Kini senjaku telah kelam dirangkul malam
Sisakan gelap meski angkasa berbinar purnama dan kilauan bintang
Kembali ku terhempas dalam kelamnya nestapa yang tiada jeda menerpa
Satu ruang direlung hati kian kosong, siratkan bayang-bayang kusam pada rona rupa yang kian mengelam
Malam,,,
Saat kugoreskan kata ini, deras air menghujani tenda memaksaku menyelami kembali danau kenangan
menyibak ribuan memory yang kembali bermunculan
Jejak yang tak mungkin bisa ku pungut
Lebur dalam balutan sang waktu
Laju dalam perjalanan hidup yang tak menentu...
aku terus melaju...
meski lambat ku tetap mengejar waktu...
kini,,, letih kian erat membelenggu
aku benar-benar letih
aku ingin berbaring dan tak ingin terbangun lagi
Benar-benar letih dalam penantian yang tiada pasti
aku pun tak yakin lagi dengan suara hati
Penantianku pun bagai telah usai
Meski geliat rindu itu terus memasung
tercampak disetiap desah nafas
Dan aku masih tetap memujanya dalam diam meski guratan luka ini tertoreh dalam di dada ciptakan nyeri yang tiada terkira.
Inikah hidupku ?
kalah dengan lesatan risau yang terkadang membuatku termangu tuk menunggu....
Inikah akhir jalanku?
Jika perjuangan di ambang batas kemampuan
Jika perjuangan di ambang batas kemampuan
akupun rela melepaskan apa yang aku inginkan...
tak mudah memang...
semua adalah bagian dari perjalanan
namun harus di lakukan...
namun harus di lakukan...
Malam,,, maaf jika ini goresan terakhirku untukmu
Bukan aku tak ingin lagi , tapi rasanya sudah tak mungkin
Tintaku telah kering
Jemari ini pun telah kaku
Tak bisa kuhindari dan ingin kuberlari menemuimu.
Namun itu tak mungkin
Labirin tebal pekat kian menebal memisahkan kita.
Labirin tebal pekat kian menebal memisahkan kita.
Biarlah kubawa kisah,
terbungkus doa-doa kita, sebagai teman di penantianku.
Tetap kan kusimpan tiap huruf berbalut kenangan tentang kita dalam sajak sederhana di sudut hati yang kian nelangsa.
Selamat tinggal alam malam.....
.