Minggu, 24 Maret 2013

Pembahasan tentang pentingnya Istighfar


Sahabat"...
Semenjak kekuasaan Islam mulai melemah dari permukaan bumi dan kekuatan Barat mulai mencengkeramkan kuku-kukunya, maka akhlak manusiapun menjadi semakin terpuruk.
Moral dan etika menjadi sesuatu yang “usang” untuk dibicarakan, nafsu menjadi standar baku untuk mengukur nilai-nilai kehidupan, dan syahwat adalah sesuatu yang senantiasa dipuja-puja dengan dalih ia adalah seni, estetika atau yang lainnya.
Akibatnya duniapun semakin kelam dan kotor, sehingga hampir tiap jengkal tanah dibumi ini sarat dengan debu-debu kemaksiatan.
Contoh yang mudah,
Saat kita keluar rumah untuk bekerja, pergi kemasjid atau ketempat lainnya,
berapa banyak maksiat yang mau tak mau harus kita melewati dan lihat disepanjang perjalanan ? (Bukankah disepanjang perjalanan banyak wanita berseliweran dengan pakaian menantang ? )
Atau di rumah kita sendiri (bagi yang punya televisi atau suka menonton acara ditelevisi lhoo ^_^ ),
bukankah selalu dibanjiri tayangan porno dan dentum musik syaitani ?
dan masih teramat banyak contoh yang lainnya.Kesemuanya ini tentunya menjadikan diri kita lekat dengan dosa dan kemaksiatan.
Dari sinilah seharusnya kita menyadari bahwa istighfar adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi untuk menghindari pekatnya hati dari selubung dosa.

Sahabat"...
Sahabat"...
Sebelum kita lanjutkan pembahasan mengenai Istighfar, mari kita simak Ayat-ayat dibawah ini:

Dan manusia bertanya kepadamu tentang ruh..
katakanlah ruh itu termasuk urusan TUHANku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit
(QS. Al Isra; : 85)

dalam ayat lainnya :
Apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan ruhKU, maka hendaklah kamu tersungkur sujud kepadanya.
( QS. Shad : 72 )
Karena itulah, dalam proses penciptaan Adam alaihissalam, setelah ditiupkan ruhNYA, malaikatpun sujud kepadanya.

“Dan ingatlah ketika KAMI berfirman kepada para Malaikat,
“Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka semua kecuali Iblis ; ia enggan dan takabbur dan ia adalah termasuk orang-orang yang kafir 
( QS. Al Baqarah : 34 )
Sujudnya Malaikat kepada Adam (manusia), karena dalam diri manusia yang telah disempurnakan ALLAH ini karena sebenarnya didalam diri manusia mengandung Zat TUHAN atau “Energi Ilahiyah” – yaitu yang disebut “ruh KU” dalam surat Shad ayat 72, bukan kepada sifat kemanusiaannya.
Kita sebagai keturunan Adam alaihissalam juga diberikan ruhNYA. 
Ruh yang diturunkan ALLAH Subhanahu wa ta'ala kepada tanah yang kemudian diberi rupa adalah berasal dari tiupan Ilahi yang suci, yang membawa misi memelihara serta mengendalikan bumi ini. (menjadi khalifah).
Namun, ketika pikiran dan perasaan manusia, mengikuti bisikan qalbunya yang sakit serta hawa nafsunya yang tidak terkendali, maka “unsur yang sangat mulia” itu mulai terbungkus, sehingga kwalitas insan mengalami  penurunan / penyusutan.
Akhirnya kesadaran dirinya pun jatuh kedalam lumpur tanah, sehingga ruh suci itu tampak gelap dan tidak bersinar.
Ia tidak mampu lagi mengendalikan tubuhnya, sehingga yang mengendalikan tubuhnya adalah syetan / iblis.
Ruh tak dapat berbuat apa-apa dan iblis / syetanlah yang menggantikan kedudukan nurani sebagai pengendali pikiran, perasaan, dan bathin manusia.
Dengan demikian, yang mengendalikan pikiran dan tubuh bukan lagi kesadaran jiwanya, akan tetapi dorongan-dorongan seperti rasa lapar, rasa haus, seks, rasa marah, dan malas.
Semua itu timbul karena aktivitas tubuh.
“…tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpaannya seperti anjing”
(QS. A’Raf : 176).
Inilah yang dinamakan jiwa yang mengikuti nafsu binatang.
Pada kondisi seperti inilah RUH berada dilubuk hati yang paling dalam, seolah ruh berada jauh didasar sekali.
Ini menunjukkan ruh tidak dapat melakukan tugasnya untuk mengatur  seluruh anggota tubuhnya dengan sinar ke ILLAHI an dalam menata kehidupan yang sesuai dengan fitrah nya.

Sahabat"...
Secara hakekat, Ruh suci inilah Al qur’an sejati yang tidak tertulis dengan tinta dan tidak berupa suara, sehingga keabadian firmanNYA tetap terjaga karena tersimpan didalam kalam yang suci…..

Sesungguhnya.. Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat KAMI kecuali orang-orang yang zalim
( QS : Al-Ankabuut: 49 )
Manusia harus berjuang menemukan kembali unsur yang akan menjadikannya sebagai makhluk yang paling mulia di alam semesta.
Jika manusia belum mengenal ruhnya, kedudukan manusia sama seperti hewan, yang memiliki kesadaran jiwa yang rendah.

Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami?
Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, atau bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).
(QS. Furqan : 44)
Pada kondisi ini sifat-sifat manusia sangat didominasi oleh sifat-sifat hewani, yaitu : makan, minum, tidur, seks dan egois.
Dominasi ego dan nafsu sangat kuat mempengaruhi kehidupan manusia.
Ego adalah produk pikiran (alam akal).
Manusia dengan kesadaran rendah masih belum mampu melakukan kontrol terhadap panca indera yang dimilikinya, sehingga dia pun tidak dapat melakukan kontrol terhadap egonya.
Apabila hati telah dikuasai Ego, maka dapat dipastikan manusia tersebut tidak akan dapat mendengar suara Rabbnya.
Suara/Petunjuk ALLAH hanya dapat didengar atau diketahui manusia melalui alam rasa (hati nurani).
Karena itu, pada kenyataannya banyak manusia yang hatinya telah diselubungi oleh ego beranggapan bahwa suara ego tersebut adalah suara/petunjuk TUHAN yang diberikan pada dirinya.
Kekeliruan manusia yang menganggap ego sebagai petunjuk ALLAH akan timbul akibat sebagai berikut :
1. Munculnya sifat serakah, mau menang sendiri, merasa paling suci, sombong dan lain-lain.
2.Hatinya tidak akan merasakan tenang dan damai.
Karena ego tidak mengenal batasan “cukup”, hingga hidupnya selalu dipenuhi dengan kecemasan.
3.Merasa hidupnya selalu dipenuhi oleh berbagai masalah, bahkan rahmat ALLAH pun seringkali dirasakan sebagai masalah, dan sulit untuk bersyukur kepada ALLAH Subhanahu wa ta'ala.
Pikiran dan perasaannya selalu dihantui oleh rasa takut yang tak berkesudahan, takut ditinggal oleh Tuhan-tuhan palsu yang telah hidup dalam hatinya.

Sahabat"...
Manusia yang RUHnya masih terselubung (masih rendah kesadarannya), melaksanakan ibadah hanya karena mengejar pahala, menggapai surga dan takut akan neraka.
Seluruh pelaksanaan ibadah dilaksanakan hanya terbatas pada pelaksanaan hukum-hukum, rukun, dan belum menyentuh maknanya.
Karena itu, kebanyakan manusia yang berkesadaran rendah pada akhirnya, disadari atau tidak, akan menjadikan hukum-hukum Syariat sebagai tuhan-tuhan palsu dihatinya
” yang mereka sembah sebenarnya adalah ajarannya bukan lagi ALLAH Subhanahu wa ta'ala yang sebenarnya adalah Pencipta dan Pemilik ajaran-ajaran itu sendiri  “.

Kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa beribadah sebenarnya bukanlah bertujuan mengejar pahala, tetapi sebagai training/latihan untuk mencapai derajat taqwa atau kesejatian diri yang sesungguhnya, sehingga menjadi manusia yang mampu menjalankan hidup didalam pimpinan ruh yang hidup.
Untuk dapat meningkatkan kualitas kesadaran rendah menjadi kualitas kesadaran yang lebih tinggi, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah menurunkan dominasi ego yang ada dalam diri kita.
Apabila ego sudah tidak menguasai hati, maka suara hati merupakan suara/petunjuk dari ALLAH dapat didengar dengan jelas.
Selanjutnya, yang bertindak sebagai pengendali tubuh adalah jiwa yang berserah kepada ALLAH Subhanahu wa ta'ala (mukhlisin).
ALLAH menggambarkan, setan pun tidak mampu menjangkau keadaan jiwa yang berserah diri kepada NYA :
“Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMU yang mukhlis di antara mereka”
(QS. Shad : 82-83)

Sahabat"...
Jelas sudah ruh merupakan pimpinan bagi jasad dan jiwa.
Lalu sudahkah hidup kita dipimpin oleh ruh yang hidup ?
Maka penyingkapan misteri ruh merupakan langkah awal yang harus kita lakukan.
Lalu bagaimana caranya membuka hijab atau tabir ruh ?
Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk menyibak hijab ruh.
Istighfar , adalah salah satu nya upaya agar kita memiliki kesadaran akan pentingnya ruh suci, yang merupakan Dzat TUHAN yang ada pada diri kita sebagai pemimpin jasad dan jiwa dalam menjalankan hidup dan kehidupan.
ruh suci (Dzat TUHAN) yang terhijab dalam selubung qalb dan nafs harus dibuka tabirnya,
membuka hijab dengan terbukanya tabir ruh, maka RUH akan kembali menjalankan fungsinya sebagai “ unsur yang mulia ” yaitu bersifat Energi Ilahiyah.
Energi Ilahiyah ini bukan saja berfungsi sebagai “ zat hidup ”, namun juga sebagi energi yang memberikan kehidupan.
pada tahap selanjutnya, Energi Ilahiyah ini kemudian diselaraskan dengan energi alam semesta (energi Sunnatullah).

Adapun manfaat yang dapat diperoleh setelah tabir “ruh”  terbuka adalah :
1. Membantu menyelaraskan alam akal dan alam rasa. Apabila alam akal dan alam rasa telah terbiasa dalam keadaan selaras, maka prilaku seseorang tidak lagi dikuasai/dikontrol oleh ego.
2. Sebagai  upaya penyelamatan, dimana energi ilahiyah (zat tuhan) dalam diri dapat digunakan untuk upaya pengobatan bagi diri sendiri maupun orang lain, secara lahir maupun bathin.
3.Meningkatkan kekhusyu’an dalam beribadah.
4.Membersihkan hati sebagai tempat bersemayamnya Zat ALLAH ada pada tubuh manusia melalui praktek/latihan (lewat dzikir, meditasi, khalwat, dan lain-lain) 
Hal ini akan meredam timbulnya sifat-sifat negatif manusia.
5.Menambah tingkat keimanan kepada ALLAH, dengan belajar dan terus belajar berserah diri kepadaNYA dengan cara pasrah, ikhlas dan syukur.
Senang, susah, suka, duka, rindu dan cinta, bukan karena dirinya, bukan pula karena dunianya, tetapi semuanya Lillaahi ta’ala (karena ALLAH Ta'ala).
Namun semua manfaat tersebut tidaklah serta merta didapat begitu saja setelah RUH dibuka tabirnya, melainkan semua itu butuh proses dan juga izinNYA.

Seseorang yang Rutin dan teratur dalam melakukan Istighfar, selain untuk memperbaiki syahadatnya, juga akan membuka hijab RUH nya, agar RUHnya menjadi pemimpin bagi jasad dan jiwanya dan menjadi manusia yang mampu menjalankan hidup didalam pimpinan ruh yang hidup, untuk mencapai ma’rifatNYA.

Sahabat"... 
Terkadang “istighfar” disebut sendirian, tapi terkadang pula ia disebut secara bersambungan dengan kata “taubat”.
Kata istighfar bila ia disebut sendirian, ia mengandung makna taubat.
Namun bila disebut secara bersamaan dalam satu ayat, maka istighfar bermakna “meminta pengampunan/ penjagaan dari kesalahan-kesalahannya yang telah lampau”.
Sedangkan kata taubat berarti “Kembali kejalan ALLAH dan minta dijaga dari kesalahan-kesalahan yang akan datang”.
Dilihat dari asal kata, istighfar berasal dari kata غَفَر يَغْفِر (ghofaro yaghfiru) yang bermakna mengampuni atau memaafkan. Lafazh ini mengikuti wazan إستفعل يستفعل إستفعال (istaf'ala yastaf'ilu istif'al), sehingga istighfar mengandung arti meminta ampunan. 
Sebagai hamba ALLAH yang tidak luput dari salah dan dosa, selayaknya kita memperbanyak istighfar kepada ALLAH Subhanahu wa ta'ala.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh Radhiyallaahu 'anhu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:

    واللَّه إِنِّي لأَسْتَغْفرُ الله، وَأَتُوبُ إِليْه، في اليَوْمِ، أَكثر مِنْ سَبْعِين مرَّةً  - رواه البخاري
"Demi ALLAH, sesungguhnya aku beristighfar dan bertaubat kepada ALLAH lebih dari 70 kali dalam sehari".
 (HR Bukhori)

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasalam bersabda:

    يَا أَيُّها النَّاس تُوبُوا إِلى اللَّهِ واسْتغْفرُوهُ فإِني أَتوبُ في اليَوْمِ مائة مَرَّة - رواه مسلم

"Wahai manusia, bertaubatlah kepada ALLAH dan beristigfarlah kepada-NYA, sesungguhnya aku bertaubat kepadaNYA 100 kali dalam sehari".
(HR Muslim)

Sahabat'....
Dua hadits di atas memberikan gambaran taubat dan istighfarnya Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam.
Meski telah mendapat jaminan ampunan dan syurga dari ALLAH Subhanahu wa ta'ala, namun Beliau tetap bersungguh-sungguh dalam beristighfar dan bertaubat kepada-NYA.
Sebagai hamba ALLAH yang tidak mendapatkan jaminan dari ALLAH, hendaknya kita mencontoh prilaku Baginda Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam dan merasa malu apabila kita lalai dalam memohon ampunan kepada ALLAH Subhanahu wa ta'ala.

Abu al-Hasan asy-Syadzili Rahimahullah berkata:
    عليك بالإستغفار وإن لم يكن هناك ذنب، واعتبر باستغفار المعصوم الأكبر صلى الله عليه وسلم بعد البشارة واليقين بمغفرة ما تقدم من ذنبه وما تأخر

"Hendaklah kamu beristighfar walaupun tidak mempunyai dosa, ambillah pelajaran dari istighfarnya Nabi Besar yang terpelihara dari dosa Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam setelah ia mendapat kabar gembira dan keyakinan atas ampunan dosa baik terdahulu maupun kemudian."

    Waktu- waktu yang dianjurkan untuk Istighfar

1.  pada awal dan akhir malam, serta awal dan akhir siang.
Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
    ما من حافظين يرفعان إلى الله تعالى في يوم صحيفةً فيرى في أول الصحيفة وفي آخرها استغفارا إلا قال الله تعالى: قد غفرتُ لعبدي ما بين طرفي الصحيفة. فطوبى لمن وجد في صحيفته استغفارا كثيرا - رواه ابن ماجه

"Tidaklah dua malaikat hafazhah melaporkan buku amal (seorang hamba) kepada ALLAH pada suatu hari, kemudian ALLAH melihat istighfar pada awal dan akhir buku amal tersebut, melainkan ALLAH berfirman "sungguh AKU telah mengampuni hamba-KU atas apa yang terdapat diantara dua ujung buku amalnya", maka beruntunglah orang yang mendapatkan banyak istighfar dalam buku amalnya". 
(HR. Ibnu Majah)

2.  ketika mengalami kesulitan dalam hal rezeki.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
    من لزم الإستغفار جعل الله له من كل ضيق مخرجا، ومن كل هم فرجا، ورزقه من حيث لا يحتسب - رواه ابن حبان

"Barangsiapa membiasakan beristighfar maka ALLAH akan memberinya jalan keluar dari setiap kesulitan, keluasan dari setiap kebingungan, dan ALLAH akan memberinya Rezeki dari tempat yang tidak diduga-duga". 
(HR. Ibnu Hibban)

3.  ketika jatuh ke dalam perbuatan dosa.
Baginda Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
    ما من مسلم يعمل ذنبا إلا وقف الملك الموكل بإحصاء ذنوبه ثلاث ساعات. فإن استغفر الله تعالى في شيء من تلك الساعات لم يوقعه عليه ولم يعذب عليه يوم القيامة - رواه الحاكم

"Tidaklah seorang muslim melakukan dosa, melainkan malaikat yang bertugas menghitung dosanya menundanya selama tiga saat. Jika ia beristighfar kepada ALLAH pada salah satu saat tersebut, maka dosa tersebut tidak akan dibebankan kepadanya dan ia tidak akan mendapat siksa pada hari kiamat." 
(HR. al-Hakim)

4. saat menutup setiap kegiatan.
Dalam hadits dijelaskan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam selalu beristighfar sebanyak tiga kali setiap selesai melaksanakan sholat fardhu.
Melalui amalan ini Baginda Nabi Muhammad Shalallaahu 'alaihi wasallam memberi peringatan kepada umatnya bahwa dalam ketaatan mereka kepada ALLAH Subhanahu wa ta'ala masih terdapat kekurangan.

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam mengajarkan do'a yang sering disebut dengan do'a kaffarotul majelis, yaitu menutup setiap kegiatan dengan membaca
       سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ، وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:

   كَفَّارَةُ الْمَجْلِسِ إِذَا أَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ أَنْ يَقُولُ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ، وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ، فَإِنْ كَانَ مَجْلِسَ ذِكْرٍ كَانَ كَالطَّابِعِ عَلَيْهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَإِنْ كَانَ مَجْلِسَ لَغْوٍ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهُ 
Kaffarotul majleis adalah jika salah seorang diantara kamu akan berdiri dari majelisnya maka hendaknya mengucapkan
     سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ، وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ 
(maha suci ENGKAU ya ALLAH, dengan memuji kepada-MU, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan ENGKAU, aku memohon ampunan-MU dan aku bertaubat kepada-MU).
Jika majelis itu adalah majelis dzikir, maka do'a tersebut laksana cap sampai hari kiamat.
Dan jika majelis itu adalah majelis yang lalai, maka doa itu menjadi kaffaroh (tebusan) atas apa yang terjadi sebelumnya."

5.  ketika mendapatkan prasangka baik dari orang lain padahal pribadi kita tidak sebaik yang mereka sangkakan.
Hal ini mungkin berlawanan dengan sifat manusia pada umumnya, karena biasanya seseorang selalu ingin dianggap baik melebihi kadar kebaikan yang ia miliki.
Oleh karena itu, selama pada diri seseorang masih terdapat hal yang tercela baik dalam ucapan, perbuatan maupun bisikan hati, maka selayaknya ia memperbanyak istighfar kepada ALLAH Subhanahu wa ta'ala supaya tidak termasuk orang yang suka menipu dan menzalimi orang lain.
Sebagian ulama salaf apabila mendapat pujian yang tidak selayaknya kita dapatkan senantiasa membaca do'a sebagai berikut,

    اللّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْن وَاغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَعْلَمُوْن وَاجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْن

"Ya ALLAH, janganlah ENGKAU menghukum aku dengan apa yang mereka ucapkan, ampunilah aku atas sesuatu yang tidak mereka ketahui, dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan."


Sahabat"...
Adalah Muhammad Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam, manusia yang makshum ( terjaga dari dosa ), meskipun demikian Beliau, Shallallaahu 'alaihi wa sallam tetap akrab dengan kalimat istighfar.
Ibnu Umar Radhiyallaahu 'anhu pernah memberi kesaksian bahwa beliau mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam dalam suatu majlis membaca kalimat ( yang artinya ); “Saya memohon ampun kepada ALLAH yang tidak ada sembahan selain DIA. Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepadaNYA sebanyak seratus kali.”
( H.R.Nasa`i,Ibnu Hajar berkata:”sanadnya baik” ).

Sahabat"...
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam dan Para Sahabat Radhiyallaahu 'anhuma yang kondisinya jauh dari polusi kemaksiatan dan hari-harinya senantiasa dipenuhi dengan amal kebajikan saja tetap tanggap, serius dan terus menerus  istighfar, maka bagaimanakah dengan kita hari ini ?
Hari ini kebanyakan dari kita adalah orang-orang yang melalaikan istighfar.
Padahal kalau melihat kondisi yang ada selayaknyalah kita yang lebih banyak membutuhkan istighfar, sebab tingkat kemaksiatan dimas sekarang ini lebih besar dan lebih banyak dibandingkan pada masa para Sahabat Radhiyallaahu 'anhuma.
Bukankah berbohong, ghibah, mengurangi timbangan, zina dan segudang dosa-dosa besar sudah menjadi hal yang wajar dan biasa dikalangan kebanyakan dari kita ?
Dancelakanya dosa-dosa itu kita anggap sebagai angin lalu, seakan tidak membahayakan kita.

Sahabat"....
Sudah saatnya kita merenung dan bertanya pada diri kita masing-masing,
sudahkah ada dalam diri kita perasaan perlu terhadap istighfar sehingga secara otomatis kalimat-kalimat istighfar itu sering mengalir dari mulut dan hati kita ?

Sebagaimana kita ketahui bahwa dosa itu dikategorikan dalam dua jenis, yaitu dosa besar dan dosa kecil.
Dosa kecil akan hapus bila kita berucap istighfar dan berbuat kebajikan.
Adapun jika yang kita lakukan termasuk dalam kategori dosa besar, maka ucapan istighfar tanpa disertai dengan rasa penyesalan dan upaya melepaskan diri dari kemaksiatan (Taubatan nasuha) adalah gurauan belaka.
Padahal ulama telah memberitahukan bahwa taubat itu baru bernilai jika telah memenuhi beberapa syarat, yaitu;
Segera menghentikan kemaksiatan yang dikerjakannya.
Menyesal atas perbuatan dosa yang dilakukannya.
Berniat sungguh-sungguh untuk tidak lagi mengulangi perbuatannya tersebut.
Dan Jika dosanya berkaitan dengan hak-hak adami maka ia harus mengembalikan hak orang yang telah dizaliminya.
Tanpa itu semua maka taubat kita baru sebatas omongan belaka, tanpa  ada buktinya.
Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan teladan bagi orang-orang beriman dalam segala hal. Beliau teladan dalam hal dzikrullah (mengingat Allah). Sehingga suatu ketika Ummul Mukminin, Aisyah radhiyallahu’anha pernah memberi kesaksian.  
    عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ

    كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ


Aisyah radhiyallahu’anha berkata: ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam senantiasa mengingat ALLAH dalam setiap keadaan.”
(HR. Bukhari)

Lalu dalam hadits yang lain putera Umar bin Khattab radhiyallahu’anhuma bersaksi bahwa beliau benar-benar menghitung dalam satu kali duduk dalam suatu majelis Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tidak kurang dari seratus kali memohon ampun dan bertaubat kepada Allah.

Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar menghitung dzikir Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam satu kali majelis (pertemuan), beliau mengucapkan 100 kali (istighfar dalam majelis): “Ya Rabb, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat dan Maha Penyayang.” (HR Abu Dawud 1295)


Kebiasaan Rasulullah shollallahu ’alaihi wa sallam berdzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan serta memohon ampunan Allah menunjukkan betapa seriusnya beliau dalam upaya menjalin hubungan dengan Allah Rabbul ‘aalamien. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak ingin melewatkan sesaatpun tanpa mengingat Allah dan memohon ampunanNya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ingin menunjukkan kepada para pengikutnya bahwa seorang yang mengaku beriman sudah sepatutnya memperbanyak mengingat Allah.
Sebab semakin sering mengingat Allah berarti akan semakin tenteram hati seseorang.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


”(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingai Allah-lah hati menjadi tenteram.”
(QS Ar-Ra’du ayat 28)

Ketenteraman Nabi shallallaahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang beriman muncul ketika sedang mengingat ALLAH.
Dan ALLAH menyuruh orang-orang beriman untuk mengingat ALLAH sebanyak mungkin.
Tidak seperti orang-orang munafik yang sedikit sekali dalam mengingat ALLAH. Mereka tidak merasa perlu untuk sering apalagi banyak mengingat ALLAH. Mereka mengerjakan sholat dengan kemalasan dan dengan niat hanya untuk dilihat dan dipuji manusia.
Pada hakikatnya orang-orang munafik kalaupun mengingat ALLAH, maka mereka hanya dzikir dengan jumlah yang sangat sedikit dan tidak berarti.


 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرً


”Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”
(QS Al-Ahzab ayat 41)

  
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى
الصَّلَاةِ قَامُوا
  كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
 

”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu ALLAH, dan ALLAH akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat ALLAH kecuali sedikit sekali.”
(QS AN-Nisa ayat 142) 
Sahabat"...
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam merupakan hamba ALLAH yang gemar memohon ampunan ALLAH dan selalu bertaubat kepadaNYA.
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam ingin mendidik ummatnya agar selalu menghayati bahwa manusia selalu dalam keadaan banyak berbuat dosa, Sehingga manusia selalu membutuhkan ampunan ALLAH.
Manusia selalu dalam keadaan cenderung menyimpang dari jalan yang lurus, Sehingga manusia perlu untuk selalu bertaubat (kembali) kepada ALLAH dengan menempuh Jalan yang telah ditunjukkan ALLAH melalui Al Qur'an dan RasulNYA Muhammad Shallallaahu 'alaihi wasallam.
Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam mengajarkan suatu lafadz do'a yang disebut Sayyidul Istighfar (Penghulu Istighfar)  untuk memotivasi umat yang beriman kepada ALLAH.
Barangsiapa yang setiap hari membiasakan dirinya membaca do'a tersebut dengan penuh keyakinan, maka Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaminnya sebagai penghuni surga di akhirat kelak.

 Dalam Shahih al-Bukhari, Kitab ad-Da'awat, Bab Afdhal al-Istighfar, 11/97, no. 6306. Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda,
    سَيِّدُ الاِسْتِغْفَارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ: اللّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي، لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِي، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ، فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ.مَنْ قَالَهَا بِالنَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِيَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ.
"Penghulu istighfar adalah ucapan seorang hamba,
"Ya ALLAH, ENGKAU adalah Rabbku.
Tiada ALLAH selain ENGKAU.
ENGKAU telah menciptakan aku, dan aku adalah hambaMU
dan aku akan berusaha menepati ikrar dan janjiku kepadaMU dengan segenap kekuatan yang aku miliki.
Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku.
Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMU yang tercurah kepadaku
dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan.
Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain ENGKAU.”
Siapa saja yang mengucapkannya dengan yakin pada siang hari, lalu dia meninggal hari itu sebelum sore hari, maka dia termasuk penduduk surga. Dan siapa saja yang mengucapkannya dengan yakin pada malam hari, lalu dia meninggal sebelum Shubuh, maka dia termasuk penduduk surga."
 (Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6306 dan 6323), at-Tirmidzi (no. 3393), an-Nasa’i (no. 5522) dan lain-lain.)

Sahabat"...
Setelah kita mengetahui bacaan sayyidul istighfar, alangkah baiknya, jika kita tidak hanya sekedar menghafalkan doa-doa tersebut, tapi juga memahami dan merenungi makna dari setiap lafadznya, sekaligus mengetahui juga akan makna yang ter kandung didalamnya serta keutamaan dari do'a tersebut.


Insya ALLAH, Penjelasan dari do'a Sayyidul Istighfar tersebut adalah sebagai berikut :

Allahumma anta rabbii 
(Ya ALLAH sesungguhnya ENGKAU adalah Rabb-ku
Maksudnya, kita mengakui bahwa ALLAH adalah pencipta dan pemelihara kita.
Karena Rabb berarti : pencipta ,pemilik dan pemelihara.
Pengakuan seperti ini disebut dengan ” Tauhid Rububiyah ” .
Maka, do'a itu kalau kita panjangkan, kira-kira berbunyi begini :
” Ya ALLAH sesungguhnya ENGKAU adalah Rabb-Ku, Dzat Yang menciptakanku.
Dulu diriku tidak ada, hanya dengan izin-MU aku menjadi ada dan masih hidup di dunia ini.
ENGKAU adalah Rabb-ku, Dzat Yang memeliharaku.
dulu aku kecil, tidak bisa apa-apa dan tidak tahu apa-apa, hanya dengan Inayah dan Perhatian-MU, sehingga aku menjadi besar dan tahu banyak hal.
ENGKAU lah Yang memberikan-ku rizki sehingga sampai sekarang aku bisa makan dan minum….

Laa ilaaha illaa anta
(tidak ada ALLAH selain ENGKAU),
Maksudnya, kita mengakui dan menyatakan bahwa di alam ini tidak ada yang berhak disembah kecuali ALLAH Subhanahu wa ta'ala.
Karena ” ilah ” berarti : sesuatu yang disembah , sesuatu yang dijadikan gantungan dan sandaran, sesuatu yang dituju dan dicari ketika terjadi kesulitan.
Pengakuan seperti ini disebut dengan ”Tauhid Uluhiyah”.
Jadi doa ini kalau dipanjangkan kira-kira berbunyi : ” Tiada yang berhak disembah dan dimintai kecuali ENGKAU ya ALLAH.
Aku tidak akan meminta hajat kecuali kepada-MU ya ALLAH,
tiada akan meminta bantuan kecuali kepada-MU ya ALLAH,
tiada minta kesembuhan kecuali kepada-MU ya ALLAH,
tiada memohon ampun kecuali kepada-MU ya ALLAH,
tiada memohon jalan keluar dalam seluruh masalah kecuali kepadaMU ya ALLAH.

Inilah inti dari seluruh ibadat kita.
Kita shalat, berpuasa,membayar zakat dan kita melakukan ibadah haji, semuanya berisi ketundukan kepada ALLAH Subhanahu wa ta'ala.
Maka, tiada artinya kita shalat tiap hari, tapi kita masih memohon perlindungan kepada selain ALLAH,
kita masih memberikan sesajen di pojok-pojok jalan, di bawah-bawah pohon beringin , di tepi-tepi pantai selatan, di lereng-lereng gunung, yang bertujuan untuk kita persembahkan kepada jin penunggu tempat-tempat tersebut.
Tiada artinya kita haji sepuluh atau dua puluh kali, tetapi kita masih datang ke dukun-dukun untuk meminta jodoh, meminta keturunan, meminta pelaris dan meminta jabatan.

Kholaqtanii wa ana ‘abduka  
(ENGKAU telah menciptakanku, sedang aku adalah hamba-MU)
 ENGKAU adalah Dzat Yang menciptakan seluruh alam ini, aku hanyalah seorang hamba yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa, kecuali dengan bantuan-MU.
hamba yang tidak mempunyai apa-apa kecuali dengan pemberian-MU ya ALLAH.

Wa ana ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’thu
(dan aku akan berusaha memenuhi Ikrar dan janjiku kepada-MU dengan segenap kekuatan yang kumiliki)

Al ‘Ahdu ( Janji kita kepada ALLAH ) adalah kita mengakui bahwa ALLAH adalah Rabb kita,
kita telah berjanji kepada ALLAH, bahwa kita akan melaksanakan seluruh perintahNYA dan menjauhi semua larangan-NYA.
Janji ini pernah kita sampaikan kepada ALLAH sewaktu kita berada di sulbi Adam, sebagaimana yang pernah disampaikan ALLAH Subhanahu wa ta'ala dalam firman-NYA :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتَ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan ALLAH mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah AKU ini Rabb-mu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau TUHAN kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan TUHAN)”
( Qs. Al A’raf : 172 )

Maka do’a tersebut kalau kita panjangkan maka berbunyi :
” Ya ALLAH, aku dulu pernah berjanji kepada-MU sewaktu masih di sulbi Adam, untuk mentaati segala perintah-MU dan menjauhi segala larangan-MU.
Maka akan aku penuhi janjiku tersebut menurut kemampuan dan kekuatanku ya ALLAH.

Adapun ” al Wa’du “ ( Janji ALLAH kepada kita ) adalah bahwa ALLAH akan memberikan pahala bagi yang taat dan memberikan hukuman bagi yang bermaksiat.
Maka do'a itu kalau kita panjangkan, maka bunyinya,
” Ya ALLAH aku juga membenarkan janji-MU, bahwa ENGKAU akan memberikan pahala bagi yang taat dan memberikan hukuman bagi yang bermaksiat, oleh karena itu aku akan mentaatimu ya ALLAH dan meninggalkan larangan-larangan-MU menurut kekuatan dan kemampuanku. ”

A’uudzubika min syarri maa shona’thu
(aku berlindung kepada-MU dari keburukan perbuatanku)
Sahabat"... 
Kita harus selalu berlindung kepada ALLAH dari perbuatan jelek kita.
Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam sendiri selalu mengajarkan kepada kita agar selalu berlindung kepada ALLAH dari kejahatan jiwa kita dan kejelekan amalan kita.
Ini sangat terlihat secara jelas di dalam setiap khutbahnya ketika beliau Shallallaahu 'alaihi wasallam berdo’a :

” Dan kami berlindung kepada ALLAH dari kejahatan jiwa kami dan kejelekan amalan kami ”

Jiwa manusia selalu membisikan kejelekan, makanya kita dianjurkan untuk selalu berlindung kepada ALLAH dari bisikannya,
sebagaimana firman ALLAH Subhanahu wa ta'ala melaui lisan istri pejabat yang pernah merayu nabi Yusuf alaihissalam :
وَمَا أُبَرِّىءُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّيَ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ
” Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang Sesungguhnya jiwa ini selalu menyuruh kejelekan ”
( Qs Yusuf : 53 )
Abuu-u laka bini’matika ‘alayya
(Aku mengakui betapa besar nikmat-nikmatMU yang tercurah kepadaku)

Nikmat yang diberikan ALLAH kepada kita sangat banyak sekali, karena terlalu banyaknya, sehingga kita tidak bisa menghitungnya,
sebagaimana firman ALLAH Subhanahu wa ta'ala :
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَتَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ الإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
”Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat ALLAH, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat ALLAH )”
( QS. Ibrahim : 34 )

Seorang hamba yang merasa dan mengakui adanya nikmat tersebut, tentunya akan terus bersyukur.
Kalau do’a tersebut dipanjangkan , maka akan berbunyi :
” Ya ALLAH , aku mengakui bahwa nikmat-nikmat yang Engkau berikan kepadaku sangat banyak sekali, nikmat kehidupan, tanpa ijin-MU tidak mungkin aku bisa hidup di dunia ini, nikmat anggota badan yang lengkap, seandainya saja salah satu anggota badan ini ENGKAU cabut …ya ALLAH , tentunya aku akan mendapatkan kesusahan,
Terimakasih ya ALLAH, atas Limpahan nikmat ini, apa yang harus aku berikan pada MU, ya ALLAH, demi mensyukuri segala nikmat ini,
begitu juga nikmat kesehatan yang ENGKAU berikan kepadaku, sehingga aku bisa mengerjakan aktivitas sehari-hari dan bisa bekerja dengan baik, jika kesehatan ini ENGKAU cabut ya ALLAH, tentunya aku akan mendapatkan kesusahan…terimaksih ya ALLAH atas segala nikmat ini.”

Wa abuu-u   bidzanbii
(dan aku tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah aku lakukan.)

