Kewajiban mempelajari 4 hal
|
بسم الله الرحمن الرحيم
اعلم رحمك الله أنه يجب علينا تعلم أربع مسائلالأولى : العلم وهو معرفة الله ، وعرفة نبيه ، ومعرفة دين الإسلام بالأدلةالثانية : العمل بهالثالثة : الدعوة إليهالرابعة : الصبر على الأذى فيه ، والدليل قوله تعالى : بسم الله الرحمن الرحيم , والعصر, إن الإنسان لفي خسر , إلا الذين ءامنوا وعملوا الصالحات وتواصواْ بالحق وتواصواْ بالصبر
قال الشافعي رحمه الله تعالى : لو ما أنزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهموقال البخاري رحمه الله تعالى ( باب ) العلم قبل القول والعمل ، والدليل قوله تعالى : فاعلم أنه لآ إله الله واستغفر لذنبك … فبدأ بالعلم قبل القول والعلم
بسم الله الرحمن الرحيم
Ketahuilah saudaraku,
semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepadamu
Bahwa wajib bagi kita untuk mendalami empat masalah,
yaitu:
1. Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya.
2. Amal, yaitu menerapkan ilmu ini.
3. Da'wah, yaitu mengajak orang lain kepada ilmu ini.
4. Sabar, yaitu tabah dan teguh dalam mengahadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan berdakwah kepada-Nya.
Dalilnya, firman Allah ta’ala:
والعصر, إن الإنسان لفي خسر , إلا الذين ءامنوا وعملوا الصالحات وتواصواْ بالحق وتواصواْ بالصبر
Demi masa.
Sesungguhya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.
Kecuali orang-orang yang beriman, dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya menta'ati kebenaran, dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”
(Surah Al-‘Ashr: 1-3).
Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala, mengatakan:
“Seandainya Allah hanya menurunkan surat ini saja sebagai hujjah buat makhluk-Nya, tanpa hujjah lain, sungguh telah cukup surat ini sebagai hujjah bagi mereka.”
Dan Imam Al-Bukhari rahimahullahu ta’ala, mengatakan:
“Bab: Ilmu didahulukan sebelum ucapan dan perbuatan.
Dalilnya firman Allah ta’ala:
فاعلم أنه لآ إله الله واستغفر لذنبك
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.”
(QS. Muhammad: 19).
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu (berpengetahuan)… Sebelum ucapan dan perbuatan.
Syarah dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
[Basmallah]
Penulis rahimahullah memulai kitabnya dengan basmalah untuk:
- Mengikuti kitabullah, Al-Qur'an, karena kitabullah dimulai dengan basmalah
- Disamping itu, Penulis mengikuti hadits: "Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah maka ia terputus" (Hadits ini diperselisihkan keshahihannya)
- Penulis juga mencontoh perbuatan Rasul shallallaahu 'alaihi wasallam, sebab beliau shallallaahu 'alaihi wasallam mengawali tulisan-tulisan beliau dengan basmallah
Kalimat "Dengan menyebut nama Allah ini, berkaitan dengan kata yang terhapus, yaitu sebuah kata kerja yang lebih akhir, yang sesuai dengan keadaan. Penafsirannya disini, "Dengan nama Allah saya menulis atau saya menyusun kitab"
Kami menafsirkannya dengan kata kerja, karena pada dasarnya amal itu berupa perbuatan.
Dan kamimenafsirkannya sebagai kata kerja yang terletak lebih akhir, untuk 2 faedah:
- Mengharapkan barokah dari memulai dengan menyebut nama Allah subhanahu wa ta'ala
- Untuk pembatasan pada nama Alloh saja, karena mendahulukan susunan kata itu menunjukkan pembatasan
Kami menafsirkannya bahwa kata kerja tersebut harus sesuai, karena hanya hanya demikianlah yang bisa lebih menjelaskan maksud.
Sebab, andaikata kita mengartikan "Dengan nama Allah kami memulai," maka, tidak diketahui apakah yang kita mulai.
Tetapi jika kita mengatakan "Dengan nama Alloh saya membaca" maka perkataan ini bisa lebih menjelaskan maksud perbuatan yang dimulai dengan nama Allah itu.
[Allah]
Allah adalah nama untuk Sang Pencipta, Yang Maha Agung dan Yang Maha Luhur.
Allah adalah nama yang diikuti oleh seluruh nama lain.
Karena itu dalam firman Allah:
(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi.
Dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih
(QS. Ibrahim:1-2)
Kami berpendapat bahwa lafzhul jalalah "Alloh", pada ayat di atas, bukan sifat, melainkan 'athaf' bayan (penggabungan yang berfungsi menjelaskan), agar lafal tersebut tidak menjadi tabi' sebagaimana dalam na'at dan man'ut.
[Rohmaan]
Rohmaan adalah salah satu nama dikhususkan bagl Alloh, tidak boleh digunakan untuk menyebut selain-Nya. Rohmaan berarti “Yang memiliki sifat kasih sayang yang luas”
[Rahiim]
Rohiim adalah nama yang bisa digunakan untuk menyebut Alloh maupun selain-Nya.
Makna Rohiim adalah 'Yang memiliki sifat kasih sayang yang terus-menerus.
Rohmaan adalah 'Yang memiliki kasih sayang yang luas', sedangkan Rohiim adalah 'Yang memiliki sifat kasih sayang kepada siapa saja diantara hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya'.
Sebagaimana firman Allah ta'ala:
Allah mengazab siapa yang dikehendaki-Nya, dan memberi rahmat kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan
(QS.Al-'Ankabuut: 21)
[Rahimakallah]
Rohimakallah, artinya, semoga Alloh melimpahkan rohmat kepadamu, sehingga kamu mendapatkan kebutuhan yang kamu cari dan selamat dari bahaya yang kamu hindari.
Kalimat ini mengandung makna, “Semoga Alloh mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu, memberikan pertolongan kepadamu serta melindungimu dari dosa-dosa di masa mendatang, ini jika permohonan rahmat diucapkan sendiri.
Adapun jika permohonan rahmat digabung dengan permohonan maghfiroh,
maka maghfiroh artinya ampunan terhadap dosa-dosa di masa lalu, sedangkan rahmat adalah pertolongan untuk melaksanakan kebaikan dan keselamatan dari dosa-dosa di masa mendatang.
Doa yang diucapkan oleh penulis rahimahullah ini menunjukkan perhattan dan kasih sayang beliau kepada pembaca serta bahwa beliau bertujuan baik kepada pembaca
[Empat masalah]
Masalah-masalah yang disebutkan oleh penulis rahimahullah disini meliputi seluruh ajaran agama yang selayaknya mendapatkan perhatian karena manfaatnya yang besar.
[Tingkatan pengetahuan]
Ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya, dengan seyakin-yakinnya.
Pengetahuan itu memiliki enam tingkatan :
- Al-'Ilmu, yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan hakikatnya, dengan seyakin-yakinnya'
- Al-Jahlul-Basith, yaitu ketidaktahuan mengenai sesuatu, sama sekali.
- Al-Jahlul-Murokkab, yaitu mengetahui sesuatu, berbeda dari hakikatnya.
- Al-Wahmu. yaitu pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan kuat mengenai kebalikannya'
- Asy-Syakk, pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan yang sama mengenai kebalikannya
- Azh-Zhan, pengetahuan tentang sesuatu dengan kemungkinan lemah mengenai kebalikannya'
Ilmu dibagi menjadi dua, yaitu ilma dhoruri dan ilmu nazhori.
Ilmu dhoruri adalah yang obyek pengetahuan di dalamnya bersifat semi pasti, tidak perlu pemikiran dan pembuktian.
Misalnya pengetahuan bahwa api itu panas.
Sedangkan ilmu nazhori adalah yang membutuhkan pemikiran dan pembuktian.
Misalnya pengetahuan mengenai kewajiban berniat dalam berwudhu'
[Mengenal Allah]
Mengenal Alloh maksudnva mengenal Alloh subhanahu wa ta'ala dengan hati yang berakibat kepada penerimaan syari'at yang ditetapkan-Nya', ketundukan dan kepatuhan kepada-Nya, serta sikap menjadikan syari'at-Nya yang dibawa oleh Rosul-Nya sebagai penentu hukum.
Seorang hamba bisa mengenal Robbnya dengan memperhatikan ayat-ayat syar'iyah yang terdapat dalam Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh shallallaahu 'alaihi wasallam serta memperhatikan ayat-ayat kauniyah yang terdapat pada makhluk-makhluk Alloh, karena semakin seseorang itu memperhatikan maka semakin bertambahlah pcngetahuannya tentang Penciptanya dan Tuhan yang diibadahi-Nya.
Allah berfirman [yang artinya]:
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan."
(QS. Adz-Dzariyaat :21)
[Mengenal Nabi]
Mengenal Nabi maksudnya mengenal atau mengetahui Rosulullah Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam dengan pengetahuan yang mengakibatkan: penerimaan kepada petunjuk dan ajaran benar yang dibawa oleh beliau, membenarkan segaia hal yang dikabarkannya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, menjadikan syariatnya sebagai sumber hukum, dan rela menerima ketentuan yang ditetapkannya.
Alloh 'azza wa jalla berfirman [artinya]
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya
(QS. An-Nisaa: 65)
Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung
(QS. An-Nuur: 51)
...Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya
(QS. An-Nisaa: 59)
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa 'fitnah' atau ditimpa adzab yang pedih”
(QS. An-Nuur: 63)
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
“Tahukah kalian apakah fitnah itu? Fitnah adalah perbuatan syirik. Bila seseorang membantah sebagian firman-Nya, barangkali ada sedikit penyimpangan yang terlintas di hatinya, sehingga ia binasa”
[Makna Islam secara umum dan khusus]
Makna Islam secara umum adalah beribadah kepada Allah dengan syariat yang telah ditetapkan-Nya, sejak Alloh mengutus para rosul hingga terjadinya hari kiamat kelak.
Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan hal ini dalam banyak ayat yang menunjukkan bahwa seluruh syariat yang ada pada masa dahulu, merupakan wujud dari islam (ketundukan) kepada Allah subhanahu wa ta'ala .
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman mengenai Ibrahim
“Ya Rabb kami, jadikan kami berdua orang yang tunduk patuh (muslim) kepada Engkau dan (jadikan) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh (muslim) kepada Engkau”
(QS. Al-Baqarah: 126)
Sedangkan Islam dalam arti khusus setelah diutusnya Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam adalah syariat yang dibawa oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam.
Sebab syariat yang dibawa oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam telah menghapuskan seluruh syariat terdahulu.
Barangsiapa mengikutinya, dia muslim, sedangkan yang menentangnya bukan muslim.
Pengikut para rasul di zaman mereka disebut sebagai muslim.
Orang-orang Yahudi adalah muslim di zaman Musa Alaihi Salam.
Orang-orang Nashrani adalah muslim di zaman 'Isa Alaihi Salam.
Adapun setelah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam diutus, lantas mereka kafir kepada Beliau, maka mereka bukan muslim
Islam inilah satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah dan yang berguna bagi penganutnya,
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman [artinya]
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam
(QS. 'Ali-'Imran:19)
Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama) itu darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi
('QS. Ali-'Imran:85)
Islam inilah yang disebut oleh Allah sebagai karunia-Nya kepada Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam dan umatnya.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman [artinya]
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu”
(QS. Al-Maidah:3)
[Dalil]
Dalil adalah sesuatu yang menunjukkan kepada yang dikehendaki.
Dalil untuk mengetahui ilmu, terdiri dari dalil sam'i dan 'aqli.
Dalil sam'i didasarkan kepada wahyu, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah, sedangkan dalil 'aqli ditegaskan melalui pemikiran dan pengamatan.
Dalil untuk mengenal Alloh, banyak terdapat dalam kitab-Nya.
Sering Alloh berfirman, 'Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya .. begini dan begini... ". Banyak punya dalil aqli yang menunjukkan kepada Alloh Ta'la Adapun mengenal Nabi dengan dalil-dalil sam'i adalah seperti dalam firman Allah [artinya]
“Muhammad adalah utusan Allah. Dan orang-orang yang bersama dengannya ….”
(QS. Al Fath : 29)
“Muhammad hanyalah seorang rosul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rosul ….”
(QS. Ali Imran: 144)
Adapun dengan dalil `aqli adalah dengan memikirkan dan memperhatikan mukjizat-mukjizat beliau, yang tersebar di antaranya adalah Kitabulloh mengandung berita-berita benar dan bermanfaat serta hukum-hukum yang mewujudkan perbaikan dan keadilan; kemudian beberapa peristiwa luar biasa yang terjadi pada beliau; serta kabar-kabar yang beliau sampaikan mengenai perkara gaib yang tidak mungkin bisa beliau beritahukan kecuali berdasarkan informasi dari wahyu Alloh dan sebagiannya telah dibuktikan oleh beberapa peristiwa yang terjadi.
[Mengamalkannya]
Mengamalkannya artinya melaksanakan konsekuensi-konsekuensi pengetahuan tersebut, yaitu beriman kepada Alloh dan menaatiNya dengan cara melaksanakan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya, baik dalam beribadah khoshoh maupun ibadah muta`adiyah. Contoh ibadah khoshoh adalah sholat, puasa, haji. Sedangkan contoh ibadah muta`adiyah adalah amar makruf nahi munkar, jihad di sabilillah, dan sebagainya.
Hakikatnya, amal adalah buah ilmu.
Siapa beramal tanpa ilmu, ia seperti orang Nasrani, dan siapa berilmu namun tidak beramal, ia menyerupai orang Yahudi.
[Mendakwahkannya]
Mendakwahkannya maksudnya mendakwahkan syariat Allah yang dibawa oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam.
Tahapannya ada 3 atau 4.
Firman Allah swt [artinya]
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik...”
(QS. An-Nahl: 125)
Sedangkan tahapan dakwah keempat adalah sebagaimana firman Allah [artinya]
“Dan janganlah berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara paling baik”
(QS. Al-'Ankabuut: 46)
Seorang yang berdakwah harus memiliki ilmu tentang syariat Allah ta'ala, sehingga dakwah yang dilakukannya tegak diatas landasan ilmu dan bashirah, “hujjah nyata”.
Hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala [artinya]:
“Katakan, 'Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah nyata. Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik”
(QS. Yusuf: 108)
Bashirah dalam dakwah akan terwujud jika seorang da'i memiliki ilmu tentang hukum syar'i, metode dakwah dan keadaan sasaran dakwah (mad'u)
Dakwah meliputi banyak bidang, diantaranya melalui khutbah dan ceramah, makalah, halaqah ilmu, penulisan buku, dan majelis khusus, misalnya seseorang berada dalam sebuah majelis untuk berdakwah.
Inilah bidang-bidang dakwah.
Namun hendaknya dakwah dilakukan dengan cara yang tidak membosankan dan tidak memberatkan.
Caranya, misalnya seorang da'i terlebih dahulu memaparkan permasalahan secara ilmiah di hadapan orang-orang yang hadir di majelis, kemudian mulailah dilangsungkan dialog.
Dialog dan tanya jawab memang memiliki peran besar dalam membantu memahami dan memahamkan apa yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.
Terkadang metode ini lebih efektif dibandingkan khutbah atau ceramah yang disampaikan dari satu arah.
Berdakwah mengajak kepada Alloh azza wa jalla adalah tugas para Rasul dan merupakan jalan orang-orang yang meniti jejak mereka dengan baik.
Jika Alloh telah memberikan taufik kepada seseorang untuk mengenal Alloh sebagai ma'bud (yang diibadahinya), mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agamanya; hendaklah ia berusaha menyelamatkan saudara-saudaranya dengan mengajak mereka kepada agama Alloh dan menyebarkan kebaikan.
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib pada masa perang Khoibar:
"Bergeraklah perlahan-lahan sehingga kamu tiba di wilayah mereka, kemudian ajaklah mereka masuk Islam. Beritahulah mereka tentang hak Allah yang wajib mereka tunaikan dalam Islam. Demi Allah, sungguh jika Alloh memberikan petunjuk kepada seseorang lantaran dirimu, itu lebih baik bagimu daripada unta yang merah-merah.(HR. Bukhari, Muslim)
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim
'Barangsiapa mengajak kepada petunjuk, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengukutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.
Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.
(HR. Muslim)
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim juga
"Siapa menunjukkan kebaikan, niscaya menperoleh pahala seperti pelakunya”
(HR. Muslim)
[Sabar]
Sabar adalah menahan diri untuk tetap menaati Allah, tidak bermaksiat kepada-Nya, dan tidak membenci takdir-takdir yang ditetapkan-Nya. Atau menahan diri untuk tidak membenci, mengeluh, dan bosan.
Dengan kesabaran, seseorang senantiasa giat mendakwahkan agama Allah, sekalipun disakiti, karena penganiayaan terhadap da'i yang mendakwahkan kebaikan merupakan hal yang biasa dilakukan manusia, kecuali mereka yang mendapat petunjuk dari Allah.
Allah Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya [artinya]
"Sesungguhnya telah didustakan (pula) rosul-rosul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka”
(QS. Al-An'am: 34)
Semakin keras penganiayaan terhadap seorang da'i maka semakin dekat pertolongan Allah.
Pertolongan Alloh tidak hanya diberikan-Nya ketika seseorang masih hidup, saat ia masih bisa melihat pengaruh dakwahnya terwujud, tetapi bisa saja pertolongan itu datang setelah wafatnya, misalnya Allah menjadikan hati segenap manusia menerima dakwahnya dan berpegang teguh kepadanya.
Ini termasuk dalam kategori pertolongan Alloh kepada sang dai' meskipun ia telah wafat (karena itu seorang da'i harus bersabar dan konsisten menjalankan dakwahnya. Ia harus bersabar menjalankan agama Allah yang didakwahkannya dan juga harus bersabar menghadapi gangguan yang menimpa dirinya.
Lihatlah para rosul shallallahu 'alaihi wasallam juga diganggu dengan perkataan maupun perbuatan.
Alloh ta'ala berfirman [artinya]:
“Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, 'Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila”
(QS. Adz-Dzariaat: 52)
Allah ta'ala juga berfirman [artinya]:
Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi musuh dari (kalangan) orang-orang yang berdosa”
(QS. Al-Furqaan: 31)
Tetapi hendaklah seorang dai menerima perlakuan itu dengan sabar.
Perhatikan fiman Allah swt kepada Rosul-Nya shallallaahu 'alaihi wasallam :
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur"
(QS. Al-Insan: 23)
Sebenarnya wajar kiranya jika setelah firman Alloh ini yang dinantikan adalah sebuah ayat yang berbunyi,
“Hendaklah kamu mensyukuri nikjmat Rabbmu!"
Namun ternyata Allah subhanahu wa ta'ala berfirman [artinya]
“Maka, bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Rabbmu”
(QS. Al-Insan: 24)
Ini mengandung isyarat bahwa setiap orang yang melaksanakan Al-Quran pasti mengalami hal-hal yang rnenuntutnya bersabar.
Perhatikan keadaan Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam ketika dipukuli oleh kaumnya hingga darah mengucur di wajah beliau. sambil mengusap darah di wajah, beliau berdoa :
“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui"'
(HR. Bukhari, Muslim)
Karena itu, seorang dai wajib bersabar dan mengharap pahala dari sisi Alloh.
Ada tiga rnacam sabar :
- Sabar dalam menaati Allah.
- Sabar dalam meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah.
- Sabar menjalani takdir yang ditimpakan oleh Allah, baik takdir tersebut yang ditimpakan oleh Allah tanpa lantaran usaha manusia maupun yang melalui perantaraan tangan manusia berupa gangguan dan penganiayaan.
[Dalilnya adalah surat Al-'Ashr]
Maksud penulis adalah surat ini merupakan dalil mengenai keempat tahapan yang telah disebutkan.
Allah telah bersumpah dalam surat ini dengan masa yang di dalamnya terjadi peristiwa yang baik maupun yang buruk.
Allah subhanahu wa ta'ala bersumpah dengan masa bahwa setiap manusia pasti merugi, kecuali siapa yang memiliki 4 sifat ini, yakni iman, amal sholih, saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata. "Berjihad terhadap nafsu itu ada 4 tingkatan:
- Memaksanya untuk bersungguh-sungguh mempelajari petunjuk dan agama Islarn yang benar ini, di mana ia tidak akan memperoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kecuali dengan petunjuk dan agama tersebut.
- Memaksanya untuk bersungguh-sungguh mengamalkannya setelah mengetahuinya.
- Mernaksanya untuk bersungguh-sungguh,mendakwahkan dan mengajarkannya kepada yang tidak mengetahuinya.
- Memaksanya untuk sungguh-sungguh bersabar terhadap kesukaran-kesukaran dan gangguan manusia dalam dakwah ilallah serta menanggung semua itu dengan mengharap ridho Allah. Jika seseorang telah menyempurnakan keempat tingkatan ini, maka ia termasuk golongan 'robbaniyyin'
Dalam surat Al-Ashr ini, Allah subhanahu wa ta'ala bersumpah dengan masa bahwa semua manusia dalam keadaan merugi meskipun memiliki banyak hatta dan anak, serta kedudukan yang sangat terhormat, kecuali siapa yang memiliki keempat sifat berikut ini secara lengkap:
Yang pertama:
Iman, yang meliputi setiap keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat yang mendekatkan kepada Alloh Ta'ala.
Yang kedua:
Amal sholih, yaitu semua perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepada Alloh.
Syaratnya: pelakunya melakukannya dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah dan mengikuti Sunnah Rosullulloh shallallaahu 'alaihi wasallam.
Yang ketiga:
Saling berwasiat untuk menegakkan kebenaran artinya saling menasihati dan menganjurkan untuk melaksanakan kebaikan.
Yang keempat:
Saling menasihati untuk menetapi kesabaran
artinya saling menasihati untuk bersabar dalam melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta'ala , meninggalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan menanggung takdir-takdir Alloh.
Saling menasihati dalam menegakkan kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran, juga meliputi tindakan amar makruf dan nahimunkar.
Dengan amar makruf nahi munkar inilah sebuah umat akan berdiri kokoh, baik, dan memperoleh pertolongan Allah subhanahu wa ta'ala , serta mendapatkan kemuliaan dan keutamaan.
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...”
(QS. Ali 'Imraan: 110)
[Imam Syafi'i]
Asy-Syaf 'i adalah Abu Abdullah, Muhammad bin Idris bin Al-Abbas, bin 'utsman bin Syafi'i Al-Hasyimi Al-Quraisyi. Beliau dilahirkan di Gaza tahun 150 H dan wafat di Mesir pada tahun 204 H.
Beliau salah seorang dari imam yang empat, semoga rohmat Allah dilimpahkan kepada mereka semua.
[Maksud bahwa Surat Al-'Ashr telah mencukupi]
Yang dimaksudkan oleh beliau rahimahullah adalah bahwa surat ini cukup bagi manusia untuk mendorong berpegang teguh kepada keimanan, amal sholih, dakwah kepada Alloh, dan kesabaran di atas itu semua.
Yang beliau maksudkan bukanlah bahwa surat ini cukup bagi manusia untuk menjelaskan seluruh syarlat Islam.
Ucapan beliau,
'Andaikata Allah tidak menurunkan hujah kepada manusia, kecuali surat ini, niscaya telah mencukupi mereka', adalah karena jika seseorang yang mempunyai akal dan pikiran sensitif, mendengar atau membaca surat ini, pasti berusaha untuk menyelamatkan diri dari kerugian, dengan berusaha memiliki empat sifat ini, yakni iman , amal sholih, saling menasihati untuk melaksanakan kebenaran, dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran.
[Imam Bukhari]
Al-Bukhari adalah Abu Abdullah, Muhammad bin Isma'il bin Ibrahim bin Al-Mughiroh A1-Bukhari. Lahir di Bukhara pada bulan Syawal tahun 194 H. Beliau tumbuh sebagai anak yatim, di bawah asuhan ibunya. Beliau wafat di Khortank, sebuah kota yang berjarak dua farsakh dari Samarkand, pada malam Idul Fitri tahun 256 H.
[Wajibnya berilmu sebelum berucap dan beramal]
Al-Bukhri rahimahullah menggunakan ayat ini sebagai dalil mengenai kewajiban memulai dengan ilmu sebelum berbicara dan beramal.
Ini merupakan dalil dari Al-Quran yang menunjukkan bahwa manusia mengetahui terlebih dahulu kemudian beramal. Sebab suatu ucapan maupun amalan tidak bisa diterima kecuali bila dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syariat, padahal tidak mungkin seseorang mengetahui bahwa amalnya sesuai dengan ketentuan syariat kecuali dengan ilmu. Namun ada hal-hal yang diketahui oleh manusia dengan fitrahnya, misalnya pengetahuan bahwa Allah merupakan satu-satunya ilah yang berhak diibadahi.
Semua hamba diciptakan Allah dengan fitrah ini, sehingga untuk menegaskan hal ini tidak diperlukan proses belajar yang banyak.
Adapun dalam masalah-masalah juziyyah yang sang luas, maka diperlukan proses belajar serta usaha yang intensif dan sungguh-sungguh.
Bagaimana seseorang belajar?
Para ulama telah membimbing agar penuntut ilmu dapat memperoleh ilmu yang kokoh, diantaranya adalah dengan yang diistilahkan tsabat.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata
"Tsabat artinya adalah sabar dan ulet, tidak merasa jemu dan tidak pula bosan serta tidak mengambil sebagian dari setiap kitab atau secuil dari satu disiplin ilmu lalu ditinggalkannya, karena hal ini akan membahayakan si penuntut ilmu dan waktupun terbuang tanpa faidah. Misalnya ada penuntut ilmu dalam ilmu nahwu terkadang dia membaca Al-Ajuruumiyah, tetapi di lain waktu dia membaca matan Qatrun Nada, dan di waktu yang lain dia membaca Alfiyah.
Demikian pula dalam hal ilmu mushthalah, kadang dia membaca kitab an-Nukhbah dan terkadang Alfiyah Al-'Iraqi. Juga dalam hal fiqih, terkadang dia membaca Zaadul Mustaqni' terkadang dia membaca 'Umdatul Fiqh, atau Al-Mughni atau Syarhul Muhadzdzab. Demikian seterusnya pada setiap kitab.
Pada umumnya orang seperti ini tidak akan meraih ilmu, walaupun bisa meraih ilmu, itupun hanya dalam beberapa masalah yang tidak mendasar. Orang yang memperoleh ilmu dalam beberapa masalah seperti orang yang menemukan belalang satu demi satu.
Jadi, penuntut ilmu haruslah belajar dengan mendasar, mendalam dan ulet. Inilah yang penting. Ulet berhubungan dengan kitab yang engkau baca dan engkau ulang-ulang, ulet juga dalam hal guru-guru yang engkau menimba ilmu kepada mereka. Janganlah engkau belajar secara bergiliran, setiap pekan kepada seorang guru (yang berbeda), atau setiap bulang berganti guru. Pertama-tama tetapkan (pilih) seorang guru yang engkau akan menimba ilmu kepadanya, kemudian setelah mantap, tetaplah (belajar kepadanya) dan janganlah setiap pekan atau bulan engkau berganti guru. Tidak ada bedanya, apakah engkau memilih guru dalam masalah fiqih atau guru lain dalam ilmu nahwu atau guru lainnya dalam masalah aqidah dan tauhid kemudian engkau terus bersamanya dalam hal itu. Yang penting, jangan engkau berganti-ganti guru, sehingga engkau seperti seorang tukang menceraikan,setiap kali menikahi seorang wanita, dia tinggal bersama wanita itu selama sepekan lalu dia ceraikan dan pergi untuk mencari wanita lainnya.
(Kitaabul 'Imi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).
Jadi, dalam belajar dengan cara menentukan sebuah kitab yang akan dipelajari dan dikuasai betul, tidak dengan topik/materi pembahasan yang "ngalor-ngidul" yang pada akhirnya dia tidak mendapat apa-apa. Oleh karena itu dalam belajar harus
terstruktur, artinya materi-materinya tersusun rapi seperti materi-materi yang umum ada dalam sebuah kitab.
BERJENJANG
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata:
"Mulailah dari kitab-kitab kecil dan menelaahnya dengan baik, lalu setelah itu pindahlah kepada kitab di atasnya sehingga engkau memperoleh ilmu sedikit demi sedikit secara mendalam di hatimu dan menyebabkan munculnya ketenangan dalam jiwamu"
(Kitaabul 'Imi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).
Beliau juga berkata:
"Mulailah pertama kali, seperti yang saya katakan, dengan matan-matan yang ringkas, sedikit demi sedikit sehingga engkau akan sampai kepada tujuan. Adapun jika engkau ingin menaiki pohon dari rantingnya, maka ini adalah salah"
(Kitaabul 'Imi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).
Demikianlah seharusnya dalam belajar, yakni dari materi-materi dasar, kemudian diatasnya, kemudian diatasnya. Adapun jika seorang pemula memulai belajar dengan cara mempelajari materi-materi yang luas, misalkan saja seorang pemula masuk dalam perbedaan-perbedaan pendapat antar madzhab, maka dia sulit akan mendapatkan faidah yang banyak.
TEREVALUASI
Sudah berapa lama kita menjadi muslim?
Sudah berapa lama kita mengenal dakwah Sunnah?
Sudah berapa juz Al-Qur'an yang kita hafal?
Sudah berapa banyak hadits Nabi yang kita hafal?
Sudah berapa banyak matan kitab yang kita hafal?
Sudah seberapa paham dari Al-Qur'an, hadits, matan kitab yang sudah kita hafal?
Kalau kita belajar dengan cara mulazamah kepada ulama, atau di ma'had-ma'had ilmu, tentu hal di atas tidak terlalu masalah. Akan tetapi bagi kita yang ta'limnya hanya 1x sepekan, atau lebih parah lagi hanya saat tabligh akbar saja, maka tidak menutup kemungkinan, walaupun kita sudah lama ngaji, tetapi ketika kita ditanya dalam permasalahan-permasalah agama maka kita tidak mampu untuk menyampaikannya secara ilmiah, yakni dengan "apa kata Allah dan apa kata Rasulullah"
Mengapa bisa demikian?
Bisa jadi hal tersebut lantaran tidak ada mekanisme evaluasi dalam proses belajarnya.
Jadi,
proses belajar yang baik adalah dengan terstruktur - berjenjang - terevaluasi ...
Wallahu a'lam
sumber:
http://santri.web.id/index.php/tsalatsatul-ushul/92-muqodimah-kewajiban-mempelajari-4-hal
http://santri.web.id/index.php/section-blog/48-web/622-terstruktur-berjenjang-terevaluasi