Jumat, 25 Januari 2013

Goresan 12

kembali kutelusuri kelamnya alam
embun selimut diri
diremang cahaya surya
diantara segar mewangi mawar merona
menatap lazuardi jingga
terasa sinisnya alam dan burungpun seolah riuh menghina kala gontai langkah mulai hilang arah
bersiur bayu menerpa pecah diwajah
tersekat ku dalam labirin pekat tebalnya kabut
menghitung jauh jarak yang tiada lagi terukur
lewati hari
menanti sesuatu yang pasti kan terjadi

kini...
dalam bimbang diantara keresahan
bak ombak lautan menerjang ganas
runtuhkan keangkuhan tegar karang tiada henti
disini...
berlindung dalam gubuk tua
tinggalkan sgala kamus rumus dan angka
berbekal lapar dahaga
bertorehkan nestapa
coba hapus duka lara
mencari arti kendali diri
menembus belukar dalam bias remang diufuk mega
sebelum malam habisi rapuhnya raga
serpihan debu yang kecewa
menghiba pada hampa
berbekal lapar dahaga
bersandar pada tangisan jiwa
mencoba berkata namun lisan tercekat disarang laba-laba
kalimat berhamburan tak tentu arah makna
bertebaran entah kemana
terangkai aksara pada tirta
seolah..
pekik sorak raib dalam gemuruh halilintar
tenggelam dalam lautan
terseret arus ganasnya kehidupan

dalam keremangan senja
coba merangkai aksara pada angkasa
tancapkan rindu dilangit jingga
berlindung dibawah kusamnya peradaban yang makin menggila

serpihan debu singgahi bola mata
hadirkan perih pedih urai airmata
panas dingin peluh terasa
tergopoh menghambur basuh wajah
coba lepaskan perih kepedihan benamkan wajah
nikmati aroma busuk anyirnya telaga

terlena dilembah masa tak bertuan
tergilas zaman maju dalam kemunduran peradaban
sesaat
ku tertawa terbahak
saksikan wajah berkubang lelehan nanah
tercekat mual diterpa busuknya aroma anyir nanah dan darah pada telaga

perlahan..
raga seolah terlempar
sukma bagai terkapar
samar terdengar jeritan di qalbu
perlahan
menghimpit rona
hadirkan pilu resah kan kerinduan kerlip cahaya dikegelapan masa
terjerembab
tak kuasa lagi kaki menopang raga
rebah tersujud
tersadar
tumpukan dosa yang tlah menggunung
teringat maut bagai serpihan debu yang tengah hampiri pelupuk mata

kini..
coba lepaskan pasungan jiwa
walau letih gelayuti diri
tiadakan henti meniti tali
takkan jeda walau tertatih menembus belukar nista dalam nanar menggapai bias cahaya nun disana
sebelum usai kisah dalam fana

Disini...
Terlontar tantangan pada badai yang datang olengkan sampan yang kutompang
terucap satu kepastian walau bimbang meradang
ditengah lautan dikelilingi badai yang tiada berperasaan
sungguh...!
telah terlontar tantangan
tiada kan terucap sepatahpun kata kekalahan

hai badai... !!!
pertarungan belumlah usai
dashyat mu tiadakan surutkan asacita dijiwaraga
pertarungan tiada kan selesai
hingga biduk hancur berkeping
diri tenggelam dalam ganasnya ombak lautan
atau... berlabuh ditepian dalam mulia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar