Sahabat"...
Asli dan palsu memang tak pernah sama,
Keduanya terpisah oleh yang namanya "pembuktian"
Hanya yang asli yang mempunyai nilai tinggi.
Namun, ketika dinding pemisah itu menipis, maka keduanya pun bagai tak lagi berbeda.
Bisa jadi yang kita anggap asli sudah terkontaminasi kepalsuan.
Siapapun bisa saja terpedaya.
Siapapun akan terkecoh akan asli palsunya sesuatu yang dimilikinya jika tak mampu membuktikan dan merawat keaslian dari sesuatu tersebut.
Begitupun dengan keIkhlasan yang kita miliki.
Aslikah keIkhlasan, ketika diri masih menggugatNYA, merasa ketidak adilan atas musibah yang menimpa ?
Aslikah keIkhlasan, ketika diri masih saja berkeluh kesah atas segala permasalahan yang ada ?
Aslikah keIkhlasan, ketika diri masih disibukkan dengan urusan duniawi sehingga lalai bahkan lupa untuk beribadah PadaNYA ?
Aslikah keIkhlasan, ketika diri mempersekutukanNYA dengan yang lain, hanya untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan hidup didunia ini ?
Aslikah keIkhlasan, ketika diri masih saja merasa bangga atas segala harta, kedudukan dan pujian yang diterima ?
Aslikah keIkhlasan, ketika diri masih saja marah atas hinaan yang menerpa ?
Masih Aslikah keIkhlasan, ketika diri masih saja merasa berat menyisihkan dan mengeluarkan sebagian kecil dari harta yang ada untuk berzakat dan sedekah ???
Masih Aslikah keIkhlasan, saat diri masih saja menyia-nyiakan waktu / masa yang ada, saat-saat yang dihabiskan hanya untuk segala urusan duniawi semata ???
#Renungan Diri
"Pikiran itu Pelita Hati,
jika pelita itu padam, maka tidak ada penerangan bagi hati.
Hati yang tidak pernah ataupun tidak suka merenungkan Kebesaran ALLAH Subhanahu wa ta'ala, maka hati itu akan gelap diselimuti kebodohan dan tipudaya."