Senin, 20 Agustus 2012

Mari Hidupkan Sunnah Nabi yang kini Kian Terasing


بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم 



Sahabat"... 

 Dahulu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam pernah mewasiatkan umatnya agar berpegang dengan kuat pada ajaran (Sunnah) Beliau. 
Namun kini umatnya lebih banyak yang meninggalkan ajarannya, meski sadar bahwa di sana telah menanti adzab yang keras dari Allah Subhanahu wa ta'ala.

Sunnah Nabi, sebuah istilah yang kerap kita mendengarnya.
 Bahkan sering pula mengucapkan karena Sunnah (petunjuk/ajaran Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam) adalah sesuatu yang menjadi landasan hidup kita sebagai penganut ajaran Islam.
Kita semua sepakat untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan Sunnah dan bersepakat pula bahwa yang merendahkannya berarti menghinakan Islam dan ajaran Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam.
Tapi jika kita menengok realita yang ada, 
apa yang dilakukan kaum muslim dalam mengagungkan Sunnah Nabi nampaknya sudah jauh dari yang semestinya. 
Bahkan keadaannya sudah sangat parah. 
Tidak tanggung-tanggung, di antara mereka ada yang menolak dengan terus-terang Sunnah yang tidak mutawatir dan mengatakan hadits ahad bukanlah hujjah (dalil) dalam masalah akidah.
Ada pula yang menolak dan mengingkari Sunnah Nabi secara total dengan berkedok mengikuti Al Qur’an saja.
Padahal Al Qur’an tidak mungkin dipisahkan dari Sunnah. 
Al Qur’an memerintahkan untuk mengambil apa saja yang datang dari Nabi/Rasul yaitu Sunnahnya.

Bentuk yang lebih parah dari ‘sekedar’ menolak adalah mengolok-olok Sunnah dan orang-orang yang mencoba berjalan di atasnya.
Ada pula yang dengan terang-terangan menolak hadits Nabi karena dinilai tidak sesuai dengan akal.
Sangat disayangkan sikap-sikap seperti ini justru sering dimiliki oleh orang-orang yang terjun ke kancah dakwah. 
Padahal lisan mereka juga mengatakan bahwa kita wajib mengagungkan Sunnah.
  
Mengagungkan Sunnah adalah perkara yang besar dan bukanlah sekedar isapan jempol.
Ia butuh bukti nyata dan harus diterapkan dalam kehidupan. 

Namun kini keadaannya justru sebaliknya, banyak orang menolaknya.

Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam telah mengisyaratkan akan datangnya keadaan ini:

“Sungguh-sungguh aku akan dapati salah seorang dari kalian bertelekan (tiduran/leyeh-leyeh) di atas dipannya, (lalu) datang kepadanya sebuah perintah dari perintahku atau larangan dari laranganku lalu dia mangatakan: ‘Saya tidak tahu itu, apa yang kami dapatkan dalam kitab Allah yang kami ikuti.’”
(Shahih HR Ahmad)


Makna Sunnah Nabi

Yang dimaksud dengan Sunnah Nabi adalah petunjuk dan jalan yang ditempuh.
 Di dalamnya mencakup perkara-perkara yang hukumnya oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam wajib maupun sunnah, 
 yang berkaitan dengan akidah maupun ibadah dan yang berkaitan dengan muamalah maupun akhlak.

Para ulama Salaf mengatakan bahwa Sunnah artinya mengamalkan Al Qur’an dan hadits serta mengikuti para pendahulu yang shalih serta ber-ittiba’ (berteladan) dengan jejak mereka.

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan As Sunnah pada asalnya adalah jalan yang ditempuh dan itu meliputi sikap berpegang teguh dengan apa yang dijalani oleh Nabi dan para khalifahnya baik keyakinan, amalan, maupun ucapan. 
Dan inilah makna As Sunnah secara sempurna. (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hadits no. 28)

Itulah yang kami maksud dalam pembahasan ini sehingga kami tidak terpaku pada istilah Sunnah menurut ahli fikih atau sunnah menurut ahli ushul fikih atau Sunnah dalam arti akidah, tetapi mencakup itu semua.

