Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu (selanjutnya KASSP) sedang hangat
dibicarakan oleh para pakar sejarah dan budaya sekarang, karena KASSP
banyak memiliki peninggalan yang unik.
Pertama,
Sampai sekarang banyak terdapat rumah gadang (adat), sehingga dijuluki sebagai nagari seribu rumah gadang.
Kedua,
Budaya yang dipakai di KASSP tidak sama dengan daerah luhak (darek) dan tidak sama pula dengan rantau, sehingga dikenal dengan ikua darek kapalo rantau.
Ketiga,
Pertama,
Sampai sekarang banyak terdapat rumah gadang (adat), sehingga dijuluki sebagai nagari seribu rumah gadang.
Kedua,
Budaya yang dipakai di KASSP tidak sama dengan daerah luhak (darek) dan tidak sama pula dengan rantau, sehingga dikenal dengan ikua darek kapalo rantau.
Ketiga,
Secara historis wilayah ini ini
juga dilukiskan memiliki sejarah kerajaan tua Minangkabau.
Beberapa peninggalan sejarah hingga kini masih dapat ditelusuri dan menarik untuk terus diteliti lebih jauh, seperti:
Terdapatnya Istana Puti Sigintir,
Istana Tuangku Rajo Malenggang dan Rajo Putiah di Pasir Talang,
serta Istana Tuanku Rajo Bagindo di Balun,
Peninggalan sejarah semasa awal masuk Islam di Minangkabau seperti:
Mesjid Kurang Aso 60 di Pasir Talang dan
Mesjid Raya serta surau Menara di Koto Baru.
Beberapa peninggalan sejarah hingga kini masih dapat ditelusuri dan menarik untuk terus diteliti lebih jauh, seperti:
Terdapatnya Istana Puti Sigintir,
Istana Tuangku Rajo Malenggang dan Rajo Putiah di Pasir Talang,
serta Istana Tuanku Rajo Bagindo di Balun,
Peninggalan sejarah semasa awal masuk Islam di Minangkabau seperti:
Mesjid Kurang Aso 60 di Pasir Talang dan
Mesjid Raya serta surau Menara di Koto Baru.
Dengan
keunikan-keunikan tersebut KASSP sekarang akan dijadikan warisan budaya
dunia.
Kerajaan Alam Minangkabau dan Hubungannya dengan daerah Rantau
Minangkabau merupakan daerah budaya.
Sebagai daerah budaya , merupakan daerah dinamis.
Kedinamisan inilah yang membuat banyak terjadi perubahan dalam rentangan sejarah Minangkabau.
Dalam Tambo Minangkabau diceritakan, sebelum Alam Minangkabau terbentuk yang ada hanyalah "luhak nan tuo", yakni Luhak Tanah Datar.
Dikatakan sebagai "luhak nan tuo" karena di sinilah nenek moyang orang Minangkabau mulai ada dan berkembang biak.
Kemudian sesuai dengan perkembangan waktu, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan dipengaruhi oleh perpindahan penduduk ke tempat yang baru maka munculah Luhak Agam serta Luhak Limapuluh Kota.
Setelah ketiga daerah ini terbentuk maka lahirlah sebutan daerah luhak dan tigo kepada mereka. Secara georafis, daerah ini terletak di bagian tengah Alam Minangkabau atau di kawasan barat bagian tengah Pulau sumatera.
Secara tepografis posisinya berada di daerah pedalaman yang berbukit-bukit di jajaran Pegunungan Bukit barisan.
Posisi yang terakhir ini menyebabkan ia juga terkenal dengan sebutan darek (daerah pedalaman yang terletak di dataran tinggi).
Setelah luhak nan tigo terbentuk dan penduduk semakin berkembang dibutuhkan lahan baru untuk pemukiman penduduk, tempat mendapatkan bahan makanan atau tempat di mana mereka bisa saling berinteraksi dengan kelompok masyarakat lain.
Dalam tambo daerah yang baru terbentuk ini disebut rantau.
Secara geografis rantau terletak di sekeliling luhak dan tigo.
Secara topografis daerah ini dapat dibedakan menjadi dua tipe utama,
- pertama, rantau pedalaman yang juga terletak di dataran tinggi, umumnya sebelah selatan dan utara luhak nan tigo,
- kedua, rantau dataran rendah yang terletak di kawasan pesisir (tepi pantai) dan di iliran beberapa buah sungai besar, umumnya terletak di sebelah barat dan timur luhak nan tigo.
Di samping dua daerah utama di atas, dalam tambo disebutkan, bahwa di beberapa tempat antara luhak nan tigo dan rantau terdapat sebuah kawasan yang disebut sebagai ikua darek kapalo rantau.
Dua ikua darek kapalo rantau yang terletak diantara luhak nan tigo dengan rantau pesisir di sebelah barat adalah kawasan Maninjau dan sekitar Kayutanam.
Sedangkan ikua darek kapalo rantau yang lain terletak diantara luhak nan tigo dengan rantau XII Koto yaitu kawasan Alam Sungai Pagu.
Menurut Gusti Asnan, sebutan luhak nan tuo terhadap Tanah Datar sesungguhnya tidak hanya memiliki makna sebagai daerah pertama yang ada dalam metamorfosis wilayah di Minangkabau, tetapi juga memiliki makna sosial-politik dalam hubungan pusat-pinggiran di Minangkabau (Gusti Asnan, 2005: 4).
Sebagaimana telah disebutkan, Luhak Tanah Datar merupakan daerah di mana nenek moyang orang Minangkabau dan perkampungan pertama orang Minangkabau mulai ada.
Dalam pengertian ini, Tanah Datar adalah pusat ingatan kolektif orang Minangkabau akan asal-usul penduduk di daerah pinggiran, seperti Siak Sri Indrapura, Muara Takus, Kampar (Propinsi Riau), Pangkalan Jambu, Tungkal Ulu dan Jambi timur (Propinsi Jambi), Pasaman, Pariaman, Padang dan Pesisir Selatan (Propinsi Sumatera Barat) dan mungkin juga penduduk Negeri Sembilan (Malaysia) hampir selalu mengaitkan asal-usul nenek moyang mereka dengan Tanah Datar.
Di samping itu, Tanah Datar di mana Pagaruyung berada adalah daerah yang dituakan dalam lapangan politik tradisional Minangkabau.
Banyak tambo daerah pinggiran juga menginformasikan bagaimana penguasa atau Raja yang telah ada di daerah mereka disahkan oleh Pagaruyung atau bagaimana seorang baru dikirim dari Pagaruyung sebagai wakil Raja di sana.
Sebagai daerah yang dituakan, baik dalam perspektif perkembangan daerah, sosial atau politik, Tanah Datar pada umumnya dan Pagaruyung pada khususnya, bisa dikatakan sebagai pusat dari alam Minangkabau.
Status sebagai pusat ala mini bisa muncul karena Tanah Datar atau Pagaruyung mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi dinamika sosial, politik, ekonomi dan budaya daerah pinggiran. Sebaliknya daerah pengaruh dari tanah Datar atau Pagaruyung karena mereka juga mengakui akan kelebihan dari kedua daerah itu.
Daerah pinggiran rantau dan ikua darek kapalo rantau juga menampilkan sebuah fenomena yang menarik.
Sebagai daaerah pinggiran, kedua daerah ini memang menjadi daerah pengaruh dari luhak nan tigo.
Sistem dan corak sosial, politik, ekonomi dan budaya daerah pinggiran dalam beberapa hal ditentukan oleh daerah pusat, terutama oleh Pagaruyung dan Tanah Datar.
Pengaruh daerah pusat itu, terutama pengaruh politik, bisa hadir karena adanya penyerahan dari daerah pinggiran, jadi bukan ditentukan oleh pusat.
Dalam bidang politik, tidak pernah daerah pinggiran mendapat peraturan-peraturan pemerintahan yang didiktekan oleh pemerintah pusat di Pagaruyung.
Fenomena unik lainnya dari daerah pinggiran adalah munculnya hubungan pusat-pinggiran yang baru di daerah pinggiran itu.
Sumber-sumber sejarah tradisional menyebutkan, beberapa daerah ikua darek kapalo rantau, misalnya Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu telah menjadi pusat pula bagi daerah Pasir nan Gemilang atau Bandar Sepuluh, daerah rantau yang terdapat di rantau pesisir bagian Selatan.
Hubungan Kerajaan Alam Minangkabau dengan Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu dan Bandar Sepuluh.
Banda Sapuluah merupakan daerah Minangkabau
yang penting di masa lalu karena dari sinilah dikapalkan emas, lada,
dan bahan-bahan hasil pertanian dan hutan lainnya ke manca negara.
Emas
adalah komoditi penting di masa lalu yang berasal dari kawasan Pesisir
Pantai Sumatera Barat ini.
Di dalam pepatah pidato adat Alam Minangkabau
dikatakan bahwa ameh manah dari Banda Sapuluah (Emas dari
Bandar Sepuluh).
Jadi dapat dikatakan bahwa kawasan Banda Sapuluah di
masa lalu adalah kawasan lalu lintas perdagangan internasional.
Jika
kita melihat kondisi saat ini di kawasan Banda Sapuluah, kita tidak
menyangka bahwa pada zaman dahulunya pelabuhan-pelabuhan di Banda
Sapuluah adalah pelabuhan yang penting dan ramai dikunjungi oleh
pedagang dari manca negara.
Menurut Tambo Alam Sungai Pagu, yang
dimaksud dengan negeri Alam Surambi Sungai Pagu adalah Dua Rantau-nya.
Pertama,
Rantau Si Kija Batang Gumanti Sungai Abu Batang Hari,
merupakan
cancang latiah Niniak Nan Kurang Aso Anam Puluah (59).
Kedua,
Banda Nan
Sapuluah cancang latiah niniak nan kurang aso anam puluah,
turun dari
Sungai Pagu terus jalan dari Kambang, wilayah ninik nan kurang aso anam
puluah, kalang hulunya Salido, tumpuannyo Air Haji.
Maksudnya batasnya
dari Salido sebelah utara dan sampai Air Haji yang berbatasan dengan
Indrapura di Selatan.
Secara Adat daerah ini merupakan cancang
latiah ninik nan kurang aso anam puluah,
dimana penduduknya adalah anak
kemenakan sapiah balahan : jajak nan tatukiak, unjut nan tabantang,
sarawan tali pukek, jauah ka tangah manjadi wilayah ninik nan kurang
aso anam puluah.
Dipakai gelar pusako di Sungai Pagu oleh segala sapiah
balahan di Bandar Nan Sapuluah itu.
Dengan demikian apabila hendak
mengetahui siapa sapiah balahannya, sepanjang adat maka ketahui sajalah
gelar pusako adat yang dipakainya.
Tetapi jauh sebelumnya, menurut tutur
orang tua tua tidaklah demikian.
Karena sejak bermukimnya Urang Darek
di Pesisir sampai permulaan abad ke 16 M daerah yang dikenal sekarang
sebagai bagian dari Kabupaten Pesisir Selatan, adalah sebuah jajaran
kawasan yang sama yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Orang tua-tua dari
darek Minangkabau menyebut penduduk kawasan itu sebagai Urang Baruah.
Kosakata baruah artinya hilir,
ke hilir berarti ke baruah.
Negeri-negeri sepanjang jalur Pesisir Selatan mulai dari batas kota
Padang, yakni dari Sibingkeh Tarusan, Bayang, Salido, Painan, Batang
Kapeh, Surantih, Kambang, Amping Parak, Balai Selasa, Air Haji,
Indrapura, Tapan, Lunang, Silaut dan Muko-Muko disebut baruah.
Pai ka
Baruah, berarti pergi ke Rantau Hilir yang sekarang bernama Pesisir
Selatan.
Urang Baruah berarti orang / penduduk asli Pesisir Selatan
sekarang.
Tetapi dalam sejarah tradisi
(historiografi tradisional), arti baruah juga merujuk kepada kawasan
yang disebut sebagai Nagari-nagari Sahiliran Batang Barus, (nama asli
Batang Air Tarusan adalah Batang Barus) yakni nagari-nagari Koto Sabaleh
Tarusan sekarang.
Dari Teluk Kabung sampai ke batas Indrapura (sampai
Muko-Muko) disebut “Koto Sabaleh – Banda Sapuluah”.
“Koto Sabaleh
Tarusan”, merupakan wilayah Rantau Kubuang Tigo Baleh (Guguak) ,
dan
“Banda Sapuluah” merupakan wilayah Rantau Sungai Pagu.
Antara Koto
Sabaleh dengan Banda Sapuluah sebenarnya ada kawasan yang berdiri
sendiri yang disebut “Bayang Nan Tujuah Koto Salapan”, juga merupakan
wilayah Rantau Kubung Tigo Baleh, yakni dari Koto Nan Tigo : Kinari,
Koto Anau, dan Muaro Paneh.
Dalam perjalanan sejarahnya kemudian
sebagian nagari Bayang dilepaskan menjadi nagari penyangga, yakni Salido
yang dahulunya bernama Kualo Bungo Pasang, merupakan pertemuan dua
rantau, yaitu Rantau Kubuang Tigo Baleh dengan Rantau Sungai Pagu. Raja
pertama Salido adalah dari Sungai Pagu.
Atas kesepakatan bersama antara
Raja /Sultan Indrapura, Raja / Penghulu-Penghulu Bayang dan Raja
Tarusan, sesuai dengan situasi dan kondisi politik masa itu, Salido
diserahkan kepada Kompeni Belanda sementara Rajanya tetap dari Sungai
Pagu.
Sejak itu Salido disebut “Selidah Persuarangan”
Jauh sebelum itu, ada delapan bandar
dari Banda Sapuluah merupakan wilayah dua Raja, masing-masing Raja
Taluak Sinyalai Tambang Papan dengan kedudukan Raja di Kualo Sungai
Nyalo.
Ditambah satu perkampungan di hulu sungai, yakni Galanggang
Kasai, hingga menjadi sebelas.
Sedangkan yang sepuluh berada di tepi
pantai.
Kesepuluh bandar di pelabuhan itu dari selatan ke utara adalah :
1. Kualo Bungo Pasang,
2. Taluak Tampuruang Pinang Balirik,
3. Taluak Sinyalai Tambang Papan,
4. Kualo Sungai Nyalo,
5. Taluak Maracu Indo,
6. Kualo Indocito,
7. Kualo Banda Nyiua Condong,
8. Pulau Mayang Manggi,
9. Taluak Jambu Aia, dan
10. Labuahan Cino.
Keseluruhannya terbentang dari Salido
sampai Teluk Kabung sekarang.
Dua Bandar masing-masing Kualo Bungo
Pasang dan Taluak Tampuruang Pinang Balirik merupakan kera jaan
tersendiri.
Dan kesepuluhnya merupakan “koto” menjadi sebelas dengan
Galanggang Kasai yang terletak di bagian hulu Sungai Batang Barus.
Galanggang Kasai merupakan kedudukan
kedua dari Rajo Mudo, satu dari tiga Raja yang bersemayam di Rawang
Hitam pinggang Gunung Selasih (gunung Talang) kira-kira permulaan abad
ke 12 M.
Kesepuluh Bandar bersama Galanggang Kasai merupakan Koto
Sabaleh yang utuh.
Tetapi itu hanya dulu, sampai pada abad ke 16 M
Koto Sebelas merupakan kawasan yang sama (tidak termasuk Kualo Bungo
Pasang dan Pinang Balirik) terdiri dari :
1. Taratak
2. Sungai Lundang
3. Siguntur
4. Barung Barung Balantai
5. Koto Pulai
6. Dusun jo Duku
7. Nanggalo
8. Batuhampar
9. Kapuah Sungai Talang
10. Sungai Pinang.
Perubahan ini terjadi lagi pada tahun
1854.
Dalam perjalanan sejarah pembentukan nagari di Tarusan, kemudian
pada tahun 1915 muncul kenagarian, yakni :
1. Siguntur
2. Barung-barung Balantai
3. Duku termasuk Dusun
4. Batuhampar
5. Nanggalo
6. Kapuah Sungai Talang
7. Ampang Pulai dan
8. Sungai Pinang.
Banda Sapuluah Rantau Sungai Pagu
Urang Darek yang datang dari Sungai Pagu
mendirikan sepuluh bandar pula di tepi pantai.
Ketika Banda Sapuluah di
utara tenggelam, maka sepuluh bandar di selatan inilah yang masyhur
dengan nama Banda Sapuluah.
Jajaran Banda Sapuluah inilah kemudian
merupakan kawasan Rantau Sungai Pagu, bahkan
Belanda pada permulaan kekuasaan Kompeni di pertengahan abad ke 17 M
menyebut kawasan inilah yang bernama Sungai Pagu, walaupun diantara
penduduknya ada juga yang berasal dari Kubung Tigo Baleh.
Kesepuluh
Bandar itu terdiri dari :
1. Batang Kapeh
2. Taluak
3. Taratak
4. Surantiah
5. Ampiang Parak
6. Kambang
7. Lakitan
8. Palangai
9. Sungai Tunu, dan
10. Punggasan.
Banda Sapuluah ini merupakan wilayah
dalam lingkungan kerajaan Sungai Pagu.
Pada abad ke 17 M yakni pada awal
pendirian kerajaan, ibu negeri tempat kedudukan raja kerajaan Sungai
Pagu adalah Ampiang Parak.
Kemudian pindah ke Muara Labuh.
Tetapi
kemudian (pada akhir abad ke 17 M) Raja Alam Sungai Pagu menyerahkan dan
memberi mandat kepada Sultan Indrapura mengurus Banda Sapuluah dan di
Banda Sapuluah inilah kelak muncul Air Haji.
Banda Sapuluah dan Air Haji pada akhir abad ke 17 M secara resmi menjadi wilayah kerajaan Kesultanan Indrapura.
Banda Sapuluah dan Air Haji pada akhir abad ke 17 M secara resmi menjadi wilayah kerajaan Kesultanan Indrapura.
(Hal ini dimungkinkan karena terjadinya tukar
guling daerah Sangir yang merupakan wilayah Inderapura yang dikuasai
Sungai Pagu, diganti dengan wilayah Banda Sapuluah menjadi wilayah
Kerajaan Indrapura, dijelaskan dalam tulisan lain ).
Untuk tiap-tiap “bandar palabuhan” atau
kota pelabuhan, sebagai nagari dipimpin oleh seorang yang berpangkat Raja tetapi dipilih oleh para Penghulu.
Untuk Kambang dipilih oleh para Penghulu Kampai Nan barampek.
Di Air Haji oleh orang Panai Tigo Ibu.
Untuk Kambang dipilih oleh para Penghulu Kampai Nan barampek.
Di Air Haji oleh orang Panai Tigo Ibu.
Penduduk Alam Surambi Sungai PaguPenduduk
Alam Surambi Sungai Pagu adalah suku Minangkabau yang termasuk kedalam
Ras Melayu.
Mereka pergi ke Sungai Pagu terdiri dari tiga tahap, yaitu :
1. Gelombang yang pertama tidak diceritakan dari mana datangnya, jalan mana yang ditempuhnya,
kelompok penduduk ini disebut Sitatok-Sitarahan-Sianya-Sipilihan (Proto Melayu/Melayu Tua).
Sungai Pagu Mereka namakan Banda Lakun,
wilayah yang dihuninya adalah : Taratak Paneh, Taratak Baru, Taratak Bukareh (Kanagarian Alam Pauh Duo), Gaduang dan Balun.
Mereka pergi ke Sungai Pagu terdiri dari tiga tahap, yaitu :
1. Gelombang yang pertama tidak diceritakan dari mana datangnya, jalan mana yang ditempuhnya,
kelompok penduduk ini disebut Sitatok-Sitarahan-Sianya-Sipilihan (Proto Melayu/Melayu Tua).
Sungai Pagu Mereka namakan Banda Lakun,
wilayah yang dihuninya adalah : Taratak Paneh, Taratak Baru, Taratak Bukareh (Kanagarian Alam Pauh Duo), Gaduang dan Balun.
2. Gelombang yang Kedua datang dari
daerah antara Sungai Musi dan Batang Hari (Deutero Melayu/Melayu Muda),
datang ke Alam Surambi Sungai Pagu dari arah hilir memudiki Batang
Hari.
Kelompok ini belum memiliki suku dan mendirikan sebuah kerajaan dengan Raja yang bergelar “Bagombak Putiah Bajangguik Merah” tiga dari kali berturut-turut yang bermukim di Koto Tuo, Banuaran (Alam pauah Duo), yang diantaranya;
1. Niniak Nan Kawi Majo Ano Bagombak Putiah Bajangguik Merah Nan minum ditabuang bapaluik, makan bajamba surang.
2. Niniek Duano Gaja Gilo Bagombak Putiah Bajangguik Merah,
Kelompok ini belum memiliki suku dan mendirikan sebuah kerajaan dengan Raja yang bergelar “Bagombak Putiah Bajangguik Merah” tiga dari kali berturut-turut yang bermukim di Koto Tuo, Banuaran (Alam pauah Duo), yang diantaranya;
1. Niniak Nan Kawi Majo Ano Bagombak Putiah Bajangguik Merah Nan minum ditabuang bapaluik, makan bajamba surang.
2. Niniek Duano Gaja Gilo Bagombak Putiah Bajangguik Merah,
Pado maso
baliau ko rakyatlah mulai managakkan rumah, manaruko sawah malalui
lambai hari/gotong royong.
3. Niniak Parendangan Bagornbak Putiah Bajangguik Merah,
Pado
rnaso baliau ko makin batambah laweh daerah taklukan dan jajahan, rnaso
itu rakyat santoso, taranak bakambang biak, padi masak jaguang maupiah,
baliau nan mandirikan kampuang Malabuah nan kini banamo MUARO LABUAH.
Dimano meningganyo dan kamano painyo baliau indak dikatahui, indak tantu kabanyo jikok mati, batahun-tahun lamonyo Sungai Pagu kahilangan Rajo atau indak mampunyoi Rajo.
Dimano meningganyo dan kamano painyo baliau indak dikatahui, indak tantu kabanyo jikok mati, batahun-tahun lamonyo Sungai Pagu kahilangan Rajo atau indak mampunyoi Rajo.
Mako tampilah ka Istano lnyiak Majolelo, dan
langsuang mangumumkan pado masyarakat bahaso beliau Rajo Sungai Pagu,
karano indak mamanuhi syarat, mako ditolak dek rakyat.
Kamudian barangkek maninggakan Sungai Pagu utusan Niniak kurang Aso
Anam Puluah sabanyak 5 urang pai ka nagari Iskandar Alam/Kedudukan Raja
Besar nan Dipertuan Rajo Alam, dan manarimo titah ditabuahkan memakai
sako kabasaran, yoitu:
· Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah/Rajo Alam (manjunjuang mahkota kuala Qamar)
· Yang Dipertuan Tuanku Rajo Bagindo/Rajo Adat
· Yang Dipertuan Tuanku Rajo Malenggang/mangurus Hak Daciang
· Yang Dipertuan Tuanku Rajo Batuah/Rajo Ibadah
Nan surang mangundurkan diri dan indak jadi Rajo tapi dibari gala sajo, dibarilah namo kehormatan “Yang Dipertuan Bagindo Saripado” jadi tungkek dan pembantu dari rajo (adieknyo Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah) kok bajalan kaganti kaki, kok bakato kaganti lidah, karano manuruik hukum adat “capek rajo indak bajalan, cadiak rajo indak bakato”.
4. Niniak Syamsudin Sadewono, Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah, langsuang tadiri dari Rajo Nan Barampek untuk imbalan Basa Ampek balai dalam susunan pernerintahan Daulat (Dang Tuanku – Bundo Kanduang) di Alam Minangkabau luhak nan Tigo).
· Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah/Rajo Alam (manjunjuang mahkota kuala Qamar)
· Yang Dipertuan Tuanku Rajo Bagindo/Rajo Adat
· Yang Dipertuan Tuanku Rajo Malenggang/mangurus Hak Daciang
· Yang Dipertuan Tuanku Rajo Batuah/Rajo Ibadah
Nan surang mangundurkan diri dan indak jadi Rajo tapi dibari gala sajo, dibarilah namo kehormatan “Yang Dipertuan Bagindo Saripado” jadi tungkek dan pembantu dari rajo (adieknyo Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah) kok bajalan kaganti kaki, kok bakato kaganti lidah, karano manuruik hukum adat “capek rajo indak bajalan, cadiak rajo indak bakato”.
4. Niniak Syamsudin Sadewono, Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah, langsuang tadiri dari Rajo Nan Barampek untuk imbalan Basa Ampek balai dalam susunan pernerintahan Daulat (Dang Tuanku – Bundo Kanduang) di Alam Minangkabau luhak nan Tigo).
Wilayah Kerajaan ini meliputi;
Kisaran Camin Tolam ke Rantau 12 Koto,
Koto Ubi, Koto Hilalang,
Langkok Kadok Langkok Jarang,
Batu Angek Batu Kangkuang,
sampai ka Limun Batang Asai,
lapeh ke Rejang Lebong-Bengkulu,
tahantak ka Gunuang Medan,
manyisir ka Lubuak Pinang Lako,
sarato Lubuak Pinang Malam,
lalu ka Talao Aia Sirah.
Kisaran Camin Tolam ke Rantau 12 Koto,
Koto Ubi, Koto Hilalang,
Langkok Kadok Langkok Jarang,
Batu Angek Batu Kangkuang,
sampai ka Limun Batang Asai,
lapeh ke Rejang Lebong-Bengkulu,
tahantak ka Gunuang Medan,
manyisir ka Lubuak Pinang Lako,
sarato Lubuak Pinang Malam,
lalu ka Talao Aia Sirah.
3.
Gelombang yang ke Tiga datang dari Pagaruyuang (Campuran Melayu Tua dan
Melayu Muda), datang ke Sungai Pagu dari arah Hulu Batang Suliti.
Dimana kelompok penduduk inilah berdirinya Alam Surambi Sungai Pagu,
wilayahnya meliputi dari Balun Batu Hilir, lalu ke languang jo Koto Baru, sampai ka batang Marinteh Mudiak (Alam Pauah Duo), taruih ka Sako Luhak nan Tujuah, surambinyo di Pasisia Banda nan Sapuluah, Rantaunyo Rantau Duo Baleh Koto.
Dimana kelompok penduduk inilah berdirinya Alam Surambi Sungai Pagu,
wilayahnya meliputi dari Balun Batu Hilir, lalu ke languang jo Koto Baru, sampai ka batang Marinteh Mudiak (Alam Pauah Duo), taruih ka Sako Luhak nan Tujuah, surambinyo di Pasisia Banda nan Sapuluah, Rantaunyo Rantau Duo Baleh Koto.
Luhak Nan Tujuah yaitu :
1. Sungai Durian
2. Sungai Talu
3. Sawah Siluak
4. Lolo/Alai
5. Mudiak Lawe
6. Sipotu
7. Sungai Cangkar
1. Sungai Durian
2. Sungai Talu
3. Sawah Siluak
4. Lolo/Alai
5. Mudiak Lawe
6. Sipotu
7. Sungai Cangkar
Banda nan Sapuluah yaitu :
1. Aie Haji
2. Sungai Tunu
3. Palangai
4. Punggasan
5. Lakitan
6. Kambang
7. Ampiang Parak
8. Surantiah
9. batang Kapeh
10. Bungo Pasang
1. Aie Haji
2. Sungai Tunu
3. Palangai
4. Punggasan
5. Lakitan
6. Kambang
7. Ampiang Parak
8. Surantiah
9. batang Kapeh
10. Bungo Pasang
Samaso
Niniak Sutan Parendangan, Bagombak Putiah Bajangguik Merah,
Daerah jajahannya meliputi mulai dari Kisaran Camin Tolam, karantau Duo Baleh Koto, Koto Ubi, Koto Hilalang, Langkok Kadok Langkok Jarang, Batu Angik Batu Kangkuang, sampai ka Lamun batang Asai, lapeh ka Rejang Bengkulu, tahantak ka Gunuang Medan, manyisie ka Lubuak Pinang Lako, sarato Lubuak Pinang Malam, lalu ka Talao Aie Sirah.
