Kamis, 20 Desember 2012

Me maknai Muhasabah


بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Sahabat"...
Apabila kita masih gemar melakukan ghibah, dapat dipastikan bahwa kita merupakan golongan orang yang merugi dan jauh dari hati yang bersih.
Gajah di pelupuk mata tak kelihatan,
Sibuk untuk mengoreksi orang lain, terlebih memperbincangkan dan memperoloknya dengan orang lain.
Disisi lain, dirinya sendiri yang masih berlumuran dosa pun diacuhkan.
itulah sifat manusia pada umumnya (semoga kita dijauhkan dari sifat demikian, Aamiin).

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa
dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain
dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati.
Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.
Dan bertaqwalah kepada ALLAH.
Sesungguhnya ALLAH Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
(QS. Al Hujurat:12)

Sahabat"...
Sebagai seorang Muslim yang senantiasa ingin mendekatkan diri kepada ALLAH demi mengharapkan Ridho-NYA, tentu kita akan selalu berusaha menjaga kebersihan hati kita.
Sudah semestinya kita mempererat hubungan kita dengan sesama manusia (Hablum minannaas)
terlebih lagi orang tersebut adalah saudara seiman kita demi mempererat hubungan kita kepada Allah (Hablum minallah).

Menutupi kesalahan diri sendiri dengan menggunakan kesalahan orang lain merupakan cara yang salah agar kita tidak melakukan kesalahan !!!


Dari Syadad bin Aus Radhiyallaahu 'anhu., dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam berkata,
"Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap ALLAH  Subhana wa ta'ala."
(HR. Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)

Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan ALLAH.
Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah).
Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam dalam hadits ini.
Bahkan dengan jelas, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.

Hadits di atas dibuka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam dengan, "Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’"

 Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim.
Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.

Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat.
Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi.

Orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya.
Orang bertakwa adalah yang Rela mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, kebahagian kehidupan ukhrawi.

Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam sebagai kunci pertama dari kesuksesan.
Selain itu, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation.
Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan.
Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah  Shallallaahu 'alaihi wasallam dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’
Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah  Shallallaahu 'alaihi wasallam langsung setelah penjelasan tentang muhasabah.
Karena muhasabah tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.

Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat.
Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.
Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan.

Disebutkan oleh Rasulullah  Shallallaahu 'alaihi wasallam dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu:
pertama,
Orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya.

Sedangkan yang kedua adalah,
memiliki banyak angan-angan dan khayalan, berangan-angan terhadap ALLAH.
Maksudnya adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut:
Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada ALLAH dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada ALLAH, bahkan selalu berangan-angan bahwa ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya.

Umar  bin Khattab Radhiyallaahu 'anhu  mengemukakan:
‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab).
Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.
(H.R. Turmudzi)
Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar  bin Khattab Radhiyallaahu 'anhu memahami benar urgensi dari evaluasi ini.
Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar  bin Khattab Radhiyallaahu 'anhu mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak.
Umar  bin Khattab Radhiyallaahu 'anhu paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari ALLAH Subhanahu wa ta'ala.

Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya.
Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan Ridha ILLAHI.

Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap ALLAH Subhanahu wa ta'ala dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya.

ALLAH Subhanahu wa ta'ala  menjelaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”
[QS. Maryam: 95 & QS. Al-Anbiya’: 1].

Sahabat"...
Ada beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar  menjadi orang yang pandai dan sukses, yaitu;
1.Aspek Ibadah
Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah.
Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini.
[QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]

2. Aspek Pekerjaan dan Perolehan Rizki
Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan tidak dipedulikan oleh kebanyakan kita.
Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya.

Didalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad  Shallallaahu 'alaihi wasallam  bersabda,
‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara;
umurnya untuk apa dihabiskannya,
masa mudanya, kemana dipergunakannya,
hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya,
dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’
(HR. Turmudzi)

3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam dalam sebuah hadits:
Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’
Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah  Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka.
(HR. Muslim)

Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam dalam hadits di atas.

Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dan lain sebagainya. 
Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya.
Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya.
Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.

4. Aspek Dakwah
Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan.
Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dan lain sebagainya.
Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan?
Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.
Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas.
Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dan lain sebagainya.
Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri.

Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan:
Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada ALLAH dengan hujjah yang nyata, Maha Suci ALLAH, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.
[QS. Yusuf (12): 108]

Sahabat"...
Ada baiknya kita mengevaluasi apa yang telah kita lakukan dan persiapan untuk menggapai masa depan yang lebih baik, hal tersebut diisyaratkan oleh ALLAH Subhanahu wa ta'ala Dalam firmanNYA : 
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kamu sekalian kepada ALLAH, dan hendaklah setiap diri, mengevaluasi kembali apa yang telah dilakukan untuk menata hari esok.
Dan bertakwalah kamu sekalian kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan”.
(QS. Al-Hasyr :18)

Menurut tafsir Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi dalam kitabnya Ruhul Ma'ani :
" setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa  lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan diakhirat kelak.
Karena hidup didunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akherat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya".

Sahabat"...
Jika kita berfikir tujuan utama manusia hidup didunia ialah mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal yaitu akherat, lalu sudahkah perbuatan yang telah kita lakukan merupakan manifestasi kecintaan kita kepada  ALLAH Subhanahu wa ta'ala?

Cermin yang paling baik adalah masa lalu, setiap individu memiliki masa lalu yang baik ataupun buruk, dan sebaik-baik manusia adalah selalu mengevaluasi dengan bermuhasabah diri dalam setiap perbuatan yang telah ia lakukan.

Sebagaimana pesan Sahabat Nabi Amirul Mukminin Umar bin Khatab Radhiyallaahu 'anhu :
" حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا "
" Evaluasilah (Hisablah) dirimu sebelum kalian dihisab dihadapan ALLAH kelak"

Pentingnya setiap individu menghisab dirinya sendiri untuk selalu mengintrospeksi tingkat nilai kemanfaatan dia sebagai seorang hamba ALLAH Subhanahu wa ta'ala   yang segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawabannya diakherat kelak.
Dan sebaik-baik manusia adalah yang dapat mengambil hikmah dari apa yang telah ia lakukan, lalu menatap hari esok yang lebih baik.
Untuk itu, takwa harus senantiasa menjadi bekal dan perhiasan kita setiap tahun, ada baiknya kita melihat kembali jalan untuk menuju takwa.


Sahabat"...
Para ulama menyatakan setidaknya ada lima jalan yang patut kita renungkan mengawali tahun ini dalam menggapai ketakwaan.
Jalan-jalan itu adalah:

1.    Muhasabah
Yaitu evaluasi diri dan meningkatkan kualitas diri dengan selalu mengambil hikmah dari setiap sesuatu yang terjadi dalam diri kita.

2.    Mu’ahadah
Yaitu mengingat-ingat kembali janji yang pernah kita katakan.
Setiap saat, setiap shalat kita seringkali bersumpah kepada Allah :
إيّاك نعبد و إيّاك نستعين
Hanya kepadaMU-lah kami beribadah dan hanya kepada-MU kami mohon pertolongan.
Kemudian kita berjanji :
;  ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين  إن صلاتي
“Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena ALLAH Rabb semesta alam”.
Dengan demikian,
ada baiknya kita kembali mengingat-ingat janji dan sumpah kita.
Semakin sering kita mengingat janji, Insya ALLAH kita akan senantiasa menapaki kehidupan ini dengan nilai-nilai ketakwaan.
Inilah yang disebut dengan mua’ahadah.

3.    Mujahadah
Adalah bersungguh-sungguh kepada  ALLAH Subhanahu wa ta'ala 
 والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا
Orang-orang yang sungguh-sungguh (mujahadah) dijalan KAMI, maka KAMI akan berikan hidayah kejalan KAMI.

Ibadah yang tidak dibarengi dengan kesungguhan, hanya menggugurkan kewajiban saja,
takut jatuh kedalam dosa dan menapaki kehidupan beragama asal-asalan.
Padahal bagi seorang muslim yang ingin menjadi orang-orang yang bertakwa, maka mujahadah atau penuh kesungguhan adalah bagian tak terpisahkan dalam menggapai ketakwaan disamping muhasabah dan mu’ahadah.

4.    Muraqabah
Adalah senantiasa merasa diawasi oleh  ALLAH Subhanahu wa ta'ala.
Inilah diantara pilar ketakwaan yang harus dimiliki setiap kali kita mengawali awal tahun dan menutup tahun yang lalu.
Perasaan selalu merasa diawasi oleh  ALLAH Subhanahu wa ta'ala dalam bahasa haditsnya adalah Ihsan.

”الإحسان هو أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك"
“Ihsan adalah engkau senantiasa beribadah kepada ALLAH seolah-olah engkau melihat-NYA, kalau pun engkau belum bisa melihat-NYA, ketahuilah sesungguhnya ALLAH melihat kepadamu”.

Muraqabah atau ihsan adalah diantara jalan ketakwaan yang harus kita persiapkan dalam menyongsong dan mengisi lembaran tahun baru.

Dulu dimasa sahabat, sikap muraqabah tertanam dengan baik dihati setiap kaum muslimin.

Kita bisa ambil sebuah contoh kisah.
Suatu ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab Radhiyallaahu 'anhu  bertemu dengan seorang anak gembala yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya.
Umar Radhiyallaahu 'anhu  berkata kepada anak tersebut: Wahai anak gembala, juallah kepada saya seekor kambingmu!
Si anak gembala menjawab : Kambing-kambing ini ada pemliknya, saya hanya sekedar menggembalakannya saja.
Umar  Radhiyallaahu 'anhu  lalu berkata : Sudahlah, katakan saja kepada tuanmu, mati dimakan serigala, kalau hilang satu tidak akan ketahuan.
Dengan tegas si anak itu menjawab : Jika demikian, dimanakah ALLAH itu?
Umar Radhiyallaahu 'anhu  demi mendengar jawaban si anak gembala ia pun menangis dan kemudian memerdekakannya.

Lihatlah !!!
seorang anak gembala yang tidak berpendidikan dan hidup didalam kelas sosial yang rendah tetapi memiliki sifat yang sangat mulia yaitu sifat merasa selalu diawasi oleh ALLAH Subhanahu wa ta'ala dalam segala hal.
Itulah yang disebut dengan muraqabah.
Muraqabah adalah hal yang sangat penting ketika kita ingin menjadikan takwa sebagai bekal hidup kita ditahun ini dan tahun yang akan datang.
Jika sikap ini dimiliki oleh setiap muslim, Insya ALLAH kita tidak akan terjerumus pada perbuatan maksiat.

Imam Ghazali Rahmatullah 'alaihi mengatakan :
‘Aku yakin dan percaya bahwa ALLAH selalu melihatku maka aku malu berbuat maksiat kepada-NYA”.

5.    Mu’aqabah
Artinya, mencoba memberi sanksi kepada diri manakala diri melakukan sebuah kekhilafan, memberikan teguran dan sanksi kepada diri kalau diri melakukan kesalahan.
Ini penting dilakukan agar kita senantiasa meningkatkan amal ibadah kita !
misalnya.
Manakala kita terlewat shalat subuh berjamaah maka hukumlah diri dengan infak disiang hari,
Manakala diri terlewat membaca al-Qur’an ‘iqoblah diri dengan memberi bantuan kepada simiskin.
Kalau diri melewatkan sebuah amal shaleh maka hukumlah diri kita sendiri dengan melakukan amal shaleh yang lain.

Inilah yang disebut mu’aqabah.
Jika sikap ini selalu kita budayakan, Insya ALLAH kita akan selalu mampu meningkatkan kualitas ibadah dan diri kita.

Sahabat"...
mari takwa kita jadikan hiasan diri dan bekal diri kita,
Mari kita jalani sisa kehidupan kita dengan menempuh lima cara tadi.
Yaitu muhasabah, muahadah, mujahadah, muraqabah dan mu’aqabah.
Evaluasi diri, mengingat-ingat janji diri, punya kesungguhan diri, selalu merasa diawasi ALLAH dan memberikan hukuman terhadap diri kita sendiri.
Jika lima hal ini kita jadikan bekal Insya ALLAH menapaki hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun kita akan selalu menapakinya dengan indah dan selalu meningkat kualitas diri kita,
Insya ALLAH.

Akhirul qalam,,
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Senin, 03 Desember 2012

Mengenal lebih dekat, Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu (KASSP)



RENUNGKAN PESAN RANGGAEK KE ANAKNYA


RENUNGKAN PESAN RANGGAEK KE ANAKNYA

Assalamu’alaikum …
Ananda …
Ateis Minang adalah musibah sekaligus fenomena menjauhkan generasi Minangkabau dari adat budayanya …
Ini adalah kondisi amat berbahaya …
Sebab, secara sosial budaya dan wilayah kepemilikan di Indonesia sampai kini …
Hanya wilayah Minangkabau saja kawasan ulayatnya yang belum terjamah 100% oleh kolonial imperial kapitalis yang liberalis itu …
Dan perlu ananda ketahui, bahkan oleh semua rakyat Minangkabau ini …
Bahwa di dalam buminya terkandung mineral kaya amat berharga lebih banyak dari yang dimiliki Papua dan daerah lainnya
>>> silahkan bertanya kepada ahlinya untuk itu <<<
Maka satu satunya upaya kolonial imperial kapitalis liberal itu adalah menghapus adat budaya Minangkabau melalui berbagai cara …
Akhirnya, ranah ini akan dikuasai mereka satu ketika kelak ….
Selain itu, bila Minang kehilangan kearifan budayanya maka identitas Minang dan identitas Nasional ini secara pasti akan hilang pula …
Maka ujungnya Indonesia tidak berharga lagi …
Akibatnya sangat jauh ananda …
Kami juga melihat dan menyaksikan dengan jelas bahwa jarang terjadi (bahkan tidak pernah terjadi) etnis Batak, Jawa, Bugis, Bali, Kahayan atau apa saja di nusantara Indonesia ini yang menghujat adat budaya mereka …
Kecuali, sekarang ini, hanya orang Minang saja yang seakan disuruh serta dibiayai menghujat adat budayanya, termasuk melalui pendekatan agama Islam yang dianut seratus prosen oleh orang Minang ini …
Rahasia apa yang ada dibalik itu semua ananda …. ???? …
S i l a h k a n …. J a w a b l a h …
INI PERANG BESAR …
Bahkan mungkin parang “basosoh” melalui alam maya …
Maaf jika kami menyampaikan ini dengan cara begini …
Ketahuilah bahwa Minangkabau memiliki dua kekayaan besar …
Pertama “kekayaan intelektual” dengan budayanya yang kuat berasas kepada Kitabullah yakni Al Quran dan umatnya adalah Islam sehingga disepakati diluar Islam bukan orang Minang ..
Kedua adalah “kekayaan alamnya” yang masih terpendam didalam perut buminya, “ibarat ikan yang berada di mata kucing yang sedang kelaparan” …
Dan inilah yang akan dihancurkan itu melalui pendongkelan budaya Minangkabau itu …
Mohon maafkan ayahanda …
Wassalam

Referensi

  • Tambo Alam Surambi Sungai Pagu, IKASUPA Jakarta 2004
  • Kutipan SK. Tuan Gub. SB di Padang; n. 564 tanggal 17 September 1888
  •  http://bandalakun.wordpress.com/
  •  Buku Saku (Kenang-kenangan) IKASUPA 2004 berdasarkan Tambo Alam Surambi Sungai Pagu. 
  • http://www.facebook.com/notes/emral-djamal/rantau-sungai-pagu/257450600993010 
  •  http://lppbi-fiba.blogspot.com/2009/01/kerajaan-alam-surambi-sungai-pagu-ikua.html 
  • http://www.solok-selatan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=786&Itemid=1 
  •  http://id.wikipedia.org/wiki/Alam_Surambi_Sungai_Pagu 
  •  http://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_Sepuluh
  •  https://blogminangkabau.wordpress.com/