Pola Penanaman Padi Sebatang ( satu bibit padi per satu lubang tanam), istilah lain dari SRI (Sistem of Rice Intensification).
Sistem Budidaya Padi yang berubah total dari metode tanam biasanya ini pertamakalinya diterapkan oleh Henri de laulanie, pastur jesuit asal perancis yang tinggal dan bermukim di madagaskar.
Pria kelahiran 22-02-1920 yang mendirikan sekolah pertanian di Antsirabe yang bertujuan untuk mendidik pemuda untuk memajukan sektor pertanian, disekolah inilah pada tahun 1983 Budidaya Padi dengan metode SRI ini ditemukan dan diterapkan.
Dengan metode penanaman padi ini, diperoleh hasil 20 ton/hektar sawah. Benar-benar suatu hasil panen yang mengejutkan.
Metode ini diperkenalkan kedunia luar dan diterapkan diberbagai negara pada tahun 1990,
di Indonesia Sistem Penanaman Padi ini mulai diperkenalkan pada tahun 1999, walau masih belum sepenuhnya berhasil dan masih banyak yang belum mengenal ataupun tidak mau menerapkan sistem ini dengan berbagai alasan.
Harus diakui, dengan Budidaya Padi dengan sistem ini memiliki beberapa keuntungan dibandingkan Budidaya dengan sistem konvensional yang biasa diterapkan diantaranya:
1. Menghemat Air,
Dengan sistem ini, selama masa tanam sawah tidak digenangi air tetapi dijaga tetap dalam kondisi macak-macak (basah tapi tidak sampai tergenang)
2. Menghemat Bibit,
Dengan sistem tanam satu bibit untuk satu lubang tanam, selain menghemat penggunaan bibit juga akan membuat pertumbuhan padi semakin lebih baik sebab tidak terjadi perebutan makanan dengan bibit lainnya ditiap lubang tanam, perakaranpun akan lebih kuat, kekar dan lebih banyak sehingga bisa menyerap nutrisi dengan baik.
Metode penanaman padi yang mensyaratkan penggunaan bibit muda (umur 7-14 hari pasca semai / baru memiliki dua helai daun) ini memang berdampak positif sebab bibit akan lebih mudah beradaptasi, tidak gampang stres karena sistem perakarannya belum panjang ( dan diwaktu penananaman pun dijaga agar akar tidak putus ataupun terlipat agar pertumbuhannya tidak terganggu), benar-benar diharapkan bisa meningkatkan hasil panen padi.
Walau harus diakui, dibalik kelebihan yang dimiliki sudah pasti ada kelemahan yang dimiliki dan kendala yang harus dihadapi
Berbekal dari hasil pemantauan dilapangan dan beberapa literatur yang dibaca, penulis mencoba menerapkan Budidaya Sistem Intensifikasi Padi ini untuk meningkatkan hasil produktifitas padi walau tidak sepenuhnya menggunakan metode ini (sebab lebih menyukai penggunaan pupuk kandang, kompos dan pupuk daun daripada menggunakan pupuk kimia yang diberikan dengan cara disebarkan pada tanah/sawah selain tidak merusak tanah juga biaya yang dikeluarkan jadi lebih murah ).
Semoga Budidaya Sistem Intensifikasi Padi ini akan meningkatkan hasil panen sebagaimana hasil yang telah diperoleh penemunya sehingga taraf perekonomian petani bisa meningkat dan kehidupan petani bisa sejahtera.
Thank's gan infonya !!!
BalasHapuswww.bisnistiket.co.id