Daerah jajahannya meliputi mulai dari Kisaran Camin Tolam, karantau Duo Baleh Koto, Koto Ubi, Koto Hilalang, Langkok Kadok Langkok Jarang, Batu Angik Batu Kangkuang, sampai ka Lamun batang Asai, lapeh ka Rejang Bengkulu, tahantak ka Gunuang Medan, manyisie ka Lubuak Pinang Lako, sarato Lubuak Pinang Malam, lalu ka Talao Aie Sirah.
Alam Surambi Sungai Pagu yang dahulunya
bernama Kualo banda Lakun, ikua lareh kapalo rantau-kapak randai luhak
nan tigo.
Barambun ka Batang Hari-batampuak ka bukik Gombak-batangkai ka Jambu Lipo, bakapak ka Indra Giri-barandai ka Indrapuro.
Pertama-tama berjalan niniak yang delapan, kepala rombongannya bernama Niniak nan Kawi Majo Ano, yang selalu hidup berkehidupan didalam hutan rimba, berawal antara Musi dan Batang Hari, ikut sebanyak delapan orang laki-laki dan perempuan, (tapi tidak disebutkan hubungan antara yang satu dengan yang lainnya), jumlahnya delapan orang, atau Niniak Nan Salapan, begitu disebutkan di dalam Tambo, terdiri dari :
1. Niniak nan Kawi Majo Ano Samsudin Sadewano (Ketua Rombongan dan Raja Pertama)
2. Niniak Ramang Hitam
3. Niniak Ramang Putiah
4. Niniak Ratu Sarek
5. Niniak Indalan
6. Niniak Kumbo
7. Niniak Ba’ani
8. Niniak Candai Halui
Barambun ka Batang Hari-batampuak ka bukik Gombak-batangkai ka Jambu Lipo, bakapak ka Indra Giri-barandai ka Indrapuro.
Pertama-tama berjalan niniak yang delapan, kepala rombongannya bernama Niniak nan Kawi Majo Ano, yang selalu hidup berkehidupan didalam hutan rimba, berawal antara Musi dan Batang Hari, ikut sebanyak delapan orang laki-laki dan perempuan, (tapi tidak disebutkan hubungan antara yang satu dengan yang lainnya), jumlahnya delapan orang, atau Niniak Nan Salapan, begitu disebutkan di dalam Tambo, terdiri dari :
1. Niniak nan Kawi Majo Ano Samsudin Sadewano (Ketua Rombongan dan Raja Pertama)
2. Niniak Ramang Hitam
3. Niniak Ramang Putiah
4. Niniak Ratu Sarek
5. Niniak Indalan
6. Niniak Kumbo
7. Niniak Ba’ani
8. Niniak Candai Halui
Diantara Delapan Niniak tersebut, yang mempunyai keturunan adalah empat orang niniak, yaitu :
1. Niniak Indalan
2. Niniak Kumbo
3. Niniak Ba’ani
4. Niniak Candai Halui
1. Niniak Indalan
2. Niniak Kumbo
3. Niniak Ba’ani
4. Niniak Candai Halui
Empat Niniak inilah asal muasal suku Melayu Ampek Niniak,
Sungai Sayui mulo kadiunyi tapi indak jadi, taruih bajalan ka Sungai Singkut dan Batang Tebo, lamo manatap di Batang Jujuan, dari batang jujuan Bukik sabalah kida arah selatan ka arah Utara jalan ditaruihkan rombongan Niniak Nan Salapan, patang hari ditamui sabuah sungai nan dibari namo Sungai Batang Hari, sungai batang hari taruih ditelusuri arah ka hulu jo bapuluah-puluah anak sungai nan tadapek suok kida.
Sungai Sayui mulo kadiunyi tapi indak jadi, taruih bajalan ka Sungai Singkut dan Batang Tebo, lamo manatap di Batang Jujuan, dari batang jujuan Bukik sabalah kida arah selatan ka arah Utara jalan ditaruihkan rombongan Niniak Nan Salapan, patang hari ditamui sabuah sungai nan dibari namo Sungai Batang Hari, sungai batang hari taruih ditelusuri arah ka hulu jo bapuluah-puluah anak sungai nan tadapek suok kida.
Setelah
lama diperjalanan ditemui sebuah sungai yang bacabang dua menjadi
satu, satu sebelah kanan dan satunya lagi sebelah kiri, air yang
mengalir dari sungai sebelah kanan itu warnanya agak karuah karak
(kotor), diperkirakan mungkin sudah ada penghuninya, ditempuh ke mudik
dengan teliti, yang akhirnya disebut dengan Batang Suliti, sungai yang
jernih sebelah kiri tidak jadi ditempuh hanya diangko (diangka) saja,
sampai disebut sampai sekarang Batang Bangko.
Niniak nan Kawi Majo Ano terus memudik-i Batang Suliti, sudah sekian lama lalu beristirahat di tepian nan bapasie (Pasir) tumbuah bambu yang bernama Talang, itulah asalnya bernama Nagari Pasir Talang, beliau terpikat melihat daerah ini, maka diberi tanda dengan ditandai tempat ini dengan memotong pangkal Batang Manau (Jenis Rotan) untuk melilitkan sebuah sebuah batang kayu yang tinggi dan rindang.
Dilukiskan dalam Tambo panjang manau tersebut 131 (tanpa satuan) ujungnya sampai ke sipanjang, daunnya sampai ke Sirampak, ujung Manau di Melayu Kaciak (Kecil) Koto Kaciak pertengahannya, di Melayu pangkalnya di kampuang dalam, setelah itu perjalanan Niniek nan Salapan diteruskan ke arah hulu dan beristirahat di Sungai Manau.
Niniak nan Kawi Majo Ano terus memudik-i Batang Suliti, sudah sekian lama lalu beristirahat di tepian nan bapasie (Pasir) tumbuah bambu yang bernama Talang, itulah asalnya bernama Nagari Pasir Talang, beliau terpikat melihat daerah ini, maka diberi tanda dengan ditandai tempat ini dengan memotong pangkal Batang Manau (Jenis Rotan) untuk melilitkan sebuah sebuah batang kayu yang tinggi dan rindang.
Dilukiskan dalam Tambo panjang manau tersebut 131 (tanpa satuan) ujungnya sampai ke sipanjang, daunnya sampai ke Sirampak, ujung Manau di Melayu Kaciak (Kecil) Koto Kaciak pertengahannya, di Melayu pangkalnya di kampuang dalam, setelah itu perjalanan Niniek nan Salapan diteruskan ke arah hulu dan beristirahat di Sungai Manau.
Berjalan pula Niniak moyang kita yang
berjumlah 60 (enam puluh) orang (sebelumnya 73 orang) dan 13 orang
tinggal di wilayah Solok-Kubuang 13, berasal dari daerah Tanjuang Bungo,
meniti pematang panjang, bakaliaran di sapanuah Bukik Barisan,
sehiliran Batang Bangkaweh, salimbak agam, manampuah Dindiang Koto
Tinggi, manyubarang ka Sariak Alahan Tigo, Gumanti Sasapan Bungo,
maminteh ka Bukik Bakeh, mujua nan indak dapek diraiah, malang nan indak
dapek ditulak, maningga lah sorang niniek kito di Bukit Sipadeh Tingga,
nan talatak disebelah timur titian panjang, (Kecamatan Pantai Cermin
Sekarang).
Semenjak dari Bukit Sipadeh Tingga ini,
mulailah tercantum sebutan Niniak Kurang Aso Anam Puluh (60-1),
melompati Batang Hari menuju ke Hilir Angin atau arah Selatan supaya
Bukit Sipadeh Tingga ini segera di jauhi secepatnya, menurut kepercayaan
Niniak yang lain Tanah tersebut adalah Tanah Cilako (Celaka).
Bertemu dengan anak Sungai kecil yang bernama Batang Suliti, dan dijalani ke arah hilir, sampai bertemu dengan rombongan rombongan Niniak nan Kawi Majo Ano disebuah anak Sungai yang kini bernama Sungai Manau, disini pula niniak Nan Kawi Majo Ano menunjukan daerah ulayat yang sudah di beri tanda dengan daun Manau yang sudah Layu,
sesudah ada kesepakatan, akhirnya kedua rombongan berpisah,
Rombongan Niniak nan Kawi Majo Ano ke arah Hulu Batang Suliti, dan Rombongan Niniak Enam Puluh Kurang Aso ke arah Hilir,
dalam Tambo Tua Alam Surambi Sungai Pagu yang berbunyi
“Sungai Manau Parantian Batuang bajawek Pasambahan Malenggang lalu ka Sungai Pagu.
Bertemu dengan anak Sungai kecil yang bernama Batang Suliti, dan dijalani ke arah hilir, sampai bertemu dengan rombongan rombongan Niniak nan Kawi Majo Ano disebuah anak Sungai yang kini bernama Sungai Manau, disini pula niniak Nan Kawi Majo Ano menunjukan daerah ulayat yang sudah di beri tanda dengan daun Manau yang sudah Layu,
sesudah ada kesepakatan, akhirnya kedua rombongan berpisah,
Rombongan Niniak nan Kawi Majo Ano ke arah Hulu Batang Suliti, dan Rombongan Niniak Enam Puluh Kurang Aso ke arah Hilir,
dalam Tambo Tua Alam Surambi Sungai Pagu yang berbunyi
“Sungai Manau Parantian Batuang bajawek Pasambahan Malenggang lalu ka Sungai Pagu.
Akhirnya
Niniak Kurang Aso Anam Puluah menemukan tanda daun Manau Layu yang
dibuat oleh Niniak Nan Kawi Majo Ano yaitu tanda Daun Manau Layu yang
ada di Pasir Talang, itulah asal mulanya (asa samulo jadi – jolong
mamancang jo malateh, mulo marambah jo malamun-tampek manambang
manaruko, tampek batanam baro bilah-lalu badusun nan berumpuak sampai
bakorong jo ba kampuang.
Jauh sebelum rombongan Niniak Nan Salapan dan Niniak Kurang Aso Anam Puluah sampai di wilayah Alam Surambi Sungai Pagu, dahulunya Kualo Banda Lakun/Lapun, sudah ditempati Niniak nan Baduo, yaitu Inyiek Samiek dan Inyiek Samilu Aie Batigo jo dubalang Inyiek Sikok Marajolelo di Batang Marinteh Mudiak nan barasa dari Jambi dan palembang, atau antara Tebo dan Sungai Musi, nan surang barasa dari Pasimpai (antara Jujuan dan batang Hari), belieu bertiga itulah yang disebut Niniak Orang pauh Duo nan Batigo, sampai kini Nangko.
Jauh sebelum rombongan Niniak Nan Salapan dan Niniak Kurang Aso Anam Puluah sampai di wilayah Alam Surambi Sungai Pagu, dahulunya Kualo Banda Lakun/Lapun, sudah ditempati Niniak nan Baduo, yaitu Inyiek Samiek dan Inyiek Samilu Aie Batigo jo dubalang Inyiek Sikok Marajolelo di Batang Marinteh Mudiak nan barasa dari Jambi dan palembang, atau antara Tebo dan Sungai Musi, nan surang barasa dari Pasimpai (antara Jujuan dan batang Hari), belieu bertiga itulah yang disebut Niniak Orang pauh Duo nan Batigo, sampai kini Nangko.
Bateh bateh/Barih Balabeh.
Alam
Surambi Sungai Pagu yang sebelumnya bernama Kuala banda Lakun adalah
daerah adat yang tertua,
untuk pemeliharaannya di Minangkabau disebutkan Tambo, Ikua lareh kapalo Rantau, kapak randai luhak nan tigo, barambun ka Batang Hari, Batangkai Kabukik Gombak, Batampuak ka Jambu Lipo, Bakapak ka Indra Giri, Barandai ka Indo Puro.
untuk pemeliharaannya di Minangkabau disebutkan Tambo, Ikua lareh kapalo Rantau, kapak randai luhak nan tigo, barambun ka Batang Hari, Batangkai Kabukik Gombak, Batampuak ka Jambu Lipo, Bakapak ka Indra Giri, Barandai ka Indo Puro.
Wilayah Di luar Banda Sapuluah
Selain kawasan Bandar Sepuluh, ada
beberapa nagari di Kabupaten Pesisir Selatan yang tidak disebut Bandar
Sepuluh karena latar belakang historis yang berbeda.
Nenek moyang Tarusan dan Bayang berasal dari Nagari Muaro Paneh, Solok yang masuk kedalam konfederasi Luhak Kubuang Tigo Baleh.
Sedangkan Nagari Indopuro atau Inderapura dan Lunang sebagian berasal dari Sungai Pagu, Solok Selatan sekarang, Luhak Tanah Datar dan daerah sekitar yaitu Kerinci dan bengkulu. Nagari Indopuro (Inderapura) pada zaman dahulunya terdapat Kerajaan Inderapura, sebuah kerajaan besar dan penting di kawasan pantai barat Sumatera.
KASSP merupakan sebuah dunia (alam) tersendiri yang menjadi bagian dari alam Minangkabau.
Daerah ini memiliki daerah pusat (Pasir Talang) dan
daerah pinggiran (Bandar Sepuluh), atau daerah inti dan daerah rantau
tersendiri, namun berbeda dengan daerah pusat dalam konsep Alam
Minangkabau, di mana daerah pusat muncul dengan sendirinya, maka daerah
pusat di KASSP pada mulanya merupakan daerah pinggiran dari Alam
Minangkabau.
Menurut tambo alam Minangkabau, daerah pusat di KASSP ini dikenal dengan ikua lareh kapalo rantau.
Posisi atau penamaan ini diperolehnya karena ia terletak di antara daerah terluar tanah darek dengan daerah rantau. Tepatnya ia berada di antara Surian dan rantau XII Koto (daerah Sangir).
Secara topografis, daerah KASSP ini berada di daerah pedalaman.
Ia berada di sebuah kawasan yang memisahkan darek dengan rantau pedalaman Minangkabau di kawasan Selatan Luhak nan Tigo.
Oleh karena itu, daerah ini terletak di salah satu rute migrasi yang dilalui penduduk yang berpindah dari Tanah Datar ke arah selatan.
Vert pada akhir tahun 1867 menulis ada hubungan langsung berupa jalan dagang antara daerah ini dengan kawasan pesisir yang tercipta jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa (Gusti Asnan, 2005:6).
Menurut cerita yang diterima secara turun temurun oleh masyarakat Sungai Pagu, bahwa inyiak Syamsuddin Sadewano orang yang berhak menjadi Raja di Sungai Pagu kurang mendapat sambutan oleh rivalnya, akhirnya melarikan diri ke Pesisir Selatan dan mendapat sambutan oleh masyarakat Ampiang Parak ( wilayah Bandar Sepuluh, Pesisir Selatan).
Semenjak kepergian Rajo Alam Surambi Sungai Pagu ke Pesisir Selatan, di Sungai Pagu terjadi kekacauan, panen selalu gagal.
Akhirnya diutus Datuk St. Mamat untuk menjemput Bagindo sultan Besar Tuanku Rajo Disambah ke Bandar Sepuluh.
Setelah Rajo kembali ke KASSP dan Bandar sepuluh menjadi rantau oleh KASSP.
Dengan demikian KASSP sudah menjadi pusat pula oleh wilayah Bandar Sepuluh.
Hubungan antara Pagaruyung dengan KASSP cukup rumit, unik dan menarik.
KASSP merupakan Ikua Darek Kapalo Rantau dari Minangkabau (Pagaruyung),
orang KASSP menganggap mereka berasal dari Tanah Datar (Pagaruyung) dan Rajanya mendapat legitimasi dari Raja Pagaruyung.
Sementara KASSP mempunyai rantau pula yakni Nagari Bandar Sepuluh.
Dengan demikian KASSP sudah menjadi alam (pusat) pula dari Bandar Sepuluh.
Struktur Suku Basis Raja dan Penghulu di KASSP
Dalam buku Alam Surambi Sungai Pagu dan buku Harian Puti Lelo Jati Bundo Kanduang Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah dijelaskan bahwa yang memimpin KASSP ini ada empat orang Raja yang mempunyai kewenangan yang berbeda, seperti:
1. Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah (Rajo Daulat/Rajo Alam).
2. Tuanku Rajo Bagindo ( Rajo adat, ekonomi dan menguasai Tambo Alam).
3. Tuanku Rajo Malenggang (mengurus Bea Cukai/Pajak di Banda nan Sapuluah/ menjaga kaum Palimo).
4. Tuanku Rajo Batuah (Rajo Ibadat, menjaga, mencari tambang sampai Sungai Abu dan Palangki).
Raja nan barampek berbasis pada suku induk nan ampek (empat) di KASSP.
Empat suku ini eksis justru memiliki kebesaran ampek balai.
Meskipun suku menjadi basis raja nan barampek tetapi suku tidak seperti partai yang sewaktu suksesi pergantian raja naik nobat serta merta menjadi kendaraan politik atau sewaktu-waktu dapat dirental para calon raja menaiki tahta.
Artinya raja nan barampek punya kedudukan kuat dengan basisnya itu.
Kalaupun bisa dilemahkan peranannya oleh penghulu-penghulu KASSP pada suku basisnya dengan tidak memberi kebulatan (dukungan penuh), tetapi tidak bisa serta merta dijatuhkan. Justru secara sosio-historis struktur suku dan adatnya merupakan organisasi dan pranata yang dihormati di wilayah sub kultur KASSP.
Sasudah rajo Alam Surambi Sungai Pagu dinobatkan mamakai gala kabasaran Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah, langsuang tadiri Rajo Nan barampek, untuk imbalan Basa Ampek balai, dan sajak itu pulo badiri ka ampek suku (suku nan ampek), yoitu:
1. Suku Melayu Ampek Niniak (17 Penghulu Induk) terdiri dari :
a. Melayu Ampek Paruik
b. Bariang Ampek Paruik
c. Koto Kaciak Ampek Paruik
d. Durian Limo Ruang
2. Suku Panai Tigo Ibu (3 Penghulu Induk) terdiri dari :
a. Panai Tanjuang
b. Panai Tangah
c. Panai Lundang
3. Suku Tigo Lareh Bakapanjangan (22 Penghulu Induk) terdiri dari:
a. Sikumbang Ampek Ibu
b. Caniago Baranan
c. Jambak Balimo
d. Balai Masiang Ampek Piak
e. Koto Tigo Ibu
4. Suku Karnpai Duo Puluah Ampek (24 Penghulu Induk) terdiri dari:
a. Kampai Bendang Barampek
b. Kampai Tangah Nyiua Gadiang Salapan
c. Kampai Aie Angek Balimo
d. Kampai Sawah Laweh Batujuah
Mudjadid (1999) mencatat sekarang KASSP , adatnya basandi syarak, dihitung struktur lembaga adatnya dipimpin 117 penghulu yang terdistribusi pada kelembagaan empat kelompok suku yang secara kategoris sudah terurai dalam sumber lokal seperti tulisan Marsadis Dt. St. Mamat (1980), Hasmurdi (2000), Mudjadid (1999), IKASUPA (2003) dan lain-lainnya.
Dari sumber ini ditambah lisan orang tua-tua dapat didiskripsikan 4 kelompok suku di KASSP ini sebagai berikut:
1. Suku Melayu.
Suku melayu ini menjadi basis Raja Daulat Yang dipertuan Bagindo Sutan Besar Tuangku Rajo Disambah.
Kebesarannya: payung sakaki tombak sabatang, payung panji KASSP.
Menurut tambo alam Minangkabau, daerah pusat di KASSP ini dikenal dengan ikua lareh kapalo rantau.
Posisi atau penamaan ini diperolehnya karena ia terletak di antara daerah terluar tanah darek dengan daerah rantau. Tepatnya ia berada di antara Surian dan rantau XII Koto (daerah Sangir).
Secara topografis, daerah KASSP ini berada di daerah pedalaman.
Ia berada di sebuah kawasan yang memisahkan darek dengan rantau pedalaman Minangkabau di kawasan Selatan Luhak nan Tigo.
Oleh karena itu, daerah ini terletak di salah satu rute migrasi yang dilalui penduduk yang berpindah dari Tanah Datar ke arah selatan.
Vert pada akhir tahun 1867 menulis ada hubungan langsung berupa jalan dagang antara daerah ini dengan kawasan pesisir yang tercipta jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa (Gusti Asnan, 2005:6).
Menurut cerita yang diterima secara turun temurun oleh masyarakat Sungai Pagu, bahwa inyiak Syamsuddin Sadewano orang yang berhak menjadi Raja di Sungai Pagu kurang mendapat sambutan oleh rivalnya, akhirnya melarikan diri ke Pesisir Selatan dan mendapat sambutan oleh masyarakat Ampiang Parak ( wilayah Bandar Sepuluh, Pesisir Selatan).
Semenjak kepergian Rajo Alam Surambi Sungai Pagu ke Pesisir Selatan, di Sungai Pagu terjadi kekacauan, panen selalu gagal.
Akhirnya diutus Datuk St. Mamat untuk menjemput Bagindo sultan Besar Tuanku Rajo Disambah ke Bandar Sepuluh.
Setelah Rajo kembali ke KASSP dan Bandar sepuluh menjadi rantau oleh KASSP.
Dengan demikian KASSP sudah menjadi pusat pula oleh wilayah Bandar Sepuluh.
Hubungan antara Pagaruyung dengan KASSP cukup rumit, unik dan menarik.
KASSP merupakan Ikua Darek Kapalo Rantau dari Minangkabau (Pagaruyung),
orang KASSP menganggap mereka berasal dari Tanah Datar (Pagaruyung) dan Rajanya mendapat legitimasi dari Raja Pagaruyung.
Sementara KASSP mempunyai rantau pula yakni Nagari Bandar Sepuluh.
Dengan demikian KASSP sudah menjadi alam (pusat) pula dari Bandar Sepuluh.
Struktur Suku Basis Raja dan Penghulu di KASSP
Minangkabau secara umum terdiri dua
bagian yaitu daerah luhak dan rantau.
Pembagian wilayah tersebut telah
mempengaruhi corak pemerintahan tradisional lokal yang ada di daerah
luhak dan rantau.
Masing-masing daerah tersebut memiliki corak
pemerintahan yang berbeda.
Daerah luhak dipimpin oleh seorang Penghulu,
sedangkan rantau dipimpin oleh Raja.
Hal itu berkaitan dengan ketentuan
adat yang berkembang di Minangkabau, yakni Luhak Ba Panghulu, Rantau Ba Rajo.
Artinya, kekuasaan Raja hanyalah berlaku di rantau sedangkan di luhak penghulu yang menjabat sebagai kepala pemerintahan.
Salah satu daerah yang berada di luar luhak nan tigo
adalah Alam Surambi Sungai Pagu, daerah ini bukanlah daerah rantau.
Dengan demikian, ketentuan itu tidak berlaku di Alam Surambi Sungai
Pagu, karena Alam Surambi Sungai Pagu tidak berada di daerah pesisir.
Daerah ini disebut sebagai ikua darek kapalo rantau.
Artinya, tidak termasuk daerah darek dan tidak termasuk pula pada daerah rantau.
Artinya, tidak termasuk daerah darek dan tidak termasuk pula pada daerah rantau.
Daerah ini memiliki corak kekhasan tersendiri karena secara kultural
daerahnya berada di bawah pemerintahan tradisional.
Kekhasan corak pemerintahan daerah Alam
Surambi Sungai Pagu ini dibuktikan dengan adanya pemerintahan raja yang
berempat (rajo nan-4) sebagai elit tradisional selain penghulu.
Raja
nan-4 tersebut adalah
Raja Alam Daulat Yang Dipertuan Sultan Besar
Tuanku Rajo Disambah,
Raja Adat Yang Dipertuan Besar Tuanku Rajo
Bagindo,
Raja Ibadat Tuanku Rajo Batuah, dan
Rajo Tigo Lareh Tuanku Rajo
Malenggang.
Keempat pemimpin tradisional ini merupakan satu kesatuan
yang tidak bisa dipisahkan di Alam Surambi Sungai Pagu.
Keberadaan
pemimpin tradisional ini telah dimulai sejak zaman Islam di Minangkabau
dan eksistensinya masih dipertahankan sampai zaman Orde Baru.
Sistem kelarasan yang dianut oleh
masyarakat Alam Surambi Sungai Pagu berbeda dengan sistem kelarasan yang
dianut secara umum oleh masyarakat Minangkabau.
Mereka tidak menganut
sistem kelarasan Bodi Caniago dan juga bukan pengikut kelarasan Koto
Piliang.
Salah satu kemungkinan adalah mereka menggunakan sistem kelarasan dengan menggabungan sistem kelarasan Bodi Caniago dengan kelarasan Koto Piliang.
Salah satu kemungkinan adalah mereka menggunakan sistem kelarasan dengan menggabungan sistem kelarasan Bodi Caniago dengan kelarasan Koto Piliang.
Pepatah Minangkabau mengatakan:
“Pisang Sikalek-kalek hutan, pisang batu nan bagatah, Bodi Caniago inyo bukan, Koto Piliang inyo antah”.
Hal ini terlihat dari corak pemerintahan tradisionalnya yang menggunakan Raja dan Penghulu secara bersama-sama.
Masing-masing raja nan barampek (ber empat) mewakili
suku-suku induk yang ada di Alam Surambi Sungai Pagu.
Raja Alam Daulat
Yang Dipertuan Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah berasal dari suku
Melayu.
Raja Adat Yang Dipertuan Besar Tuanku Rajo Bagindo berasal dari
suku Kampai 24.
Raja Ibadat Tuanku Rajo Batuah berasal dari suku Panai
Tigo Ibu, dan
Rajo Tigo Lareh Tuanku Rajo Malenggang berasal dari suku
Tigo Lareh Bakapanjangan.
Keempat Raja yang ada di Alam Surambi
Sungai Pagu memiliki kekuasaan yang sama.
Masing-masing raja memiliki
fungsi tersendiri.
Namun demikian, Rajo Alam
Tuanku Rajo Disambah dapat dikatakan sebagai pucuk pimpinan dari tiga
raja lainnya.
Hal tersebut terlihat dari gelar yang dipakai oleh Raja
Alam Tuanku Rajo Disambah, yaitu Daulat Yang Dipertuan Sultan Besar.
Akan tetapi ada kesan seolah-olah Raja ini sama kedudukannya dengan
ketiga raja yang lain.
Padahal menurut struktur yang hirarkis posisi
Raja Alam Tuanku Rajo Disambah memang menjadi pucuk pimpinan di Alam
Surambi Sungai Pagu.
Dalam buku Alam Surambi Sungai Pagu dan buku Harian Puti Lelo Jati Bundo Kanduang Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah dijelaskan bahwa yang memimpin KASSP ini ada empat orang Raja yang mempunyai kewenangan yang berbeda, seperti:
1. Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah (Rajo Daulat/Rajo Alam).
2. Tuanku Rajo Bagindo ( Rajo adat, ekonomi dan menguasai Tambo Alam).
3. Tuanku Rajo Malenggang (mengurus Bea Cukai/Pajak di Banda nan Sapuluah/ menjaga kaum Palimo).
4. Tuanku Rajo Batuah (Rajo Ibadat, menjaga, mencari tambang sampai Sungai Abu dan Palangki).
Raja nan barampek berbasis pada suku induk nan ampek (empat) di KASSP.
Empat suku ini eksis justru memiliki kebesaran ampek balai.
Meskipun suku menjadi basis raja nan barampek tetapi suku tidak seperti partai yang sewaktu suksesi pergantian raja naik nobat serta merta menjadi kendaraan politik atau sewaktu-waktu dapat dirental para calon raja menaiki tahta.
Artinya raja nan barampek punya kedudukan kuat dengan basisnya itu.
Kalaupun bisa dilemahkan peranannya oleh penghulu-penghulu KASSP pada suku basisnya dengan tidak memberi kebulatan (dukungan penuh), tetapi tidak bisa serta merta dijatuhkan. Justru secara sosio-historis struktur suku dan adatnya merupakan organisasi dan pranata yang dihormati di wilayah sub kultur KASSP.
Struktur Penghulu Adat Alam Surambi Sungai Pagu
Cawang-cawang Taluah PakatSasudah rajo Alam Surambi Sungai Pagu dinobatkan mamakai gala kabasaran Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah, langsuang tadiri Rajo Nan barampek, untuk imbalan Basa Ampek balai, dan sajak itu pulo badiri ka ampek suku (suku nan ampek), yoitu:
1. Suku Melayu Ampek Niniak (17 Penghulu Induk) terdiri dari :
a. Melayu Ampek Paruik
b. Bariang Ampek Paruik
c. Koto Kaciak Ampek Paruik
d. Durian Limo Ruang
2. Suku Panai Tigo Ibu (3 Penghulu Induk) terdiri dari :
a. Panai Tanjuang
b. Panai Tangah
c. Panai Lundang
3. Suku Tigo Lareh Bakapanjangan (22 Penghulu Induk) terdiri dari:
a. Sikumbang Ampek Ibu
b. Caniago Baranan
c. Jambak Balimo
d. Balai Masiang Ampek Piak
e. Koto Tigo Ibu
4. Suku Karnpai Duo Puluah Ampek (24 Penghulu Induk) terdiri dari:
a. Kampai Bendang Barampek
b. Kampai Tangah Nyiua Gadiang Salapan
c. Kampai Aie Angek Balimo
d. Kampai Sawah Laweh Batujuah
Mudjadid (1999) mencatat sekarang KASSP , adatnya basandi syarak, dihitung struktur lembaga adatnya dipimpin 117 penghulu yang terdistribusi pada kelembagaan empat kelompok suku yang secara kategoris sudah terurai dalam sumber lokal seperti tulisan Marsadis Dt. St. Mamat (1980), Hasmurdi (2000), Mudjadid (1999), IKASUPA (2003) dan lain-lainnya.
Dari sumber ini ditambah lisan orang tua-tua dapat didiskripsikan 4 kelompok suku di KASSP ini sebagai berikut:
1. Suku Melayu.
Suku melayu ini menjadi basis Raja Daulat Yang dipertuan Bagindo Sutan Besar Tuangku Rajo Disambah.
Kebesarannya: payung sakaki tombak sabatang, payung panji KASSP.
Penghulu induknya 17 sultan (nini) dari ninik nan 59 (kurang aso 60)
dengan puluhan datuk pecahannya yang mempunyai hak kebulatan untuk Rajo
nan barampek.
Balahan (unit kelompok sosial) sukunya:
(b) Suku Bariang Ampek Paruik,
panghulu di dalamnyo :
(c) Suku Koto Kaciak Ampek Paruik
penghulu di dalamnyo:
dan
(d) Suku Durian Limo Ruang.
penghulu didalamnya:
2. Suku Panai.
(a) Suku Panai Tanjung,
panghulu di dalamnyo :
penghulu didalamnya :
(c) Suku Panai Lundang.
panghulu di dalamnyo :
3. Suku Tigo Lareh Bakapanjangan.
Suku ini basisnya Rajo: Tuanku Rajo Malenggang.
Penghulu induknya 15 sultan dari ninik 59 dan puluhan datuk yang mempunyai hak kebulatan untuk raja nan-4. Suku ini di antaranya turun dari 15 ibu dari ninik 59.
Pecahan sukunya
(a) Suku Sikumbang Ampek Ibu,
panghulu di dalamnyo :
(b) Suku Caniago nan BarAnam (ber Enam),
panghulu di dalamnyo :
panghulu di dalamnyo :
panghulu di dalamnyo :
dan
(e) Suku Koto Tigo Ibu.
panghulu di dalamnyo :
Marsadis Dt St. Mamat (1980) untuk dua suku terakhir disebut turunan inyiak Talawi dan Inyiak Perpatih nan Sabatang.
4. Suku Kampai
Suku ini basisnya Rajo : Yang Dipertuan Tuanku Rajo Bagindo
Pecahan sukunya:
(a) Suku Bendang nan Barampek
panghulu di dalamnyo :
panghulu di dalamnyo :
(d) Penghulu Suku Kampai Sawah Laweh nan Batujuah
(Kutipan SK. Tuan Gub. SB di Padang; n. 564 tanggal 17 September 1888).
Para penghulu-penghulu KASSP dalam sukunya mempunyai hak kebulatan untuk memperkuat posisi dan peranan rajo nan barampek.
Penghulu-penghulu dapat memperkuat kedudukan raja yang berbasisi sukunya maupun raja nan barampek sesuai dengan kapasitas dan fungsinya yakni ada sebagai:
(1) sandi,
(2)urang gadang,
(3) manti,
(4) jorong,
(5) ampang limo,
(6) hulu balang,
(7) juaro,
(8) kadhi,
(9) urang tuo,
(10) kehakiman dan,
(11) khalifah.
Hubungan KASSP dengan Alam Minangkabau seperti hubungan pusat dan pinggiran.
Balahan (unit kelompok sosial) sukunya:
1. Suku Melayu Ampek Paruik,
panghulu di dalamnyo :
panghulu di dalamnyo :
Paruik partamo, banamo paruik Datuak Rajo Malako
- Datuak Rajo Malako (kapalo paruik)
- Datuak Sandi Rajo Rumah Panjang
- Datuak Sutan Majolelo
- Datuak Rajo Biaro
- Datuak Rajo Aminullah
- Datuak Rajo Molie
Paruik kaduo, banamo paruik Datuak Rajo Adil
- Datuak Rajo Adil (kapalo paruik)
- Datuak Rajo Kuaso
- Datuak Rajo Jalil
- Datuak Rajo Api
- Datuak Lelo Bandaro
- Datuak Bagindo Sutan Mudo
Paruik ketiga, bernarna paruik Datuak Sutan Kalifatullah
- Datuak Sutan Kalifatullah (kapalo paruik)
- Datuak Kalifatullah
- Datuak Rajo Lelo
Paruik ka ampek, banamo paruik Datuak Sutan Ibrahim
- Datuak Sutan Ibrahim (kapalo paruik)
- Datuak Manti Sulaiman
- Datuak Cumano
- Datuak Mangku Bumi
(b) Suku Bariang Ampek Paruik,
panghulu di dalamnyo :
Paruik partamo, banamo paruik Datuak Rajo Nan Baso
- Datuak Rajo Nan Baso (kapalo paruik)
- Datuak Rajo Koto Panjang
Paruik kaduo, banamo paruik Datuak Nangkodo Alam
- Datuak Nankodo Alam (kapalo paruik)
- Datuak Sampono Batuah
Paruik katigo, banamo paruik Datuak Sutan Penghulu
- Datuak Sutan Penghulu (kapalo paruik)
Paruik ka ampek, banamo paruik Datuak Sutan Bagampo
- Datuak Sutan Bagampo (kapalo paruik)
(c) Suku Koto Kaciak Ampek Paruik
penghulu di dalamnyo:
Paruik pertama, bernama paruik Datuak Tareh Mambangun
- Datuak Tareh Mambangun (kapalo paruik)
Paruik kedua, bernama paruik Datuak Rajo Malin
- Datuak Rajo Malin (kapalo paruik)
- Datuak Urang kayo Batuah
- Datuak Sati
- Datuak Rajo Intan
- Datuak Bagindo Mangun
Paruik ketiga, bernama paruik Datuak Rajo Sati
- Datuak Rajo Sati (kapalo paruik)
Paruik keempat, bernama paruik Datuak Sutan Bandaro Padang
- Datuak Sutan Bandaro Padang (kapalo paruik)
- Datuak Rajo Gunung Padang
- Datuak Tandewa
- Datuak Majo Basa
dan
(d) Suku Durian Limo Ruang.
penghulu didalamnya:
Ruang pertama, bernama paruik Datuak Sutan Mamat
- Datuak Sutan Mamat (kapalo paruik)
Ruang kedua, bernama paruik Datuak Sutan Dubalang
- Datuak Sutan Dubalang (kapalo paruik)
Ruang ketiga, bernama paruik Datuak Rajo Katik
- Datuak Rajo Katik (kapalo paruik)
- Datuak Marajo
- Datuak Rajo Pandapatan
Ruang keempat, bernama paruik Datuak Malintang Kayo
- Datuak Malintang Kayo (kapalo paruik)
- Datuak Nan Batuah Majolelo
- Datuak Indo Mangkuto
- Datuak Nan Batuah Di Gantiang
Ruang kelima, bernama paruik Datuak Rangkayo Majolelo
- Datuak Rangkayo Majolelo (kapalo paruik)
- Datuak Sampono Sati
- Datuak Rangkayo Nan Peta
- Datuak Rangkayo Tanmudo
- Datuak Inyiak Tandilaweh
2. Suku Panai.
Suku Panai ini
menjadi basis Raja : Yang Dipertuan Tuanku Rajo Batuah, Rajo Adat di dalam suku Panai Tigo Ibu
Kebesaran : Tabuang bapaluik, nan mamagang cupak usali, yaitu Syarak Kitabullah, Banamo Rajo Ibadat.
Penghulu induknya 3 sultan dari nan-59 dengan belasan datuk pecahannya yang punya hak kebulatan untuk rajo nan-4. (Suku Panai Tigo Ibu, tarcantum tigo suku induak didalamnyo, tigo urang Niniak kurang Aso Anam Puluah/tigo urang panghulu induak.)
Dalam pengembangannya memiliki balahan suku:Penghulu induknya 3 sultan dari nan-59 dengan belasan datuk pecahannya yang punya hak kebulatan untuk rajo nan-4. (Suku Panai Tigo Ibu, tarcantum tigo suku induak didalamnyo, tigo urang Niniak kurang Aso Anam Puluah/tigo urang panghulu induak.)
(a) Suku Panai Tanjung,
panghulu di dalamnyo :
- Datuak Sati (panghulu suku)
- Datuak Rajo Batuah
- Datuak Rajo Rajo
- Datuak Kayo
- Datuak Rajo Nan Pana
- Datuak Rajo Imam batuah
- Datuak Jono Katik
(b) Suku Panai Tangah, penghulu didalamnya :
- Datuak Bandaro (penghulu suku)
- Datuak Tambijo
- Datuak Pagaruyuang
- Datuak Patiah Batuah
(c) Suku Panai Lundang.
panghulu di dalamnyo :
- Datuak Rangkayo Basa (panghulu suku)
- Datuak Mato Basa
- Datuak Batuah Nan di Languang
3. Suku Tigo Lareh Bakapanjangan.
Suku ini basisnya Rajo: Tuanku Rajo Malenggang.
Kebesaran : Kain
rumbak rumbu kuniang, nan mampunyoi kari si Anggang Gariang. Mamagang
pangaluaran hak daciang, ubur ubur gantuang kamudi, kalauik babungo
pasie, kabukik babungo kayu, kalurah babungo ampiang, aman santoso
ditangannyo.
Penghulu induknya 15 sultan dari ninik 59 dan puluhan datuk yang mempunyai hak kebulatan untuk raja nan-4. Suku ini di antaranya turun dari 15 ibu dari ninik 59.
Pecahan sukunya
(a) Suku Sikumbang Ampek Ibu,
panghulu di dalamnyo :
Ibu partamo
- Datuak Rajo Malenggang
- Datuak Nan Sati
- Datuak Sutan Batuah
Ibu kaduo
- Datuak Batuah Nan Sati
- Datuak Urang Batuah
- Datuak Rajo kayo
- Datuak Rajo Lelo
Ibu katigo
- Datuak Sutan Kayo
- Datuak Sutan Achmad
- Datuak Sutan Kaba
- Datuak Bando Rajo
Ibu kaampek
- Datuak Bando Suku
- Datuak Bando Basa
- Datuak Bando Rajo
(b) Suku Caniago nan BarAnam (ber Enam),
panghulu di dalamnyo :
Inyiak Datuak Parpatiah Nan Sabatang, tak rajo kaganti rajo di suku Caniago nan Baranam
- Datuak Nan Sati
- Datuak Patiah Malawani
- Datuak Malintang Bumi
- Datuak Bando Sati
- Datuak Rajo Endah
- Datuak Rajo Lingka Bulan
- Datuak Rajo Bandaro
- Datuak Talalanan Sati
- Datuak Penghulu Besar
- Datuak Kando Marajo
- Datuak Rajo Mantari
(c) Suku Jambak nan BaLimo (Lima),panghulu di dalamnyo :
Inyiak Talanai, tak rajo kaganti rajo di suku Jambak
- Datuak Rajo Bagagar
- Datauak Bando Sati
- Datuak Sutan Painan
- Datuak Sutan Malenggang
- Datuak Rajo Indo
(d) Suku Balai Mansiang Ampek Piakpanghulu di dalamnyo :
Inyiak Jindo
- Datuak Nan Bakupiah
- Datuak Bando Padang
- Datuak Cinto Kayo
- Datuak Mulia Kayo
dan
(e) Suku Koto Tigo Ibu.
panghulu di dalamnyo :
Inyiak Katumanggungan
- Datuak Mangguang
- Datuak Nan Gadang
- Datuak Bagindo Marajo
- Datuak Amat Dirajo
- Datuak Tan Majo Deso
- Datuak Rajo Puluik
Marsadis Dt St. Mamat (1980) untuk dua suku terakhir disebut turunan inyiak Talawi dan Inyiak Perpatih nan Sabatang.
4. Suku Kampai
Suku ini basisnya Rajo : Yang Dipertuan Tuanku Rajo Bagindo
Kebesaran : Kain Langko Puring, Mamagang Kitab Tambo Alam, Mamagang Adat jo Limbago, banamo Rajo Adat Alam Surambi Sungai Pagu.
Penghulu induknya 24 dari ninik 59
dengan puluhan datuk yang memiliki hak kebulatan untuk raja nan-4. Pecahan sukunya:
(a) Suku Bendang nan Barampek
panghulu di dalamnyo :
Inyiek Simajo Lelo
Datuak Rajo Alam Nagari
Datuak Bando Putieh
Datuak Saidano
Datuak Rajo Kobo
Datuak Rajo Nago
Datuak Tambayang
Datuak Jo Ngalau
(b) Suku Kampai Tangah Nyiua Gadiang nan Salapanpanghulu di dalamnyo :
Inyiek Tantejo Dirajo
Datuak Rajo Garak Bumi
Datuak Rajo Batampat
Datuak Bagindo Sati
Datuak Rajo Pareso
Datuak Rajo Bukik
Datuak Rajo Mandirikan
Datuak Rajo Bandaro
Datuak Sutan Nangkodo
(c) Penghulu Suku Kampai Aie Angek nan Balimo
Inyiek Rajo Panghulu
Datuak Gantar Alam
Datuak Sangayo
Datuak Timbu Batuah
Datuak Rajo paranggi
Datuak Bando Itam
Datuak Singo Rayo Putiah
Datuak Manti Batuah
Datuak Kali Bandaro
dan
(d) Penghulu Suku Kampai Sawah Laweh nan Batujuah
Inyiek Rajo Di Aceh
Datuak Sandi Urang Batuah
Datuak Rajo Bintang
Datuak Rajo Mangkuto
Datuak Lembang Bukik
Datuak Rajo Sa'alam
Datuak Rajo Nago
Datuak Unggun Dadak Tareh Jilatang
Datuak Urang Batuah
Datuak Rajo Mamat
Datuak Patieh
Datuak Magek Mandirikan
Datuak Rajo Suaro
Datuak Garo
Gelar Tuanku Rajo Bagindo, Rajo nan barampek di dalam Kelarasan Sungai
Pagu (Kecamatan Sungai Pagu dan XII Koto, Keresidenan Padang Darat)
pernah mendapat pengakuan kebesaran tuan Gubernur dan dihormati dengan
dibebaskan dari kewajiban rodi (Kutipan SK. Tuan Gub. SB di Padang; n. 564 tanggal 17 September 1888).
Para penghulu-penghulu KASSP dalam sukunya mempunyai hak kebulatan untuk memperkuat posisi dan peranan rajo nan barampek.
Penghulu-penghulu dapat memperkuat kedudukan raja yang berbasisi sukunya maupun raja nan barampek sesuai dengan kapasitas dan fungsinya yakni ada sebagai:
(1) sandi,
(2)urang gadang,
(3) manti,
(4) jorong,
(5) ampang limo,
(6) hulu balang,
(7) juaro,
(8) kadhi,
(9) urang tuo,
(10) kehakiman dan,
(11) khalifah.
Hubungan KASSP dengan Alam Minangkabau seperti hubungan pusat dan pinggiran.
Suku KASSP
mengelompok pada empat suku induk.
Suku induk ini memiliki pecahan yang
cukup banyak.
Suku-suku ini merupakan basis Raja nan barampek (berempat) dan para Penghulu.
Suku-suku ini merupakan basis Raja nan barampek (berempat) dan para Penghulu.
Dengan suku ini raja nan barampek punya kedudukan kuat.
Penghulu-penghulu Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu kalaupun bisa
melemahkan peranan dan eksisitensi Raja nan barampek dengan tidak memberi
kebulatan (dukungan penuh), tetapi Raja tidak serta merta bisa
dijatuhkan.
Raja baurek babatang dan mendapat dukungan dari penghulu-penghulu, tidak saja dari suku basis tetapi juga dari keempat sukunya.
Raja baurek babatang dan mendapat dukungan dari penghulu-penghulu, tidak saja dari suku basis tetapi juga dari keempat sukunya.
Urak uraian
Rumah tanggo Alam Surambi Sungai Pagu, Rajo barampek sadaulat, balahan Sutan nan Salapan, Badirilah kito dalam Adat, jadi padoman di maso depan,
Rumah gadang bari bapintu, nak nyato pandang ka dalam, dibalun sabalun
kuku, dikambang saleba alam, Bago sagadang bijo labu, buni jo langik
ado didalam, Sinasar jatuah tarambau, jatuahnyo ka bawah lantai.
Dasarnyo adat Minangkabau, syarak mangato adat mamakai. Alam Surambi
Sungai Pagu, sampai ka banda nan Sapuluah. Usahlah kito ragu-ragu, adat
jo syarak jadi suluah, penghulu jiwa Nagari, hukum untuak manyalasai.
Mano juo kan dicari, adat dan syarak alah sasuai.
RENUNGKAN PESAN RANGGAEK KE ANAKNYA
|
Referensi
- Tambo Alam Surambi Sungai Pagu, IKASUPA Jakarta 2004
- Kutipan SK. Tuan Gub. SB di Padang; n. 564 tanggal 17 September 1888
- http://bandalakun.wordpress.com/
- Buku Saku (Kenang-kenangan) IKASUPA 2004 berdasarkan Tambo Alam Surambi Sungai Pagu.
- http://www.facebook.com/notes/emral-djamal/rantau-sungai-pagu/257450600993010
- http://lppbi-fiba.blogspot.com/2009/01/kerajaan-alam-surambi-sungai-pagu-ikua.html
- http://www.solok-selatan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=786&Itemid=1
- http://id.wikipedia.org/wiki/Alam_Surambi_Sungai_Pagu
- http://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_Sepuluh
- https://blogminangkabau.wordpress.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar