizat-mukjizat beliau, yang tersebar di antaranya adalah Kitabulloh mengandung berita-berita benar dan bermanfaat serta hukum-hukum yang mewujudkan perbaikan dan keadilan; kemudian beberapa peristiwa luar biasa yang terjadi pada beliau; serta kabar-kabar yang beliau sampaikan mengenai perkara gaib yang tidak mungkin bisa beliau beritahukan kecuali berdasarkan informasi dari wahyu Alloh dan sebagiannya telah dibuktikan oleh beberapa peristiwa yang terjadi.

[Mengamalkannya]
 Mengamalkannya  artinya melaksanakan konsekuensi-konsekuensi pengetahuan tersebut, yaitu beriman kepada Alloh dan menaatiNya dengan cara melaksanakan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya, baik dalam beribadah khoshoh maupun ibadah muta`adiyah. Contoh ibadah khoshoh adalah sholat, puasa, haji. Sedangkan contoh ibadah muta`adiyah adalah amar makruf nahi munkar, jihad di sabilillah, dan sebagainya.

Hakikatnya, amal adalah buah ilmu.
Siapa beramal tanpa ilmu, ia seperti orang Nasrani, dan siapa berilmu namun tidak beramal, ia menyerupai orang Yahudi.

[Mendakwahkannya]
 Mendakwahkannya maksudnya mendakwahkan syariat Allah yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.
Tahapannya ada 3 atau 4.
Firman Allah swt [artinya]
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara  yang lebih baik...”
(QS. An-Nahl: 125)

Sedangkan tahapan dakwah keempat adalah sebagaimana firman Allah [artinya]
“Dan janganlah berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara paling baik”
(QS. Al-'Ankabuut: 46)

Seorang yang berdakwah harus memiliki ilmu tentang syariat Allah ta'ala, sehingga dakwah yang dilakukannya tegak diatas landasan ilmu dan bashirah, “hujjah nyata”.
Hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala [artinya]:
“Katakan, 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”
(QS. Yusuf: 108)
Bashirah dalam dakwah akan terwujud jika seorang da'i memiliki ilmu tentang hukum syar'i, metode dakwah dan keadaan sasaran dakwah (mad'u)

Dakwah meliputi banyak bidang, diantaranya melalui khutbah dan ceramah, makalah, halaqah ilmu, penulisan buku, dan majelis khusus, misalnya seseorang berada dalam sebuah majelis untuk berdakwah.
Inilah bidang-bidang dakwah.
Namun hendaknya dakwah dilakukan dengan cara yang tidak membosankan dan tidak memberatkan.
Caranya, misalnya seorang da'i terlebih dahulu memaparkan permasalahan secara ilmiah di hadapan orang-orang yang hadir di majelis, kemudian mulailah dilangsungkan dialog.
Dialog dan tanya jawab memang memiliki peran besar dalam membantu memahami dan memahamkan apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
Terkadang metode ini lebih efektif dibandingkan khutbah atau ceramah yang disampaikan dari satu arah.

Berdakwah mengajak kepada Alloh azza wa jalla adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang-orang yang meniti jejak mereka dengan baik.
Jika Alloh telah memberikan taufik kepada seseorang untuk mengenal Alloh sebagai ma'bud (yang diibadahinya), mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agamanya; hendaklah ia berusaha menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mengajak mereka kepada agama Alloh dan menyebarkan kebaikan.

Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib pada masa perang Khoibar:
"Bergeraklah perlahan-lahan sehingga kamu tiba di wilayah mereka, kemudian ajaklah mereka masuk Islam. Beritahulah mereka tentang hak Allah yang wajib mereka tunaikan dalam Islam. Demi Allah, sungguh jika Alloh memberikan petunjuk kepada seseorang lantaran dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah-merah.(HR. Bukhari, Muslim)

Nabi  shallallaahu 'alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim
'Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengukutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
 Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.
(HR. Muslim)

Nabi  shallallaahu 'alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim juga
"Siapa menunjukkan kebaikan, niscaya menperoleh pahala seperti pelakunya”
(HR. Muslim)


[Sabar]
 Sabar adalah menahan diri untuk tetap menaati Allah, tidak bermaksiat kepada-Nya, dan tidak membenci takdir-takdir yang ditetapkan-Nya. Atau menahan diri untuk tidak membenci, mengeluh, dan bosan.
Dengan kesabaran, seseorang senantiasa giat mendakwahkan agama Allah, sekalipun disakiti, karena penganiayaan terhadap da'i yang mendakwahkan kebaikan merupakan hal yang biasa dilakukan manusia, kecuali mereka yang mendapat petunjuk dari Allah.

Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya [artinya]
"Sesungguhnya telah didustakan (pula) rosul-rosul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka”
(QS. Al-An'am: 34)

Semakin keras penganiayaan terhadap seorang da'i maka semakin dekat pertolongan Allah.

Pertolongan Alloh tidak hanya diberikan-Nya ketika seseorang  masih hidup, saat ia masih bisa melihat pengaruh dakwahnya terwujud, tetapi bisa saja pertolongan itu datang setelah wafatnya, misalnya Allah menjadikan hati segenap manusia menerima dakwahnya dan berpegang teguh kepadanya.
Ini termasuk dalam kategori pertolongan Alloh kepada sang dai' meskipun ia telah wafat (karena itu seorang da'i harus bersabar dan konsisten menjalankan dakwahnya. Ia harus bersabar menjalankan agama Allah yang didakwahkannya dan juga harus bersabar menghadapi gangguan yang menimpa dirinya.
Lihatlah para rosul shallallahu 'alaihi wasallam juga diganggu dengan perkataan maupun perbuatan.

Alloh ta'ala berfirman [artinya]:
“Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, 'Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila”
(QS. Adz-Dzariaat: 52)

Allah ta'ala juga berfirman [artinya]:
Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi musuh dari (kalangan) orang-orang yang berdosa”
(QS. Al-Furqaan: 31)

Tetapi hendaklah seorang dai menerima perlakuan itu dengan sabar.

Perhatikan fiman Allah swt kepada Rosul-Nya shallallaahu 'alaihi wasallam :
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur"
(QS. Al-Insan: 23)

Sebenarnya wajar kiranya jika setelah firman Alloh ini yang dinantikan adalah sebuah ayat yang berbunyi,
 “Hendaklah kamu mensyukuri nikjmat Rabbmu!" 
Namun ternyata Allah subhanahu wa ta'ala berfirman [artinya]
“Maka, bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu”
(QS. Al-Insan: 24)

Ini mengandung isyarat bahwa setiap orang yang melaksanakan Al-Quran pasti mengalami hal-hal yang rnenuntutnya bersabar.

Perhatikan keadaan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam ketika dipukuli oleh kaumnya hingga darah mengucur di wajah beliau. sambil mengusap darah di wajah, beliau berdoa :
“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui"'
(HR. Bukhari, Muslim)

Karena itu, seorang dai wajib bersabar dan mengharap pahala dari sisi Alloh.

Ada tiga rnacam sabar :
  1. Sabar dalam menaati Allah.
  2. Sabar dalam meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
  3. Sabar menjalani takdir yang ditimpakan oleh Allah, baik takdir tersebut yang ditimpakan oleh Allah tanpa lantaran usaha manusia maupun yang melalui perantaraan tangan manusia berupa gangguan dan penganiayaan.
[Dalilnya adalah surat Al-'Ashr]

Maksud penulis adalah surat ini merupakan dalil mengenai keempat tahapan yang telah disebutkan.
Allah telah bersumpah dalam surat ini dengan masa yang di dalamnya terjadi peristiwa yang baik maupun yang buruk.
Allah subhanahu wa ta'ala bersumpah dengan masa bahwa setiap manusia pasti merugi, kecuali siapa yang memiliki 4 sifat ini, yakni iman, amal sholih, saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.


Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata. "Berjihad terhadap nafsu itu ada 4 tingkatan:
  1. Memaksanya untuk bersungguh-sungguh mempelajari petunjuk dan agama Islarn yang benar ini, di mana ia tidak akan memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kecuali dengan petunjuk dan agama tersebut.
  2. Memaksanya untuk bersungguh-sungguh mengamalkannya setelah mengetahuinya.
  3. Mernaksanya untuk bersungguh-sungguh,mendakwahkan dan mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya.
  4. Memaksanya untuk sungguh-sungguh bersabar terhadap kesukaran-kesukaran dan gangguan manusia dalam dakwah ilallah serta menanggung semua itu dengan mengharap ridho Allah. Jika seseorang telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka ia termasuk golongan 'robbaniyyin'

Dalam surat Al-Ashr ini, Allah subhanahu wa ta'ala  bersumpah dengan masa bahwa semua manusia dalam keadaan merugi meskipun memiliki banyak hatta dan anak, serta kedudukan yang sangat terhormat, kecuali siapa yang memiliki keempat sifat berikut ini secara lengkap:

Yang pertama:
Iman, yang meliputi setiap keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat yang mendekatkan kepada Alloh Ta'ala.

Yang kedua:
Amal sholih, yaitu semua perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepada Alloh.
Syaratnya: pelakunya melakukannya dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah dan mengikuti Sunnah Rosullulloh shallallaahu 'alaihi wasallam.

Yang ketiga:
Saling berwasiat untuk menegakkan kebenaran artinya saling menasihati dan menganjurkan untuk melaksanakan kebaikan.

Yang keempat:
Saling menasihati untuk menetapi kesabaran 
artinya saling menasihati untuk bersabar dalam melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta'ala , meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan menanggung takdir-takdir Alloh.
Saling menasihati dalam menegakkan kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran, juga meliputi tindakan amar makruf dan nahimunkar.
 Dengan amar makruf nahi munkar inilah sebuah umat akan berdiri kokoh, baik, dan memperoleh pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala , serta mendapatkan kemuliaan dan keutamaan.

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...”
(QS. Ali 'Imraan: 110)


[Imam Syafi'i]
 Asy-Syaf 'i adalah Abu Abdullah, Muhammad bin Idris bin Al-Abbas, bin 'utsman bin Syafi'i Al-Hasyimi Al-Quraisyi. Beliau dilahirkan di Gaza tahun 150 H dan wafat di Mesir pada tahun 204 H. 
Beliau salah seorang dari imam yang empat, semoga rohmat Allah dilimpahkan kepada mereka semua.

[Maksud bahwa Surat Al-'Ashr telah mencukupi]
Yang dimaksudkan oleh beliau rahimahullah adalah bahwa surat ini cukup bagi manusia untuk mendorong berpegang teguh kepada keimanan, amal sholih, dakwah kepada Alloh, dan kesabaran di atas itu semua.
Yang beliau maksudkan bukanlah bahwa surat ini cukup bagi manusia untuk menjelaskan seluruh syarlat Islam.

Ucapan beliau,
'Andaikata Allah tidak menurunkan hujah kepada manusia, kecuali surat ini, niscaya telah mencukupi mereka', adalah karena jika seseorang yang mempunyai akal dan pikiran sensitif, mendengar atau membaca surat ini, pasti berusaha untuk menyelamatkan diri dari kerugian, dengan berusaha memiliki empat sifat ini, yakni iman , amal sholih, saling menasihati untuk melaksanakan kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.

[Imam Bukhari]
 Al-Bukhari adalah Abu Abdullah, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin Al-Mughiroh A1-Bukhari. Lahir di Bukhara pada bulan Syawal tahun 194 H. Beliau tumbuh sebagai anak yatim, di bawah asuhan ibunya. Beliau wafat di Khortank, sebuah kota yang berjarak dua farsakh dari Samarkand, pada malam Idul Fitri tahun 256 H.


[Wajibnya berilmu sebelum berucap dan beramal]
Al-Bukhri rahimahullah menggunakan ayat ini sebagai dalil mengenai kewajiban memulai dengan ilmu sebelum berbicara dan beramal.
Ini merupakan dalil dari Al-Quran yang menunjukkan bahwa manusia mengetahui terlebih dahulu kemudian beramal. Sebab suatu ucapan maupun amalan tidak bisa diterima kecuali bila dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syariat, padahal tidak mungkin seseorang mengetahui bahwa amalnya sesuai dengan ketentuan syariat kecuali dengan ilmu. Namun ada hal-hal yang diketahui oleh manusia dengan fitrahnya, misalnya pengetahuan bahwa Allah merupakan satu-satunya ilah yang berhak diibadahi.
Semua hamba diciptakan Allah dengan fitrah ini, sehingga untuk menegaskan hal ini tidak diperlukan proses belajar yang banyak.
Adapun dalam masalah-masalah juziyyah yang sang luas, maka diperlukan proses belajar serta usaha yang intensif dan sungguh-sungguh. 



Bagaimana seseorang belajar?
Para ulama telah membimbing agar penuntut ilmu dapat memperoleh ilmu yang kokoh, diantaranya adalah dengan yang diistilahkan tsabat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata
"Tsabat artinya adalah sabar dan ulet, tidak merasa jemu dan tidak pula bosan serta tidak mengambil sebagian dari setiap kitab atau secuil dari satu disiplin ilmu lalu ditinggalkannya, karena hal ini akan membahayakan si penuntut ilmu dan waktupun terbuang tanpa faidah. Misalnya ada penuntut ilmu dalam ilmu nahwu terkadang dia membaca Al-Ajuruumiyah, tetapi di lain waktu dia membaca matan Qatrun Nada, dan di waktu yang lain dia membaca Alfiyah.
Demikian pula dalam hal ilmu mushthalah, kadang dia membaca kitab an-Nukhbah dan terkadang Alfiyah Al-'Iraqi. Juga dalam hal fiqih, terkadang dia membaca Zaadul Mustaqni' terkadang dia membaca 'Umdatul Fiqh, atau Al-Mughni atau Syarhul Muhadzdzab. Demikian seterusnya pada setiap kitab.
Pada umumnya orang seperti ini tidak akan meraih ilmu, walaupun bisa meraih ilmu, itupun hanya dalam beberapa masalah yang tidak mendasar. Orang yang memperoleh ilmu dalam beberapa masalah seperti orang yang menemukan belalang satu demi satu.
Jadi, penuntut ilmu haruslah belajar dengan mendasar, mendalam dan ulet. Inilah yang penting. Ulet berhubungan dengan kitab yang engkau baca dan engkau ulang-ulang, ulet juga dalam hal guru-guru yang engkau menimba ilmu kepada mereka. Janganlah engkau belajar secara bergiliran, setiap pekan kepada seorang guru (yang berbeda), atau setiap bulang berganti guru. Pertama-tama tetapkan (pilih) seorang guru yang engkau akan menimba ilmu kepadanya, kemudian setelah mantap, tetaplah (belajar kepadanya) dan janganlah setiap pekan atau bulan engkau berganti guru. Tidak ada bedanya, apakah engkau memilih guru dalam masalah fiqih atau guru lain dalam ilmu nahwu atau guru lainnya dalam masalah aqidah dan tauhid kemudian engkau terus bersamanya dalam hal itu. Yang penting, jangan engkau berganti-ganti guru, sehingga engkau seperti  seorang tukang  menceraikan,setiap kali menikahi seorang wanita, dia tinggal bersama wanita itu selama sepekan lalu dia ceraikan dan pergi untuk mencari wanita lainnya.
(Kitaabul 'Imi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

Jadi, dalam belajar dengan cara menentukan sebuah kitab yang akan dipelajari dan dikuasai betul, tidak dengan topik/materi pembahasan yang "ngalor-ngidul" yang pada akhirnya dia tidak  mendapat apa-apa. Oleh karena itu dalam belajar harus
terstruktur, artinya materi-materinya tersusun rapi seperti materi-materi yang umum ada dalam sebuah kitab.

BERJENJANG
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:
"Mulailah dari kitab-kitab kecil dan menelaahnya dengan baik, lalu setelah itu pindahlah kepada kitab di atasnya sehingga engkau memperoleh ilmu sedikit demi sedikit secara mendalam di hatimu dan menyebabkan munculnya ketenangan dalam jiwamu" 
(Kitaabul 'Imi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

Beliau juga berkata:
"Mulailah pertama kali, seperti yang saya katakan, dengan matan-matan yang ringkas, sedikit demi sedikit sehingga engkau akan sampai kepada tujuan. Adapun jika engkau ingin menaiki pohon dari rantingnya, maka ini adalah salah" 
(Kitaabul 'Imi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

Demikianlah seharusnya dalam belajar, yakni dari materi-materi dasar, kemudian diatasnya, kemudian diatasnya. Adapun jika seorang pemula memulai belajar dengan cara mempelajari materi-materi yang luas, misalkan saja seorang pemula masuk dalam perbedaan-perbedaan pendapat antar madzhab, maka dia sulit akan mendapatkan faidah yang banyak.

TEREVALUASI
Sudah berapa lama kita menjadi muslim?
Sudah berapa lama kita mengenal dakwah Sunnah?
Sudah berapa juz Al-Qur'an yang kita hafal?
Sudah berapa banyak hadits Nabi yang kita hafal?
Sudah berapa banyak matan kitab yang kita hafal?
Sudah seberapa paham dari Al-Qur'an, hadits, matan kitab yang sudah kita hafal?

Kalau kita belajar dengan cara mulazamah kepada ulama, atau di ma'had-ma'had ilmu, tentu hal di atas tidak terlalu masalah. Akan tetapi bagi kita  yang ta'limnya hanya 1x sepekan, atau lebih parah lagi hanya saat tabligh akbar saja, maka tidak menutup kemungkinan, walaupun kita sudah lama ngaji, tetapi ketika kita ditanya dalam permasalahan-permasalah agama maka kita tidak mampu untuk menyampaikannya secara ilmiah, yakni dengan "apa kata Allah dan apa kata Rasulullah"

Mengapa bisa demikian?
Bisa jadi hal tersebut lantaran tidak ada mekanisme evaluasi dalam proses belajarnya.
Jadi,
proses belajar yang baik adalah dengan terstruktur - berjenjang - terevaluasi ...

Wallahu a'lam



sumber:
http://santri.web.id/index.php/tsalatsatul-ushul/92-muqodimah-kewajiban-mempelajari-4-hal
http://santri.web.id/index.php/section-blog/48-web/622-terstruktur-berjenjang-terevaluasi