Sebagaimana tersebut dalam hadits:

“Wajib atas kalian berpegang dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa Ar Rasyidin…”
(Shahih, HR Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi)

Perintah Memuliakan Sunnah
 Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

“Dan apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka ambillah sedang apa yang beliau larang darinya maka berhentilah.” 
(QS. Al Hasyr: 7)


Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di mengatakan:

 “Perintah ini mencakup prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya baik lahir maupun batin dan bahwa yang dibawa oleh Rasul maka setiap hamba harus menerimanya dan tidak halal menyelisihinya. 
Apa saja yang disebut oleh Rasul seperti apa yang disebut oleh Allah, tidak ada alasan bagi seorangpun untuk meninggalkannya dan tidak boleh mendahulukan ucapan siapapun atas ucapan Rasul.” 


“Barangsiapa yang mentaati Rasul berarti ia mentaati Allah.” 
(QS. An Nisa’: 80)

Maksudnya, setiap orang yang taat kepada Rasul dalam perintah dan larangan berarti ia taat kepada Allah karena Nabi/Rasul tidak memerintah atau melarang kecuali dengan perintah dari Allah Subhanahu wa ta'ala. 
Ini berarti pula terlindunginya Nabi/Rasul dari kesalahan karena Allah  Subhanahu wa ta'ala memerintahkan kita untuk taat kepadanya secara mutlak. 
Kalau seandainya beliau tidak ma’shum (terjaga dari salah) pada apa yang beliau sampaikan dari Allah, tentu Allah tidak akan memerintahkan taat kepadanya secara mutlak dan tidak memujiNya. 
(Tafsir Al Karimirrahman, 189 dan Tafsir Ibnu Katsir, 2/541)

“Dan tidaklah ada pilihan bagi seorang mukmin atau mukminah jika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah perkara pada urusan mereka.” 
(QS. Al Ahzab: 36)


Ibnu Katsir mengatakan: 
“Ayat ini umum pada seluruh perkara yaitu jika Allah dan Rasul-Nya menetapkan hukum sebuah perkara maka tidak boleh bagi seorangpun untuk menyelisihinya. 
Tidak ada peluang pilihan, ide atau pendapat bagi siapapun di sini.” 

Ketiga ayat ini menunjukkan secara jelas bagaimana semestinya kita menempatkan Sunnah Nabi, yakni wajib mengambilnya dan merupakan keharusan yang tidak ada tawar-menawar lagi. Kemudian menjadikan Sunnah tersebut sebagai pedoman dalam melangkah melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. 


Hal itu karena Allah  jadikan Nabi-Nya sebagai penjelas Al Qur’an sebagaimana dalam firman-Nya:

“Dan kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” 
(QS. An-Nahl: 44) 


Selanjutnya mari sama-sama kita lihat bagaimana hadits-hadits yang memerintahkan untuk mengikuti Sunnah, di antaranya:

Dari Al Irbadh bin Sariyah ia berkata:

 “Rasulullah memberikan sebuah nasehat kepada kami dengan nasehat yang sangat mengena, hati menjadi gemetar dan matapun menderaikan air mata karenanya, 
maka kami katakan:’ Wahai Rasullullah seolah-olah ini nasehat perpisahan maka berikan wasiat kepada kami’, 
lalu beliau katakan: ‘Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak karena sesungguhnya barangsiapa yang hidup sepeninggalku ia akan melihat perbedaan yang banyak, maka wajib atas kalian bepegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah para Al Khulafa Ar Rasyidin, gigitlah dengan gigi-gigi geraham kalian dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya semua bid’ah itu sesat.” 
(Shahih, HR Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi) 


  
Hudzaifah Ibnul Yaman menceritakan,
"Para Sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam, tentang kebaikan. Sedang saya bertanya tentang keburukan, khawatir ia menimpaku, maka akupun bertanya,
"Wahai Rasulullah ! Dahulu kami berada dalam jahiliyah dan keburukan. 
Maka Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah sesudah kebaikan ini, (akan datang) keburukan?".
Beliau menjawab, "iya".
Akupun bertanya lagi, "Apakah sesudah keburukan itu, (akan datang) kebaikan?".
Beliau menjawab, "Betul, namun padanya terdapat kabut".
Aku bertanya lagi, " Apakah kabutnya itu?".
Beliau menjawab "Suatu kaum yang memberikan petunjuk bukan dengan petunjukku. Kamu mengenal mereka dan mengingkarinya."
Aku bertanya lagi, "Apakah sesudah kebaikan itu terdapat keburukan?"
Beliau menjawab, "Iya. Para pengajak pada pintu-pintu jahanam. Siapa yang menyambutnya, maka mereka akan menyampakkannya kedalamnya."
Aku bertanya , "Wahai Rasulullah, beritahukanlah sifat mereka kepada kami."
Beliau menjawab, "Mereka berwarna kulit sama dengan kita, berbicara dengan bahasa kita."
Aku bertanya lagi, "apa yang Engkau perintahkan jika aku menemui hal itu. "
Beliau menjawab, "Engkau pegang teguh jamaah kaum muslim dan imam mereka."
Aku bertanya lagi, "Jika mereka tidak memiliki jamaah dan imam?"
Beliau menjawab, "Jauhilah berbagai firqah tersebut, walapun engkau menggigit akar pohon hingga engkau meninggal dalam keadaan demikian".
(HR. Imam Bukhari)  
 kitab "Shahih Bab. Al-Fitan:6557"


Demikian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam mewasiatkan kepada para Sahabat Radhiyallaahu 'anhu beberapa wasiat penting di antaranya perintah untuk berpegang teguh dengan Sunnahnya dan Sunnah para Khulafa Ar Rasyidin. 
Bahkan beliau menyuruh untuk menggigitnya dengan gigi kita yang paling kuat. 
 Di masa sahabat saja Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam telah berwasiat demikian, lebih-lebih di zaman sepeninggal Beliau di mana kondisi masyarakat dari sisi keagamaan semakin buruk dengan munculnya berbagai perselisihan dan bid’ah pada perkara-perkara yang prinsipil. 

Diriwayatkan, 
pernah datang beberapa orang kepada istri Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam dan menanyakan amalan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam di saat sendirian. 
Setelah mendengar jawabannya merekapun menganggap diri mereka sangat jauh dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah sehingga masing-masing menetapkan azamnya.
Salah satu dari mereka berkata: “Saya tidak akan menikahi wanita.” 
Yang lain mengatakan: “Saya tidak akan makan daging,” 
dan yang lain mengatakan: “Saya tidak akan tidur di kasur.”
Sampailah berita itu kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam, maka Beliaupun berpidato dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya lantas berkata:

“Mengapa ada orang–orang yang mengatakan demikian dan demikian, (padahal) saya bangun shalat malam dan saya juga tidur, saya puasa dan saya terkadang tidak berpuasa, dan saya juga menikahi wanita. 
Maka barangsiapa yang tidak suka dengan Sunnahku, dia bukan dari golonganku.” 
(Shahih, HR Muslim, 9/179) 

Coba kita amati kisah ini. 
Beberapa Sahabat datang dengan maksud baik, lalu mereka berazam (berkeinginan kuat) untuk meninggalkan beberapa kenikmatan dengan tujuan memperbanyak ibadah sehingga bisa mendekati amalan Nabi. 
Namun pada niatan itu mengakibatkan ditinggalkannya beberapa Sunnah, petunjuk dan jalan Nabi yaitu menikah, memberikan hak jasmani dengan tidak puasa setiap hari dan tidak bangun sepanjang malam walaupun untuk ibadah.

Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam menganggap hal itu tidak baik sehingga mengatakan: 
“Barangsiapa yang benci terhadap Sunnahku maka bukan dari golonganku.” 

Sekedar niat baik saja tidak cukup bila tanpa disertai cara yang baik pula. 
Kalau keadaan mereka saja seperti ini lalu bagaimana dengan yang sengaja meninggalkan Sunnah Nabi dengan niat jelek? 
Lalu bagaimana lagi yang menghina Sunnah Nabi atau bahkan mengingkarinya?

Demikian ayat dan hadits mendudukkan Sunnah Nabi yaitu pada tinggkat yang sangat tinggi. 
Oleh karenanya kita dapati para Sahabat Radhiyallaahu 'anhu benar-benar menghargai dan menjadikannya sebagai panutan hidup bahkan sangat takut jikalau mereka menyelisihi Sunnah sehingga menyebabkan sesatnya mereka dari jalan yang lurus.

Kita dapati Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiiyallaahu 'anhu mengatakan
“Saya tidak meninggalkan sesuatu yang Rasulullah melakukannya kecuali aku pasti melakukannya juga dan saya takut jika saya tinggalkan sesuatu darinya lalu saya sesat.” 


Duhai sahabat-sahabatku…
Orang yang paling jujur (Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu) saja khawatir terhadap dirinya untuk tersesat jika menyelisihi sesuatu dari jalan Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam.
Maka bagaimana jadinya dengan sebuah zaman yang penduduknya mengolok-olok Nabi/Rasul mereka dan perintah-perintahNya bahkan berbangga dengan menyelisihi dan mengolok-olokNya???

Kami memohon kepada Allah perlindungan dari perbuatan salah dan memohon keselamatan dari amal yang jelek. Demikian dikatakan oleh Ibnu Baththah, seorang ulama akidah yang hidup pada abad keempat hijriyah dalam kitab Al Ibanah,1/246, dan Ta’dhimus Sunnah, 24.


 Lalu bagaimana jika beliau hidup di jaman kita?
Apa yang kira-kira akan beliau katakan?

Seorang tabi’in bernama Abu Qilabah mengatakan:  
“Jika kamu ajak bicara seseorang dengan Sunnah lalu dia mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari ini dan datangkan Kitabullah.’ Maka ketahuilah bahwa dia sesat.”

Demikian pula yang enggan menerima Sunnah Nabi karena lebih cenderung kepada pendapat seseorang maka dia berada dalam bahaya besar. 


Seperti dikatakan Abdullah bin Abas Radhiyallaahu 'Anhu ketika datang kepadanya seseorang yang yang seolah-olah mengadu Sunnah Nabi dengan pendapat Abu Bakar Radhiyallaahu 'Anhu dan Umar Radhiyallahu 'Anhu maka Abdulllah bin Abbas Radhiyallahu 'Anhu mengatakan: 
“Hampir-hampir turun kepada kalian bebatuan dari langit, aku katakan Rasullullah berkata demikian dan kalian katakan berkata Abu Bakar dan Umar demikian?!” 
(Shahih, riwayat Al Bukhari)  

Maka sangat mengherankan kalau seseorang tahu Sunnah lalu meninggalkannya dan mengambil pendapat yang lain sebagaimana dialami oleh Imam Ahmad: 
 “Saya merasa heran dari sebuah kaum yang tahu sanad hadits dan keshahihannya lalu pergi kepada pendapat Sufyan (maksudnya Sufyan Ats Tsauri-pen) 
padahal Allah berfirman: 
Maka hendaklah berhati-hati orang yang menyelisihi perintah Rasul-Nya untuk tertimpa fitnah atau tertimpa adzab yang pedih
(QS. An-Nur: 63). 
Tahukah kalian apa arti fitnah? Fitnah adalah syirik.” 

Demikian pula suatu saat Imam Syafi’i ditanya tentang sebuah masalah maka beliau mengatakan bahwa dalam masalah ini diriwayatkan demikian dan demikian dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam. 
Maka si penanya mengatakan: 
“Wahai Imam Syafi’i, apakah engkau berpendapat sesuai dengan hadits itu?” 
Maka beliau langsung gemetar lalu mengatakan: 
“Wahai, bumi mana yang akan membawaku dan langit mana yang akan menaungiku, jika aku riwayatkan hadits dari Nabi kemudian aku tidak memakainya?! Tentu, hadits itu di atas pendengaran dan penglihatanku.” .

Dalam kesempatan lain beliau ditanya dengan pertanyaan yang mirip lalu beliau gemetar dan menjawab: 
“Apakah engkau melihat aku seorang Nasrani? 
Apakah kau melihat aku keluar dari gereja? 
Ataukah engkau melihat aku memakai ikat di tengah badanku (yang biasa orang Nasrani memakainya-pen)? 
Saya meriwayatkan hadits dari Nabi lalu saya tidak mengambilnya sebagai pendapat saya?!”  

Demikian tinggi nilai Sunnah Nabi dalam dada mereka sehingga rasanya sangat mustahil mereka meninggalkannya. 
Bahkan tidak terbayang ada seorang muslim yang berani meninggalkan Sunnah Nabi yang telah diketahui. 


Pahala bagi Orang yang Berpegang dengan Sunnah Nabi
 Karena pentingnya mengagungkan Sunnah Nabi sekaligus beratnya tantangan bagi yang mengagungkannya maka Allah Subhanahu wa ta'ala sediakan pahala yang besar bagi mereka yang berpegang teguh dengannya dan menjunjungnya tinggi-tinggi.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari kesabaran, kesabaran di hari itu seperti menggenggam bara api, bagi yang beramal (dengan Sunnah Nabi) pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh.” 
Seseorang bertanya: “Limapuluh dari mereka wahai Rasulullah?” 
Rasulullah menjawab: “Pahala limapuluh dari kalian.” 
(Shahih, HR Abu Dawud) 

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Islam berawal dengan keasingan dan akan kembali kepada keasingan sebagaimana awalnya maka maka bergembiralah bagi orang-orang yang asing.” 
Rasulullah ditanya: “Siapa mereka wahai Rasulullah?” 
Jawab beliau: “Yaitu yang melakukan perbaikan ketika manusia rusak.” 
(Shahih HR Abu Amr Ad Dani dari sahabat Ibnu Mas’ud, lihat Silsilah Ash Shahihah no. 1273) 

Demikian pula Allah Subhanahu wa ta'ala menjamin hidayah bagi orang-orang yang mengikuti Nabi dalam firman-Nya:

“Dan jika kalian mentaatinya niscaya kalian akan mendapatkan Hidayah.” 
(QS. An-Nur: 54) 

Hidayah untuk menempuh jalan yang lurus baik dengan ucapan atau perbuatan, di mana tidak ada jalan menuju kepada Hidayah kecuali dengan taat kepada Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam. Adapun tanpa itu maka tidak mungkin, bahkan mustahil .

Hadits Nabi yang semakna dengan ayat tersebut:

“Sesungguhnya setiap amalan itu ada masa giatnya dan setiap giat itu ada masa jenuhnya maka barangsiapa yang jenuhnya itu kepada SunnahKu berarti ia mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang masa jenuhnya itu kepada selainNya maka ia binasa.” 
(Shahih, Al Baihaqi)  

Selama seseorang berada di atas Sunnah Nabi maka dia tetap berada di atas istiqamah. 
Sebaliknya, jika tidak demikian berarti ia telah melenceng dari jalan yang lurus sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Umar: 
“Manusia tetap berada di atas jalan yang lurus selama mereka mengikuti jejak Nabi.” 
( Riwayat Al Baihaq).

‘Urwah mengatakan:
 “Mengikuti Sunnah-Sunnah Nabi adalah tonggak penegak agama.” 
(Riwayat Al Baihaqi)

Seorang tabi’in bernama Ibnu Sirin mengatakan: 
 “Dahulu mereka mengatakan: selama seseorang berada di atas jejak Nabi maka dia berada di atas jalan yang lurus.” 
(Riwayat Al Baihaqi)

Semoga Allah  Subhanahu wa ta'ala melimpahkan Rahmat Hidayah dan MaghfirahNya pada kita semua, meningkatkan kemampuan diri kita baik lahir maupun bathin sehingga dapat menjadi amal kebaikan pada diri kita.
dan semoga Allah Subhanahu wa ta'ala meridhoi segala niat serta usaha  kita dalam upaya perbaikan diri dalam menunaikan segala perintahNya.

taqabbalallaahu minna wa minkum taqabbal yaa kariim

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kebaikan kita bersama.
Aamiin...

Minggu, 19 Agustus 2012

Renungan untuk Kita

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم





Suatu ketika, seorang pemuda datang kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dan berkata, "izinkan saya melakukan zina!"
Mendengar perkataan itu, para Sahabat Radhiyallahu anhu sangat marah,
tetapi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,  "kemarilah ! 
Sukakah kamu apabila ada oranglain berzina dengan ibumu?"

"tidak" jawab pemuda itu tegas

Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, bersabda,
 "demikian juga oranglain, tidak mau ibunya dizinahi. 
Sukakah kamu jika oranglain berzina dengan saudara perempuanmu?"
"tidak" jawab pemuda itu lagi
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
"oranglain juga tidakmau saudara perempuannya dizinahi. 
Sukakah kamu jika oranglain berzina dengan anak perempuanmu?"
"tidak"jawab pemuda itu lagi
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,
 "oranglain pun tidakmau anak perempuannya dizinahi."
Kemudian Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam meletakkan tangan beliau diatas dada pemuda itu dan berdo'a, "ya ALLAH, Sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya dan lindungilah dia dari zina......"
¤¤¤¤¤

Sahabat"...

Sudah keharusan bagi kita untuk mengingatkan orang yang telah melakukan kesalahan, tapi hendaknya jangan sekali-kali kita mengabaikan etika dan adab yang baik.
Tidak ada manusia yang tidak berdosa. 
Namun belajar dari kesalahan dan mencontoh dari apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam, maka yang terpenting adalah bagaimana kita memperbaiki kesalahan kita dengan sebuah aksi nyata, tanpa harus berhenti hanya sekedar pada rasa menyesal saja. 
Manusia memanglah tempatnya salah dan lupa. 
Namun ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala tetap tiada henti menjadi yang Maha Pengasih dan Pemaaf. 
 
Sahabat"...
Ada kalanya syetan menguasai hati dan pikiran seseorang maupun golongan,
syetan berusaha menguasai tiap pribadi kita,
menginginkan agar kita menjadi tuli dan buta dari kebenaran. Syetan selalu mencari celah agar maksudnya tercapai
agar kita jauh dari kebenaran dan selalu berpijak berjalan dijalan dosa dan kemaksiatan.
Terkadang,, nafsu syahwat dan keegoisan kita ikut membantu memudahkan syetan dalam mencapai tujuannya tersebut.

Ya ALLAH...
jauhkanlah diri kami dari segala tipudaya bujuk rayu syetan yang terkutuk
dan selamatkan kami dari segala kejahatan yang diakibatkan kebodohan diri kami sendiri.  
Sahabat"...
Ada beberapa faktor yang menghambat Hidayah diantaranya,
-Tersumbatnya hati dari kebenaran,
-Larinya (sesatnya) beberapa kelompok dari kemurnian ajaran Agama (TAUHID).
-Status sosial yang terkadang membuat seseorang enggan berkumpul dan berbagi dengan  orang-orang yang status sosialnya lebih rendah, karena ia merasa hanya akan menurunkan reputasinya saja.

"Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, (yaitu) ketika segala perkara telah diputuskan. Dan mereka dalam kelalaian dan mereka tidak (pula) beriman." (QS. Maryam:39)

Semoga ALLAH Subhana wa ta'ala senantiasa melimpahkan Rahmat Hidayah dan MaghfirahNYA pada kita semua agar kita selalu berpijak pada kebenaran
dan tetap berjalan dijalan yang telah digariskanNYA,


Sahabat"...
Setelah kehidupan didunia fana ini lenyap dan berganti dengan alam akhirat.
Saat dimana kita tak perlu lagi mengingat kematian yang selalu membayangi kehidupan kita kemana saja disetiap waktu.  Hanya didunia fana ini kematian mengiringi langkah kita, dan diakhirat kelak takkan ada lagi kematian.
Diakhirat kelak hanya keabadian yang akan kita alami dan nikmati.

Sahabat"...
Dapat kita bayangkan bagaimana hari-hari yang akan kita nikmati dan lalui dialam akhirat kelak, dimana para penghuni surga akan selalu tersenyum berbahagia karena bekal yang telah dipersiapkannya semasa didunia telah mengantarkannya kesurga.
Sementara para penghuni neraka akan meratap pedih sambil berharap kematian datang kembali pada mereka agar siksa derita yang mereka nikmati segera berakhir.
Janji ALLAH akan datangnya masa dimana kematian akan mendatangi setiap yang bernyawa didunia ini adalah bukti nyata yang tak terbantah dan tak ada yang bisa mengingkari dan mencegah kematian datang menjemputnya untuk melanjutkan perjalanan dikehidupan selanjutnya.
Peringatan demi peringatan akan datangnya saat kematian dan adanya kehidupan sesudah kematian pun telah sering bahkan telah akrab kita dengarkan.
Tapi...
Sudahkah kita semua mempersiapkan diri sebelum waktu kematian itu tiba pada giliran kita???
Saat ladang amal telah ditutup, nikmatnya hidup menjalani hari didunia berakhir.
Semoga saja perjalanan kehidupan kita kelak akan kita nikmati dengan senyum dan kebahagiaan tanpa bayang-bayang ketakutan akan derita dan kematian lagi.
Semoga saja tidak menjadi penyesalan diatas penyesalan karena telah menelantarkan ladang amal yang merupakan bekal kita untuk melanjutkan perjalanan dikehidupan setelah merasakan kematian yang hanya akan kita rasakan sekali saja dalam kehidupan kita.

Semoga ALLAH senantiasa melimpahkan Rahmat dan HidayahNYA pada kita semua.
 
Dari Abdullah Ibnu Umar Radiallaahu 'anhuma berkata, Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, "sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana berkaratnya besi bila terkena air."
Seorang Sahabat bertanya, " yaa Rasulullah, bagaimana cara membersihkannya?"
Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, "Perbanyaklah mengingat maut dan membaca Al-Qur'an."
(HR. Baihaqi)


 
Sahabat"...
Banyak melakukan dosa dan lalai dari mengingat ALLAH menyebabkan hati menjadi berkarat sebagaimana besi yang berkarat bila terkena air.
Hati itu bagaikan cermin, semakin dibersihkan maka hati akan semakin memancarkan cahaya ma'rifatullah.
Sebaliknya, semakin lama kita mengikuti hawa nafsu dan perbuatan-perbuatan jahat akibat terpedaya bujuk rayu jerat syetan, maka akan semakin jauh dari mengenal ALLAH.

"jika seseorang melakukan satu dosa, maka satu titik hitam akan melekat dihatinya, tapi jika ia bertaubat dengan sebenar-benarnya, maka titik hitam itu akan hilang. Tetapi jika ia melakukan dosa yang kedua, titik hitam yang kedua akan melekat dan jika ia terus menerus melakukan dosa, maka titik hitam itu akan semakin banyak sehingga hati menjadi hitam seluruhnya. Kalau sudah demikian kondisi hati, maka ia akan sulit untuk menuju pada kebaikan, bahkan akan selalu mengarah kepada kemaksiatan."




Semoga ALLAH menjaga dan Memelihara kita dari hal yang demikian.


"Saya meninggalkan dua nasehat kepadamu sekalian, satu yang berbicara dan satu lagi yang diam.
Yang berbicara adalah Al-Qur'an yang mulia dan yang diam adalah mengingat maut."
Bagi orang yang memahami pentingnya nasehat dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam ini, maka ia akan menerima dan berusaha mengikuti/mengamalkan nasehat ini.
Sebaliknya, bagi orang-orang yang beranggapan bahwa Agama tidak berguna dan hanya akan menjadi penghalang bagi kemajuan dan kenikmatan duniawi, tentu ia akan mengabaikan dan tidak memiliki keinginan untuk menuruti nasehat tersebut.


Semoga ALLAH Subhana wa ta'ala senantiasa melimpahkan Rahmat Hidayah dan MaghfirahNYA pada kita semua agar kita selalu berpijak pada kebenaran
dan tetap berjalan dijalan yang telah digariskanNYA,




Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, "tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sehingga ia akan ditanya mengenai empat perkara;
Tentang umurnya, untuk apa dia habiskan?
Tentang masa mudanya, untuk apa dia gunakan?
Tentang hartanya, darimana dia dapatkan dan kemana dia belanjakan?
Dan Tentang ilmunya, apakah dia telah mengamalkannya?"
(HR. al Bazzar dan Thabrani)


Abu Darda Radhiyallaahu 'anhu salah seorang sahabat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam berkata, 
"yang paling saya takuti ialah pertanyaan yang akan dikemukakan kepada saya pada hari kiamat didepan seluruh manusia, yaitu "apakah kamu telah mengamalkan ilmu-ilmu yang kamu miliki?".

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Sallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, 
"Ilmu itu ada dua macam;
pertama, Ilmu yang hanya ada dalam ucapan, dan ini dibenci oleh ALLAH
kedua, Ilmu yang keluar dari dalam hati dan memberikan manfaat."

maksudnya adalah,
 Janganlah seorang Islam mencari Ilmu agama hanya untuk keperluan lahiriyah saja, tetapi hendaknya juga menyangkut masalah batiniyah.
Ilmu yang menyangkut masalah batiniyah akan membersihkan hati dan menerangi pikiran.
Tanpa Ilmu kita akan sulit untuk mengamalkan Pengetahuan yang kita miliki,
semoga kita semua dapat memperbaiki diri baik lahir maupun bathin dengan mengamalkan Ilmu Pengetahuan yang telah kita pelajari dan miliki sebelum mengajarkannya kepada oranglain. Agar kita bisa menjawab dan terlepas dari tuntutan ketika pada hari kiamat kita ditanya, "apakah kamu telah mengamalkan ilmu yang kamu miliki?"



Sahabat"....

Semoga ALLAH Subhana wa ta'ala melimpahkan Rahmat HidayahNYA pada kita semua, meningkatkan kemampuan diri kita baik lahir maupun bathin sehingga dapat mengamalkan Ilmu yang kita miliki dan mengajarkannya pada yang lain sehingga Ilmu yang diamalkan dan diajarkan menjadi amal kebaikan pada diri kita.


 

Ya Allah 

Ya Rahmaan

Ya Rahiim
Ya Wajhu Dzul Jalaali walikraam
Ridhoilah segala usaha-usaha kami dalam perbaikan diri dalam menunaikan semua perintah MU

  

أشهد أن لا اله الا الله وأشهد ان محمد رسول الله 


 
Taqabbalallaahu minkum minna wa minkum taqabbal yaa kariim



    Semoga Bermanfaat...

Jumat, 17 Agustus 2012

Dimana...

Malam,,,,,
Ricik kecemasan kembali hampiri jasad yang kian lelah
Gelisah akan sesuatu yang tiada pasti
resah dalam gontai langkah yang kian tiada terarah
Aaarrrrghh
semua membisu
semua kian samar
semua kian menjauh
benarkah???
ataukah ini semua hanya ilusi belaka???
namun.....
goresan luka lama itu kian perih terasa
Akankah kelana kan kembali arungi dingin kelamnya malam dalam maya???
Ataukah kembali dalam nyatanya hangat dekapan sunyi bak pertapa???
Hmm,,,,,
Dimanakah dia dan DIA berada?????
Adakah dia mengerti segala rasa yang kini kian sesakkan sukma???
Hanya DIA yang kupunya
Hanya DIA yang ada
Ahh,,,,,
Andai dia tahu bahwa akupun membutuhkannya
Andaikan dia tahu bahwa ku tiada lelah mencarinya
walau aku pun tiada tahu dimana dia berada
meski langkah ini kian gontai dan mulai kehilangan arah
mencari dan tetap kan ku cari dimana dia berada
karena,,,,,
kubutuh dia sebagaimana aku membutuhkan DIA yang selalu ada dimana diri ini berada
...............