Mengakui dosa merupakan syarat diterimanya sebuah istighfar dan taubat.
Oleh karenanya, orang yang berdoa harus merasa rendah dan hina di hadapan ALLAH, harus merasa bahwa dirinya adalah makhluk yang berlumuran dosa dan maksiat, makhluk yang kecil yang tidak mempunyai daya apa-apa.
Sebaliknya dia harus mengakui bahwa ALLAH adalah Maha Suci, Maha Perkasa, Dzat Yang Mampu melakukan apa saja…

Oleh sebab itulah, orang yang takabbur dan sombong jarang mau bertaubat, karena merasa dirinya adalah makhluk yang suci dan tidak pernah salah.
Orang seperti ini biasanya hatinya keras dan kasar terhadap sesama.
Berbeda dengan orang yang selalu mengucapkan dan merenungi do'a Sayyidul Istighfar ini hatinya selalu lembut,  mudah menerima nasehat, mudah terharu dan mudah menangis karena selalu ingat akan dosa-dosanya,
dan yang paling penting marikita selalu beristighfar dan banyak bertaubat.

Faghfirlii fainnahuu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta
(Karenanya, ampunilah aku. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain ENGKAU)


Keutamaan Do’a Sayyidul Istighfar

“Barangsiapa yang membaca do'a ini di sore hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada malam harinya, maka dia termasuk penghuni surga.
Barangsiapa yang membaca do'a ini di pagi hari dan dia betul-betul meyakini ucapannya, lalu dia meninggal dunia pada siang harinya, maka dia termasuk penghuni surga.”
(Hadits Shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari , at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan lainnya.)

Sahabat"...
Hadits di atas menjelaskan secara gamblang bahwa barang siapa yang mengucapkan atau membaca do'a Sayyidul Istighfar dengan menyakini isinya, maka ALLAH akan memasukkannya ke dalam syurga.
Kenapa bisa begitu ?

Pertama    :    Karena dia sudah menyatakan ke –Esaan ALLAH ( bertauhid ) dari hatinya yang paling dalam serta menyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali ALLAH Subhanahu wa ta'ala.

Kedua         :     Karena dia sudah beristighfar dan memohon ampun atas segala dosa-dosanya.

Ketiga     :     Setelah hatinya kosong dari dosa dan diisi dengan tauhid, tiba-tiba dia mati pada hari itu juga, maksudnya dia belum sempat mengerjakan dosa-dosa lagi, maka tentunya orang seperti ini termasuk ahli syurga.
Sebagaimana yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam :
ن لقي الله تعالى لا يشرك به شيئاً دخل الجنة

” Barang siapa yang bertemu dengan ALLAH dalam keadaan tidak menyekutukanNYA dengan sesuatu, niscaya ia akan masuk syurga ”
( HR Ahmad )

Ini dikuatkan juga dengan hadits lain bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda :

” Barang siapa yang akhir dari perkataannya : La ilaha illallaah , niscaya ia akan masuk syurga . ”


Wallaahu a'lamu bish-shawab
Sahabat"...
Sebagai penutup, Mari kita Resapi lagi beberapa Ayat dan Hadits berikut ini:
    وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِىِّ وَاْلإِبْكَارِ
"Dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu petang dan pagi."
(QS. Al-Mukmin: 55).


    وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
"Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan."
(QS. Muhammad: 19).


    وَاسْتَغْفِرِ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا
    [النساء/106]
"Dan mohonlah ampun kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. An-Nisa: 106).


    وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat kepada ALLAH, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain ALLAH. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."
(QS. Ali Imran: 135).


    وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia mohon ampun kepada ALLAH, niscaya ia mendapati ALLAH Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
(QS. An-Nisa: 110).

dari Anas radhiyallahu 'anhu, dia berkata, saya mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
      قَالَ اللهُ تعالى : يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي، غَفَرْتُ لَك مَا كَانَ مِنْكَ وَلاَ أُبَالِيْ. يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوْبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ، غَفَرْتُ لَكَ. يَا ابْنَ آدَمَ! لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ أَتَيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا، لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً.
"ALLAH Ta’ala berfirman, 'Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya kamu, selama masih berdoa kepadaKU dan mengharapkanKU, niscaya AKU akan mengampuni segala dosamu (sebanyak apapun) dan AKU tidak peduli.
Wahai anak cucu Adam, kalau seandainya dosamu (menumpuk) mencapai awan di langit kemudian kamu meminta ampun kepadaKU, niscaya AKU mengampuni segala dosamu.
Wahai anak cucu Adam, kalau seandainya kamu mendatangiKU dengan kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu mendatangiKU, dengan tidak menyekutukanKU dengan sesuatu, niscaya AKU akan memberikan ampunan sepenuh bumi'." 
(HR. at Tirmidzi)

dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, dia berkata,
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
    مَنْ لَزِمَ الاِسْتِغْفَارَ، جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ.
'Barangsiapa yang membiasakan diri beristighfar (memohon ampunan), maka ALLAH menjadikan jalan keluar baginya dari segala kesempitan, dan memberikan jalan keluar dari segala kesedihan, serta DIA memberinya Rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka'.
(HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)

 dari Abdullah bin Busr radhiyallahu 'anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
    طُوْبَى لِمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا.
'Beruntunglah bagi orang yang mendapatkan dalam shahifah (catatan amalan)nya istighfar yang banyak'.
(HR. Ibnu Majah)


      رَبِّ اغْفِرْ لِيْ، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
"Ya Rabb, ampunilah aku, terimalah taubatku, sesungguhnya ENGKAU lah Maha penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar